kalian udah tau blom?
Sertu Riza Pahlevi yg menewaskan MHS (15) hanya divonis 10 bln penjara & tidak dipecat dari TNI
ibu korban, Lenny Damanik menangis histeris & minta keadilan untuk anaknya
selain penjara, Riza cuma diminta bayar uang ganti rugi Rp 12,7 jt ke ibu korban
Walau capaian individu dua tahun terakhir ini masih bikin aduh, sejujurnya komposisi tim Indonesia di Thomas Cup 2026 terlihat menjanjikan. Lebih merata daripada negara-negara kuat lain seperti China, Malaysia, Jepang, Taiwan, atau India.
Terlebih, di antara semua nama atlet2 putra saat ini, praktis hanya Kim/Seo yang levelnya tidak terkalahkan dengan konsistensi stabil. Yang lainnya tidak terlalu menonjol secara individu, bahkan nama2 yang secara rank terbilang tinggi.
Maka, selama pemain-pemain Indonesia bisa tampil dengan "normal" alias ga kelabakan menghadapi lawan yang di atas kertas bisa dikalahkan, peluang untuk meraih gelar ke-15 cukup besar.
Tunggal putra yang secara default akan mempertandingkan 3 nama bakal jadi tumpuan di sini, tetapi ganda juga perlu perform. Jaga-jaga kalau Jonatan dkk lagi ngablu, sektor inilah yang bisa perpanjang nafas ke depannya.
Yang juga ga kalah penting: Strategi, mental, dan momentum.
Mudah-mudahan edisi kali ini berpihak untuk Indonesia. Cukup untuk jadi pelepas dahaga di tengah tahun-tahun world tour yang cenderung biasa aja 🙏🙏🙏
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
, halo min, mau ceritaa
kesel banget rasanya....
ini aku yg gatau atau emg sebenernya Indomart itu memang dipungut biaya parkir ya?
jadi gini min, barusan aku mampir di Indomart godean daerah klajuran. aku mampir disana gara gara skalian beli nasi padang disebelahnya min. ga sampe 5 menit juga beli di Indomartnya.
disana emang dari awal udah di jaga tukang parkir 2 orang, sampe akhirnya motorku udah dibelokin dan aku keluar dari pintu udah langsung disamperin mas masnya
posisinya aku bayar pake debit dan aku bawa uang 100an aja, aku bilang ke mas nya "maaf mas, saya ga bawa cash" ditanya lagi "gimana mbak?", trs aku jawab lagi "saya ga bawa cash yang kecil mas", sampe akhirnya masnya bilang ke masnya satu lagi (mungkin ngasih tau kalo aku ga bawa uang kecil)
itu trs masnya sperti ga terima, kaliatan dari mukanya juga dan tetep minta uang juga bilang dia ada kembalian
akhirnya saya jalan nengok kanan kiri nyebrang dan tetep keliatan masnya ga terima.
bukanya pelit cuma perkara 2000 doang, tp skrng dimana mana Indomart sllu ada kang parkir. kadang kita yg cuma pengen beli mie aja ga sampe 3 menit udah diputer motornya diminta uangnya
bahkan smpe aku lewat sepanjang jalan banyak juga Indomart yg smpe dijaga 2-3 orang gitu..
emg bukan masalah gede min, tp aku yakin pasti ada yg pernah ngerasain hal kaya aku, dan ga nyaman bgt
-Thread: Badminton Dirampok-
Indonesia itu raksasa badminton dunia. Sejak Thomas Cup 1958, era R Hartono (8× All England 1968–76), lalu S Susanti & A Budikusuma emas Olimpiade 1992, hingga T Hidayat, Tontowi/Liliyana 2016, olahraga ini dibangun oleh rakyat, ditonton sejak 1960an
"Rungokno ya...!!!
Ora kabeh wong kerja kuwi kanggo nabung, ana sing kerja mung cukup kanggo mbayar utang, ana sing kerja mung cukup kanggo mangan sepisan, malah ana sing kerja ora cukup kanggo nyukupi kabutuhan.
Dadi, aja pisan-pisan ngomong 'kerja pirang-pirang taun tapi ora duwe apa-apa'. Eling, kabutuhan lan rekasané saben wong kuwi beda-beda, aja dibandhing-bandhingke."
