Saya dapat info bhw ada 17 calon Dubes asing yg sudah tiba di Jakarta tapi sampai sekarang masih MENUNGGU waktu utk memberikan surat kepercayaan kpd Presiden. Dari mereka ada yg sudah menunggu 8 bulan. Ada juga Dubes dari negara ASEAN yg menunggu 6 bulan. Karenanya, mereka belum bisa bekerja secara resmi.
Ini memberikan kesan buruk bagi negara2 sahabat yg mengirim Duta Besarnya ke ๐ฎ๐ฉ, apalagi Dubes ๐ฎ๐ฉ di luar negeri selalu dgn cepat menyerahkan surat kepercayaan kpd host country. Tanpa menyalahkan siapapun, Mohon masalah ini dapat segera dituntaskan Istana krn menyangkut reputasi diplomatik kita.
Many players have come and left. Some departures leave you unaffected. Others stay with you forever.
There are players who are loyal, who truly care about the club and its fans. For some, the shirt means everything. You were always one of those players.
Loyal. Committed. Hungry. Always giving everything for the badge. Whenever someone disrespected you or your teammates, you were there to stand up for them. When we, the fans, were devastated by the teamโs performance, you were the one who walked around the pitch and apologized.
You were not only an important player on the pitch, but also someone who always brought joy off it. You understood exactly what these colours mean.
The fans always loved you, and in return you helped bring us many trophies.
You will always have our respect. There are not many players who leave Inter and whom we truly wish nothing but the best, but you are one of them.
You will be missed.
Thank you for your 207 matches and 8 titles!โซ๏ธ๐ต
Pertanyaan menarik. Dan dulu pernah saya obrolkan dengan kawan NU-Muhammadiyah.
Tapi jawaban yang paling kocak, dan bisa jadi benar adalah...
...karena yang menentukan Iduladha itu bukan hilal Indonesia!!!
Melainkan keputusan politik-administratif Kerajaan Arab Saudi soal kapan jamaah haji wukuf di Arafah.
๐
Tiga kali nonton film Interstellar. Dan yang ketiga ini justru yang paling bikin aku diam lama setelah credits film habis.
Ada satu pesan yang mungkin tidak bisa aku lupakan
Murphy menatap kamera dan bilang ia tidak akan mengirim pesan lagi. Bukan karena marah, bukan karena menyerah.
Tapi karena usianya kini sudah sama dengan usia ayahnya saat pergi meninggalkannya.
Seorang anak yang menua melampaui ayahnya sendiri yang masih hidup (atau tidak).
Aku tidak siap untuk itu. Bahkan disaat metonton yang ketiga kalinya.
Dan yang lebih menyesakkan ini bukan fiksi murni. Ini fisika.
Di dekat lubang hitam Gargantua, gravitasi begitu ekstrem sampai ia secara harfiah melambatkan waktu.
Bukan metafora, bukan efek dramatis. Setiap jam di orbit Gargantua setara dengan tujuh tahun di Bumi. Ini yang disebut Gravitational Time Dilation dan Einstein merumuskannya bukan dari teleskop, tapi dari kertas dan pena, hampir seratus tahun yang lalu.
Waktu bukan jam yang berdetak sama di seluruh semesta. Ia adalah dimensi elastis, bisa ditekuk, bisa diperlambat.
Cooper tidak "absen" selama puluhan tahun karena lalai. Ia berada di tempat di mana waktu berjalan dengan hukum yang berbeda. Dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubahnya.
Persis seperti kita yang kadang merasa "ketinggalan" dari orang-orang bukan karena tidak peduli, tapi karena kita masing-masing berjalan di ritme waktu yang berbeda.
Dan ini yang membuat aku merinding lebih dalam lagi.
Jauh sebelum Einstein lahir. Jauh sebelum ada persamaan relativitas. Al-Qur'an sudah bicara tentang ini dengan cara yang kalau kamu baca ulang sekarang, akan terasa berbeda.
di QS. Al-Hajj: 47 "satu hari di sisi Tuhan setara 1.000 tahun perhitungan manusia".
kemudian QS. Al-Ma'arij: 4 "perjalanan malaikat dalam skala 50.000 tahun".
Dua angka yang berbeda. Dua skala yang berbeda. Ini bukan inkonsistensi ini deskripsi tentang gradasi gravitasi dan dimensi yang berbeda-beda. Semakin dekat dengan pusat semesta, semakin lambat waktu berjalan. Persis seperti yang terjadi di Gargantua.
Dan malaikat? Tercipta dari Nur cahaya. Dalam fisika, objek yang bergerak mendekati kecepatan cahaya mengalami time dilation ekstrem dari sudut pandang sang cahaya, waktu nyaris berhenti. Perjalanan yang bagi manusia terasa ribuan tahun, bagi mereka mungkin hanya sekejap.
