cowo kalo beneran serius ke kamu bilangnya gini:
"sabar ya, do'ain kerjaan lancar, banyak rezeki, nanti aku turuti satu-persatu maunya kamu, saat ini aku masih memproses."
beda dg cowo yg main2 pasti bilangnya gini:
"sorry aku emang gini orangnya, kalo ga suka cari yg lain aja."
Pada satu titik, aku tidak masalah jika kamu membicarakan yang buruk tentangku. Tak apa, selama selepas itu kamu lega. Aku rela.
Di ceritaku, tetap yang baik-baik tentangmu yang aku ceritakan pada mereka.
Alhamdulillah, masih dikelilingi orang-orang baik. Rejeki bukan cuma uang. Tapi, memiliki orang-orang yang peduli dengan kita, justru lebih baik dari pada hanya sekedar uang.
Seorang sahabat pernah bilang, "Kalau emang udah siap nikah, terus ada satu atau lain hal yang emang harus melatih kesiapan itu,—mungkin, Tuhan mau nunjukkin sesuatu untuk kita dan pasangan kita sebelum akhirnya benar-benar menikah."
Nanti semoga bersamamu aku bisa menikmati pagi dengan cara apa saja, seperti memulainya dengan kecupan di bibir, atau adu kameha-meha lalu tertawa berdua. Atau sederhananya, kita memulai pagi dengan sebentuk senyuman. Apa saja, asal bersamamu.
Selalu meminta pada Tuhan untuk diberikan rasa sabar yang tak ada habisnya.
Tapi, kalau memang rasa sabar itu tak ada habisnya. Bagaimana mungkin kita mengetahui rasa amarah.
Memang, untuk mengetahui hal lain, kita butuh merelakan hal lain.
Jangan tutupi segala kurangmu.
Sebab, aku akan selalu menerima.
Jangan sembunyikan segala risaumu.
Sebab, bagiku, riuh dikepalamu adalah hal kecil yang teramat berarti dikepalaku.
@Utarylhesmana Sayangnya, langit biruku begitu angkuh untuk mengerti; bahwa awan itu ternyata hanya ingin melintas.
Atau mungkin, langit biruku sudah menerima awan itu sebegitu adanya.
Tapi, kadang mereka (laki-laki), lupa.
Jika dia (perempuan), ada di saat-saat masa berprosesmu, bisakah kau pastikan, "Bahwa dia juga akan tetap ada, dalam saat-saat keberhasilanmu?"
Kita hidup di antara banyaknya laki-laki yang mengeluh, mempertanyakan, "Apa masih ada perempuan yang mau menemani laki-laki yang masih berproses? Di antara banyaknya perempuan yang realistis, memilih laki-laki yang sudah berhasil?"
Karena kenyataannya, kehilanganmu itu seperti hantaman keras yang sakitnya tidak pernah bisa kuhindari. Menyisakan kehampaan yang teramat jelas di hati.
Besok kalau tidak hujan, aku ingin pergi kembali ke kepalaku sendiri.
Kupikir aku akan bertamasya di sana. Akan aku dirikan sendiri tenda warna biru itu lagi. Akan kubuat sendiri segelas kopi espresso itu lagi. Akan kupandangi warna biru berkabut putih di atas sana lagi.
Aku akan mengulang segala hal yang kamu sukai.
Walau aku sendiri sadar, bahkan di dalam sana, kamu sudah tak lagi ada.
Walau aku sendiri mengerti, sepulangnya dari sana, aku tidak akan merasa jauh lebih baik.