udh baca klarifikasinya tapi sumpah menurut gue, you missed the whole point, and honestly this is exactly why people are disappointed.
bukan soal “we’re independent from the government.” like… okay? we know 😭 nobody was asking for a declaration of independence.
yang dipertanyakan tuh the choice itself. kenapa lo secara sadar datang ke undangan itu, dandan, foto-foto, berdiri di ruang yang begitu dekat dengan kekuasaan, di saat masih banyak perempuan yang suaranya nggak didengar dan masih harus berhadapan sama dampak dari keputusan-keputusan Negara. and then you consciously chose to upload those pictures yourself.
of course people are going to question it.
apalagi In Her View dibangun sebagai ruang yang KATANYE memberi tempat untuk perempuan, their voices, their experiences, their perspectives. so when one of its hosts makes a choice that feels this tone-deaf, ya wajar kalau ViewHers ngerasa kecewa.
dan klarifikasinya malah terasa lebih sibuk menjelaskan “kami independen” daripada acknowledging why people felt hurt in the first place. GIRLSSSS PLS???? that's not the point 😭
accountability isn't always about defending your intentions. sometimes it's about being able to say, “maybe we didn't think this through enough.”
women empowerment should also mean allowing women to question you, disagree with you, and hold you accountable without being made to feel like they're simply misunderstanding you.
lo membangun ruang yang mengajarkan people to think critically. then you also have to be willing to sit with the criticism when it comes back to you.
that's literally the whole point.
#intinyadeh anak2 SD diinfo besok mau pawai, ternyata disuruh ikut demo dukung MBG.
Spanduk:
"Kami dukung program MBG, tidak mau anak belajar dalam keadaan lapar"
Dikecam keras, dianggap eksploitasi anak, apalagi tujuan gak transparan (blg pawai, gak taunya demo dukung MBG)
SBY buruk, Jokowi buruk. Tapi mereka sama sekali gapernah ngomong kayak gini dalam forum resmi. Seorang presiden, pemimpin negara bicara dengan kapabilitas yang cuma seperti ini.
Orang-orang yang memilih dia karena kasihan atau karena apapun, kalian berdosa sekali untuk seluruh manusia di negeri ini. Bajingan kalian dan pilihan kalian. Bedebah.
Tumbal Tragedi Bintaro 1987: Kisah Pilu Masinis Slamet Suradio yang Terbuang dan Menanti Keadilan
JAKARTA — Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 masih menyisakan luka mendalam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Insiden maut yang merenggut 139 nyawa dan melukai 254 orang tersebut selalu dikenang sebagai bencana kelam. Namun, di balik puing-puing besi lokomotif yang hancur, ada satu kepingan sejarah yang hingga kini dibiarkan usang dimakan waktu: kisah pilu Slamet Suradio, sang masinis KA-225 yang dituduh sebagai tersangka utama.
Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi bahwa Slamet adalah pihak yang paling bersalah. Namun, benarkah demikian?
Kesalahan Komunikasi dan Surat PTP yang Diabaikan
Hari itu, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta api tanpa seizin petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Narasi ini menyudutkannya seolah ia bertindak ceroboh dan melanggar aturan.
Faktanya, sebelum lokomotifnya melaju, Slamet telah mengantongi surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Dalam dunia perkeretaapian, surat tersebut adalah nyawa dan perintah; surat itu adalah izin resmi bahwa keretanya sah untuk diberangkatkan. Celakanya, terjadi kesalahan komunikasi fatal antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran. Kesalahan sistemik inilah yang pada akhirnya menempatkan dua kereta baja melaju di satu jalur yang sama, berujung pada tabrakan hebat yang tak terhindarkan.
Sepanjang perjalanan maut itu, Slamet mengaku tidak melihat satu pun rambu-rambu darurat yang mengisyaratkan perintah untuk menghentikan kereta.
Bertahan di Balik Kemudi: Mematahkan Stigma "Pengecut"
Selain dituduh berangkat tanpa izin, Slamet juga harus memikul fitnah keji bahwa ia melompat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi demi menyelamatkan diri.
Kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Ketika jarak antara dua kereta sudah terlalu dekat, asisten masinis-lah yang melompat keluar. Sementara itu, Slamet Suradio memilih bertahan di dalam kabin lokomotif. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas rem darurat hingga tangannya tak lagi sanggup bertahan.
Saat benturan keras terjadi, tubuhnya terpental ke lantai lokomotif. Hantaman itu membuat tulang pinggulnya retak dan matanya terluka akibat pecahan kaca yang berserakan. Dalam kondisi kritis, berlumuran darah, dan menahan sakit yang luar biasa, ingatannya hanya tertuju pada satu hal: bukti kebenarannya. Ia meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokopi surat PTP yang masih ada di dalam kantong seragamnya sebanyak mungkin. Di atas surat itu, bercak darah Slamet ikut tertoreh, menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
Ketidakadilan di Meja Hijau
Namun, segala bukti dan pembelaan Slamet seolah menguap begitu saja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Fotokopi surat PTP yang telah ia perjuangkan tak berarti apa-apa di hadapan majelis hakim. Pengabdiannya selama 23 tahun sebagai masinis runtuh seketika.
Ia divonis sebagai terpidana. Tidak hanya itu, ada rentetan ketidakadilan lain yang menimpanya. Ia mengaku kerap dipaksa menandatangani dokumen-dokumen tak jelas asal-usulnya oleh oknum tertentu. Puncaknya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai masinis tanpa diberikan pesangon sepeser pun.
Pengkhianatan dan Bertahan Hidup dari Sebatang Rokok
Kehancuran karier dan kebebasannya ternyata bukan satu-satunya cobaan. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan moral, sang istri justru menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Slamet sendiri meratapi nasibnya.
Kini, masa kejayaan sang masinis telah lama redup. Pria renta itu kini harus mengais rezeki dengan berjualan rokok eceran. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari tempat asalnya untuk berdagang. Hidupnya jauh dari kata layak. Pernah suatu ketika, ia tidak bisa pulang ke rumah selama dua bulan penuh karena sama sekali tidak memiliki ongkos. Untuk merebahkan tubuh rentanya, ia menjadikan musala sebagai tempat bernaung sehari-hari.
Indonesian Zombie Horror 'Zona Merah: Dead City' Boards Barunson E&A for International Sales, Sets Cannes Film Market Launch https://t.co/dNMIODnfIe
Kopi Selasar will screen 2 short films directed by Netanya Yemima as part of their Layar Selasar program, featuring 2 exciting titles that guarantee you a good time.
• ‘IKAN TERGANTENG SEDUNIA’
• ‘SUNAT RACING’
the most insane part is that she's actually his step-daughter and her biological father is jude law
chapell roan's bodyguard made jude law's 11 year old daughter cry for looking at her