⠀
Aku ingin marah, meledak, menggebu, memaki. Mungkin aku rasa aku juga ingin menghajarnya. Ya, itulah yang ingin ku lakukan. Tetapi kenyataannya, aku yang terlalu pengecut ini malah memutuskan untuk pergi tanpa pamit.
⠀
⠀
Perasaan curiga dan amarah itu mencengkeramku dengan kuat. Aku merasa dikhianati. Dadaku terasa sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Menyakitkan rasanya, seperti diriku sedang dijahit paksa oleh rasa kecewa ini.
⠀
⠀
Aku telah menemukan satu hal lagi. Sebuah rahasia baru milik Marshen, yang kuyakin benangnya saling mengikat dengan sosok misterius tersebut. Tentang hubungannya dengan jalang itu.
⠀
⠀
Jadi, di sinilah aku; menunggu, menunggu, dan terus menunggu seperti orang tolol yang menunggu kepastian. Ya, aku terus menunggu hingga kemarin lusa dimana aku memutuskan untuk pergi.
⠀
⠀
Aku juga merasa bahwa aku cukup pengertian untuk menunggu. Menunggu sebuah penjelasan, menunggu Marshen berinisiatif mengenalkan sosok itu kepadaku. H̶a̶n̶y̶a̶ t̶e̶m̶a̶n̶,̶ k̶u̶h̶a̶r̶a̶p̶.
⠀
⠀
Kenapa aku tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya? Kenapa aku tidak diberi tahu? Mengapa ia merahasiakan ini dariku? Aneh. ANEH.
Ini semua aneh dan aku sangat amat tidak suka oleh hal ini. Tidak seharusnya ada rahasia di antara kita.A̶k̶u̶ t̶i̶d̶a̶k̶ t̶e̶r̶i̶m̶a̶.
⠀
⠀
Menahan diri dalam artian:
Mengunci rapat mulutku yang gatal ini, agar tidak bertanya langsung kepada Kakak tentang siapa sosok yang fotonya tersimpan di dalam galeri nya.
⠀
⠀
Mari ku tarik ulur waktu pada satu purnama yang lalu, dimana aku mendapati sebuah fakta bahwa ia telah menyembunyikan sesuatu dariku. L̶e̶b̶i̶h̶ t̶e̶p̶a̶t̶n̶y̶a̶ s̶e̶s̶e̶o̶r̶a̶n̶g̶.
⠀
⠀
Rasa curiga di dalam pikiranku tambah meliar. Aku mulai tenggelam dalam keyakinan bahwa atensi yang biasanya begitu mudah kudapatkan dari Marshen, kini tengah sepenuhnya direbut oleh orang itu. Aku merasa tersisih, dan aku tidak suka itu.
⠀
⠀
Layar itu tetap tidak berubah. Aku masih tidak menerima satu pun notifikasi dari Marshen. Semakin lama netraku terpaku menatap layar ponsel, semakin terasa mencekat pula rasa jengkel yang menyumbat rongga hatiku.
⠀
⠀
Perasaan campur aduk yang bergulat hebat di dalam dadaku ini tak kunjung mereda; sebaliknya, rasa itu justru kian meradang dan memanas di setiap detiknya. Entah sudah berapa kali jemariku bergerak gelisah ; membuka dan menutup chatroom yang sama sepanjang hari ini.
⠀
ㅤ
¹“bonjour! je viens pour le check-in s’il vous plaît, c’est au nom de marshen monroe.” ungkapannya meluncur dengan manis dan khas dari mulut lelaki yang memiliki separuh darah eropa itu. “merci, madame,” tutup marshen dengan menatap sang resepsionis di balik mejanya.
ㅤ
ㅤ
“kagetin di lobi ... depan kamar langsung ... atau di kamar langsung, ya? oh! di kasur kayak biasa?”
𝘢𝘩, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘱 𝘣𝘶𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘭𝘦𝘣𝘢𝘳.
ㅤ
ㅤ
▍𝖼𝘩𝖺𝙧𝗹𝗲𝙨 𝖽𝗲 𝗴𝖺𝗎𝗹𝗹𝗲 𝖺𝗂𝙧𝗽𝗼𝙧t, 𝟪.𝟭𝟨 𝖺.𝗺.
𝗨𝗗𝗔𝗥𝗔 𝗘𝗥𝗢𝗣𝗔 terasa mencekik jiwa yang tengah diliputi amarah yang membumbung tinggi hingga memenuhi kepala. marshen mendapatkan segalanya semudah membalikkan telapak tangan; minta ini, minta itu.
ㅤ
ㅤ
proses administrasi singkat lantas berlangsung setelahnya. permintaan dokumen ini dan itu dilalui tanpa banyak kendala. tak sampai puluhan menit, marshen telah membawa akses kunci ke dalam genggaman. ‘orangnya’ telah mengatur semua, dan marshen mempercayai kinerjanya.
ㅤ