Latar belakang:
Era 2012-2016:
Momen Tontowi/Liliyana jadi tulang punggung Indonesia di All England. Hattrick gelar dari 2012-2014.
Ada juga Ahsan/Hendra yang menang All England 2014 dan Praveen/Debby yang juara di 2016.
Era 2017-2020:
Kemunculan Kevin/Marcus lewat dua gelar beruntun. Ahsan/Hendra menang All England lagi di 2019 dan disusul Praveen/Melati yang jadi juara di 2020.
Era 2021-2024:
Nomor ganda putra jadi andalan dan bahkan menciptakan All Indonesian Final. Bagas/Fikri rebut gelar di 2022 disusul gelar beruntun dari Fajar/Rian.
Di luar tahun-tahun juara, selalu ada pemain yang lolos ke final saat Indonesia nol gelar seperti 2015 (Tontowi/Liliyana) dan 2025 (Leo/Bagas).
Kalo lebih di-detail-kan lagi:
Saat era Gita Wirjawan (2012-2016)
Indonesia masih ditopang oleh Tontowi/Liliyana dan Ahsan/Hendra yang merupakan racikan baru yang langsung bisa melesat ke persaingan elite dunia.
Muncul juga Praveen/Debby dan Greysia/Nitya yang juga bisa mengganggu persaingan di level elite.
PBSI juga fokus pada regenerasi pemain-pemain muda.
Era Wiranto (2016-2020)
pemain-pemain yang dibina di era Gita Wirjawan mulai muncul ke permukaan. Kevin/Marcus, Fajar/Fikri, Ginting, Jonatan, Gregoria Mariska meski tak semuanya meraih gelar All England di periode tersebut.
Selain itu Ahsan/Hendra juga menjalani periode kedua karier mereka dnegan hasil luar biasa.
Era Agung Firman (2020-2024)
Angkatan Jonatan dkk seharusnya mencapai periode puncak karier mereka dengan target meraih emas Olimpiade.
PBSI juga punya tugas mengakselerasi jebolan Kejuaraan Dunia Junior 2017-2019 sehingga bisa selepasnya mentas jadi andalan.
Hal ini sempat terlihat di nomor ganda putra ketika beberapa ganda muda bisa merebut gelar juara seperti Pramudya/Yeremia, Bagas/Fikri, dan Leo/Daniel.
Jonatan dan Ginting juga sempat menyajikan All Indonesian Final di All England 2024.
Namun karena berbagai faktor dan hal, tidak ada prestasi puncak yang didapat.
Era Fadil Imran (2024-2028)
Harusnya layer utama saat ini diisi oleh alumni Kejuaraan Dunia Junior era 2017-2019 seperti Rinov Rivaldy, Pitha Haningtyas Mentari, Daniel Marthin, Leo Rolly Carnando, Rehan Naufal Kusharjanto, Siti Fadia Silva.
Tapi bisa dibilang belum ada yang benar-benar bisa konsisten bersaing di level atas. Ada pula yang sudah tersisih dari Pelatnas, baik karena mengundurkan diri ataupun cedera.
Sedangkan angkatan Fajar Alfian dan kawan-kawan mendekati dan sudah memasuki usia 30-an. Mereka sudah punya kedudukan seperti Hendra dan Liliyana di era 2012-2016.
Namun harus diakui bahwa memang sulit menyamai level Hendra dan Liliyana yang bisa main konsisten, terutama di ajang besar.
========
Dengan ukuran Indonesia sebagai negara besar, tak ada juara di All England 2026 jelas masuk kategori gagal.
Namun di balik kegagalan itu, bila mengukur formasi kekuatan Indonesia, ada lubang yang menganga.
Setelah era Jonatan dan Ginting, kini status andalan langsung lompat ke Alwi Farhan.
Di nomor ganda putra, setelah era Fajar/Rian kini langsung melompat ke Raymond/Joaquin yang hadir sebagai sosok yang diharapkan meskipun Fajar/Fikri harus diakui masih bisa disebut masuk ke persaingan di kelompok elite.
Begitu juga dengan Jafar/Felisha di ganda campuran kini langsung melompati generasi di atasnya untuk jadi pemain nomor satu Indonesia.
Jadi untuk saat ini, pemain-pemain muda yang mulai berlabel sebagai andalan utama, harus siap bahwa segalanya tak akan lagi sama. Bahwa mereka harus siap disorot jika Indonesia gagal menjadi juara.
