Klaim bahwa short video bisa mengubah struktur otak sehingga membuat scrolling jadi tidak terkendali dan menurunkan kemampuan kognitif serta kontrol diri itu agak berlebihan kalau kita lihat bukti ilmiah secara keseluruhan. Sampel serta efek dari penelitian di lab eksperimen biasanya kecil dan rawan menghasilkan efek yang dibesar-besarkan.
Studi MRI yang dicantumkan dr. Adam menarik, tapi desain penelitiannya bersifat cross-sectional, yang artinya cuma nunjukin korelasi sesaat, bukan hubungan sebab-akibat (kausalitas). Logikanya sama dengan perdebatan klasik tentang kesehatan mental remaja: Apakah remaja menjadi depresi karena media sosial, atau remaja yang memang sedang depresi yang aktif mencari pelarian di media sosial?
Bisa jadi, orang yang memang sudah sensitif sama reward instan lebih cenderung konsumsi short video berlebih, bukan video yang 'mengubah' otak mereka jadi tak terkendali.
Btw, masih inget riset yang dari Microsoft yang bilang rentang waktu atensi manusia semakin menyusut sehingga level atensinya sama kayak ikan emas? THAT'S 100% BULLSHIT❌ (fight me or dig deeper into the research if you want).
Masalah utamanya itu adalah mekanisme unlimited swiping + tanpa filter/intensi yang jelas. Bukan karena durasi atau konten yang dilihat.
Manusia tetap punya kemampuan memilih secara sadar apa yang dikonsumsi. Perubahan otak akibat kebiasaan bukan berarti hilangnya kontrol total atau “brain rot” permanen. Bukti-bukti bahwa narasi ekstrem soal short video menghancurkan durasi atensi sering overstated udah mulai bermunculan, sementara dampak nyatanya lebih bernuansa dan sangat bergantung pada seberapa sadar kita mengatur waktu serta kebiasaan sendiri.
Sumber: https://t.co/6etjKT5LQ9
N.B. Saya juga setuju bahwa konsumsi short video berlebihan memang perlu diwaspadai👍
Gue berusaha mengurangi menonton short video setelah tahu akibatnya bisa mengubah struktur otak.
Jadi ada penelitian tahun 2025 yang melakukan MRI otak pada 111 mahasiswa untuk dilihat hubungan antara sering menonton short video dengan volume gray matter otak.
Hasilnya menunjukkan orang yang rutin menonton short video ternyata memiliki area otak yang lebih sensitif terhadap instant gratification. Penelitian ini menyebutkan bahwa perubahan struktur otak tersebut bisa semakin membuat scrolling video menjadi tidak terkendali.
Penelitian lain menunjukkan bahwa rutin menonton short video berhubungan dengan penurunan kemampuan kognitif serta penurunan kemampuan untuk mengontrol diri sendiri.
Sumber:
Neuroanatomical and functional substrates of the short video addiction and its association with brain transcriptomic and cellular architecture
Agnez Mo joins the voice cast of the upcoming animated musical film ‘GROOVE TAILS,’ alongside Ansel Elgort, Halle Bailey, Ludacris, and Alan Ritchson.
(https://t.co/vgbVvlvD8M)
Perjalanan karier internasional Messi juga mirip² sama CR7 (kecuali sekarang). 2006-2010 pemain²nya bagus² kayak Zanetti, Veron, Riquelme, Ayala, dkk. Tapi banyak dari mereka yang udah di ujung masa kariernya.
2010-2018, pemain Argentina yang ngetop selain Messi cuma ada Aguero, Higuain & Di Maria. Sisanya hadeeeh--jomplang bener depan sama tengah & belakangnya. Walaupun gitu, keren sih bisa masuk final WC 2014.
2018-sekarang inilah yang mulai keliatan progressnya. Rebuild dengan pelatih dan pemain-pemain barunya yang udah bagus-bagus. Tapi justru, menurut gua malah pemain Argentina yang paling top masih Messi dan dia malah yang jadi masih jadi tumpuan permainan dan ngegendong Argentina sampe sekarang. Sampe terakhir doi nyetak hattrick. Pernah ga tuh sebelumnya lu liat pemain tuwir nyetak hattrick di WC😂
Ini mah kisah lama yang udah sering terjadi.
Facebook --> Meta + ganti logo (dihujat)
Twitter --> X + ganti logo (dihujat)
Instagram --> ganti logo (dihujat)
Gua dulu juga suka gitu, setiap ada brand yang gua suka dan sering gua pakai, terus tiba-tiba mereka ganti logonya, gua inget betul reaksi gua hampir selalu sama: “Aneh banget yang baru ini, yang lama jauh lebih enak diliat.” Dulu, gua selalu merasa logo lama lebih “pas” dan lebih memorable.
Tapi semakin sering gua mengamati pola ini, gua mulai sadar bahwa gua gak lagi bisa menilai secara naif mana yang “lebih bagus”. Ini bukan sekedar soal estetika atau manjain mata semata. Gua mulai memahami mengapa banyak orang--temasuk diri gua sendiri dulu--cenderung bereaksi negatif terhadap perubahan. Yaa karena perubahan itu memang gak nyaman, apalagi pas di awal-awal.
Toh ketika logo diubah sebenarnya yang berubah itu bukan logonya doang, tapi visi misi brand bahkan kadang sampe jajaran-jajaran pengurus brandnya.
Contoh deh, kita ambil kasusnya X:
Dulu:
- Disebut Twitter dengan logo burung.
- Orang bisa berkicau (yapping) dengan tweet 160 karakternya..
- Artis-artis terkenal jaman dulu otomatis dapet centang biru.
- Co-foundernya, Jack Dorsey didewa-dewain.
Eh Elon masuk, otomatis semuanya kena rombak dong. Staff-staff Twitter sampe pengguna-pengguna Twitter ngeluh karena adanya perubahan yang mereka khawatirkan ini. Tapi perubahannya:
Sekarang:
- Centang biru bisa buat siapa aja yang berkenan
- Bisa bikin artikel, podcast, live streaming
- Bisa monetisasi
- Diasosiasikan sebagai platformnya "orang pinter"
- Ganti nama brand jadi X
Lambat laun, yang tadinya terasa aneh jadi biasa kan. Alhasil, X pun jadi ide dan bagian dari identitas baru yang kita terima.
Jadiii, sama seperti dalam kehidupan, perubahan sering kali bikin nggak nyaman, namun itu juga yang buat kita terus bergerak maju meski kadang langkahnya terasa mundur sesaat.⏩🫶⏩🫶⏩