Dan kisah Ashabul Kahfi tiba-tiba punya dimensi baru: 309 tahun berlalu di dunia luar, tapi tubuh mereka tidak menua. Bukan keajaiban melainkan mereka berada di kondisi di mana waktu berjalan berbeda.
Lalu, ini yang benar-benar menggeser cara aku memandang hidup.
Kalau waktu bukan garis lurus melainkan hamparan spacetime fabric maka masa depan bukan sesuatu yang "belum ada." Ia sudah ada, di koordinat yang belum kita capai. Kita bukan menunggu waktu datang. Kita yang berjalan melintasi hamparan yang sudah terbentang.
Di Tesseract, Cooper melihat setiap momen hidup Murphy bukan sebagai kenangan atau mimpi tapi sebagai ruang fisik yang bisa ia sentuh. "Sudah", "sedang", "akan" dalam dimensi yang lebih tinggi, tiga kata itu adalah satu benda yang sama.
Kalau begitu, apakah perpisahan itu nyata? Atau kita hanya terpisah oleh perbedaan frekuensi detak waktu?
Dan pertanyaan terakhir yang belum bisa aku jawab:
Jika "keabadian" di akhirat adalah kondisi di mana kita keluar sepenuhnya dari dimensi waktu masuk ke dalam singularity di mana tidak ada "sebelum" dan "sesudah" maka mungkin surga dan neraka bukan soal kapan, tapi soal di mana kamu berada dalam struktur realitas.
Takdir sudah "selesai" di dimensi lain dan kita tinggal menjalaninya? Atau di hamparan ruang-waktu ini masih ada ruang untuk kita belokkan garisnya?
Aku belum tahu jawabannya. Tapi aku tahu satu hal:
Interstellar bukan film tentang luar angkasa. Ini film tentang betapa kecilnya kita dan betapa anehnya kita tetap peduli satu sama lain meski terpisahkan oleh dimensi.
tadi baca di threads cuma udah terlanjur ke scroll,
ada istri yg menyesal sejadi2nya,
suaminya freelancer, istrinya punya pekerjaan tetap.
suaminya kerja dirumah sambil ngurus anak dan bersih2. sedangkan istrinya kerja di kantor.
sayangnya rezekinya blm berpihak ke suami, penghasilan blm stabil padahal udah sering begadang dan berusaha.
istrinya sering merendahkan suaminya apalagi 2 bulan terakhir belum ada penghasilan, alhasil hidup dari gaji istri, sikap istri dingin dan meremehkan.
sampai suatu malam di kamar suaminya bilang mau kerja dengan senyum dan ramah karna mau begadang dan ngulik lagi depan laptop, istrinya masih judes karna si suami blm ada penghasilan 2 bulan itu.
paginya pas dicek suaminya sudah meninggal karna kecapean kerja di depan laptop dan kopi yg belum habis.
dan sedihnya lagi ketika cek hp, suaminya berhutang ke temen2nya untuk sekedar beli susu dan popok anaknya.
jujur sedih banget bacanya..
hasil itu urusan Allah, tugas manusia itu berusaha dan berdoa...
tolong bgt buat istri2, kalau suaminya sudah berusaha maksimal tapi hasilnya blm optimal, tolong tetap di support, di tenangkan mentalnya, cari jalan keluar bareng2, jangan dibuat makin hancur ๐ญ
1 suami gugur ketika mencari nafkah, 19 juta suami merasakan penderitaannya ๐ญ๐ญ๐ญ semoga syahid.
โ Bagi2 100 ribu kupon.
โ Setiap kupon berharga Rp 500 ribu.
โ Pos anggarannya? "Pokoknya ada."
Jika pemegang otoritas administratif tertinggi spt Sekkab dgn arogan dan enteng pakai frasa membunuh akuntabilitas kayak gini, berarti ada sinyal bahwa tertib administrasi negeri ini bisa dgn gampangnya diterabas demi kepentingan2 pragmatis.
Ngeri bener pengelolaan negara ini..
Baru dapat insight baru dari orang dikerjaan :
Salah satu kunci tenang kerja di kantor adalah gratitude. Mau liat orang promosi, dapet bonus berlipat-lipat, akrab sama bos, akrab sama client, dll pokoknya jangan pernah iri sama rezeki orang.
Go to work - get the job done - evaluate - improve - go home
Rezeki sudah ada yang atur dan ga mungkin tertukar.
๐ฅ BREAKING ๐ฅ
China has suspended fertiliser exports while farmers in the United States & Australia face shortages.
The Chinese government has instructed exporters to halt all overseas shipments of fertiliser blends.
Australia imports the majority of its fertiliser- roughly 70-75% of ammonium phosphate & nearly all of its urea primarily from the Middle East, China & Southeast Asia.
This is extremely serious.