Iya. Gw pernah ngalamin kejadian seperti ini.
Jadi gw, istri sama anak gw keluar rumah lah untuk beli makanan.
Tidak beberapa lama, ada motor yang mendahului. Pengendaranya bapak2 usia sekitar 50an. Sambil ngerokok.
Kemudian ada abu rokok yang sempat beterbangan ke arah belakang (arah saya) dan hampir mengenai mata saya. Kena di bawah mata.
Kemudian motor agak saya kencengin utk ngejar dia. Saya tegur sopan.
Eh dia malah meledak marah2. Saya antepin lah sampai kita berhenti di dekat tukang jualan martabak.
Istri gw udah bilang ga usah ladenin. Gw tetep adu mulut sama orang itu.
Dan gong-nya:
Orang2 yang misahin gw sama si bapak perokok itu bilangnya:
Udah cm perkara abu rokok aja pake segala ribut.
Kan kampret!
Gw bilang aja, sini mata lu gw tabirin abu rokok, mau nggak?!
Pada diem.
Dan gw langsung pergi mengingat istri gw udah ketakutan gw bakal dikeroyok.
Cm mau bilang: Brengseklah kalian perokok yang merokok sambil motoran!
Saat kontrak Rexy dengan BAM (Malaysia) selesai, Rexy sebenarnya sudah sangat ingin kembali ke Indonesia. Namun tidak ada tawaran yang datang saat itu.
Tak lama kemudian, ada tawaran dari Filipina. Rexy pun menerima tawaran dari Filipina dan siap untuk membangun bulu tangkis di Filipina.
Sebelum Rexy Mainaky ke Filipina, sebenarnya sudah banyak tuntutan untuk membawa pulang kembali Rexy ke Indonesia.
Harapan itu kemudian diwujudkan oleh Gita Wirjawan. Gita menawarkan posisi Kabid Binpres PBSI pada Rexy. Tak mudah untuk bisa langsung mengiyakan tawaran tersebut karena Rexy sudah terikat kontrak dua tahun dengan Filipina saat itu.
Karena itulah, ketika Rexy bersedia menerima tawaran dari PBSI dan kembali ke Indonesia, ia harus bolak-balik ke Filipina dulu untuk menyelesaikan sejumlah urusan adminstrasi yang harus diselesaikan.
Kembali ke Indonesia, Rexy punya tugas besar yang tak mudah. Tradisi medali emas Indonesia baru saja terputus di Olimpiade 2012. Bukan hanya tanpa emas, bahkan Tim Badminton Indonesia tanpa medali di London 2012.
Tugas yang jelas tak mudah. Apalagi dari segi materi tim, pemain-pemain Indonesia saat itu juga bukan yang berada dalam kondisi 'setengah matang' dan siap untuk 2016. Pemain-pemain yang ada dinilai bakal susah untuk kompetitif di 2016.
Alhasil muncullah kebijakan potong generasi untuk tunggal putra. Binpres di bawah Rexy menilai waktu lebih baik waktu yang ada digunakan untuk menempa pemain muda lebih awal. Walaupun tidak bisa matang di 2016, setidaknya Indonesia bisa 'curi start' untuk generasi berikutnya.
Selain rombongan MS seperti Jonatan Christie dan Anthony Ginting, Gregoria Mariska Tunjung juga masuk Pelatnas di usia belia, 15 tahun. Untuk prestasi di level atas, pada akhirnya Indonesia era 2012-2016 masih mengandalkan pemain senior.
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang merupakan ganda racikan baru. Dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang sempat menelan kekecewaan besar usai gagal di 2012.
Dengan tugas berat yang ada, tak heran bila mulut pedas menghiasi wawancara media dengan Rexy Mainaky.
Bila Rexy merasa seorang pemain perlu perbaikan, poin-poin itulah yang akan ia utarakan. Bila pemain kelihatan tak menunjukkan perubahan, catatan itulah yang akan ia katakan dengan terus terang.
Misi Binpres PBSI di bawah Rexy untuk mengembalikan tradisi emas di Olimpiade akhirnya terpenuhi.
Tontowi/Liliyana mengakhiri Olimpiade 2016 dengan status sebagai juara.