Ingat ya nak, jangan terlalu berlebihan mendramakan emosi. Emosi itu tidak permanen, kecuali kita yang memilih untuk merawatnya dengan terus mengingat dan mengulangnya dalam pikiran.
Kalau kita terus nolak kegagalan, kita juga tanpa sadar jadi takut ambil langkah baru. Akhirnya stagnan, bukan karena GAK MAMPUโtapi karena GAK MAU melewati rasa gak enaknya.
Jadi menerima kegagalan itu bukan berarti menyerah, tapi justru tanda kita cukup dewasa buat bertumbuh.
Gagal itu wajar nak, manusiawi. Tidak ada satupun dari kita yang tak pernah gagal.
Tapi kalau jjwa kita terus terjebak disitu, terperangkap di dalam labirin kegagalan, kita tidak akan pernah bisa menemukan jalan keluarnya. Kita akan terus terpaku pada masa lalu.
Ibaratnya " Nasi sudah jadi bubur' sudah gagal ya sudah. Sekarang yang harus dipikirkan, gimana caranya supaya kegagalan itu bisa diperbaiki atau minimal imbasnya tidak semakin membesar kemana-mana.
Pada rangkaian pertemun dan perpisahan yang Engkau siapkan di setiap sisi kehidupanku, tolong bantu dan temani aku untuk belajar, ya Rabb ๐
.. aku takut jadi tidak pandai menempatkan syukur dan sabar di tempat tepat :โ)
Berbicaralah sesuai kapasitas diri, jika tidak mampu atau tidak memiliki ilmu tentangnya, maka diamlah. Ini tidak hanya menyelamatkan diri sendiri, namun juga menyelamatkan orang lain dari kekeliruan.
Karena kita tidak pernah tahu, dari lisan siapa dan dari tengadah tangan yang mana, Allah ijabahkan do'a-do'a. Maka, teruslah berdo'a. Do'akan juga kebaikan untuk orang lain, dan mintalah dido'akan yang baik-baik kepada orang lain.
Sebagaimana Allah begitu mudah mengambil seseorang dari dirimu. Begitulah Dia dalam mendekatkan seseorang lainnya untukmu :))
Kamu hanya harus sadar, semua yang ada adalah milik-Nya yang akan Allah ambil sesuai kadar yang sudah Dia tentukan.
Selalu ada alasan mengapa sesuatu itu Allah takdirkan terjadi.
Ya Allah untuk segala hal yang sedang kupertanyakan, kuragukan, tolong beri aku petunjuk dan keyakinan hati untuk memaknai alasan dibalik kejadian tersebut.
Laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Kita tidak pernah tahu seberapa kerasnya usaha orang lain untuk ridha dan mencintai takdirnya :)
Maka, semoga Allaah Ta'ala senantiasa menjaga lisan kita dari ketidaksengajaan mengusik keridhaannya :)
Seandainya kita sadari tiap perkataan akan dimintai pertanggungjawaban, seandainya kita selalu ingat bahwa tiada satu pun yang luput dihari perhitungan.
Parameter baiknya ibadah seseorang itu bukan dari bagus ngajinya, bukan dari banyak sholatnya. Tapi dari bagaimana shalat, dan ngajinya tadi merubah akhlaknya. Jadi kalau ada yang rajin ibadah tapi akhlaknya masih jelek, ibadahnya harus dipertanyakan.
Sabar, hidup ini hanya sebentar. Kelak dalam persidangan agung di hadapan Allah, kita buka tabungan amal baik kita, doa-doa yang belum terkabul serta balasan pahala sabar yang tanpa batas seperti yang telah Allah janjikan.
Apabila kita adalah orang beriman yang hari ini sedang tergadai bahagianya. Jangan ragu meminta balasan pahala untuk perasaan yang getir, lelah, kecewa, sedih, sakit, semuanya.