Yang namanya dicatut BAKOM padahal ikut pertemuan aja enggak, ikut jadi anggota perkumpulan aja enggak, marahlah! Tuntut mundur si Bakom.
Yang cuma gabung di WAG perkumpulan, tapi gak ngeh (?) bahwa atas nama perkumpulan bisa dipakai utk agenda tertentu, ngamuklah. Keluar grup.
Sebagai debut penyutradaraan Reza Rahadian, Pangku (2025) justru terasa mengkhianati judulnya sendiri. Alih-alih dieksplorasi secara mendalam, fenomena kopi pangku di pesisir pantai utara ini malah sekadar numpang lewat sebagai gimmick belaka.
Memang sinematografi film ini patut diapresiasi karena berhasil menahan diri untuk tidak meseksualisasi para perempuan pekerja seks. Namun, kehati-hatian visual ini tidak dibarengi dengan keberpihakan wacana.
Melalui narasinya, Pangku justru menyiratkan sebuah pandangan yang cukup problematis, bahwa pekerja seks yang “baik” hanyalah mereka yang terpaksa dan sebenarnya menolak profesi tersebut. Padahal pekerja seks, apapun alasannya, merupakan posisi yang rentan.
Lalu, jika tujuannya memang ingin memotret kemalangan perempuan hamil, sendirian, dan tidak punya tujuan sebagai korban kemiskinan struktural akibat jerat kapitalisme dan patriarki, rasanya tidak perlu menempelkan unsur seksualitas pada plot apalagi judulnya. Terlebih ketika kopi pangku ini dilucuti sama sekali, kerangka cerita utamanya sebetulnya tidak akan banyak berubah.
Penceritaannya juga seakan terjebak pada sekadar pin-pointing fenomena dan berhenti di titik itu saja. Film ini hanya menampilan bagaimana Sartika (Claresta Taufan) menghadapi keadaan sulit, dan kemampuannya untuk sekadar survive sudah cukup dianggap sebagai sebuah pencapaian akhir.
Pertanyaan besarnya adalah, untuk siapa sebenarnya film ini ditujukan?
Jika sasarannya adalah masyarakat akar rumput, realita kemiskinan sudah terlampau lekat dengan kehidupan sehari-hari mereka, tinggal tengok kiri atau kanan sudah ketemu. Atau mungkin Pangku memang diproduksi dari dan untuk kacamata kalangan elitis? Di mana penderitaan kelas bawah cukup disajikan di panggung sebagai tontonan bertegangan, namun hampa resistensi?
Lagu payung teduh yang “Resah” itu katanya menceritakan kisah tragis/menyeramkan. Apalagi pas bagian lirik “Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang-layang”
Di Majalah Intisari, mencanggih-canggihkan diksi termasuk yang agak dilarang. Seingatku, editor selalu berpesan begini: pembacamu itu sudah banyak persoalannya, jangan kau tambahi lagi dengan istilah-istilah yang barangkali tidak terlalu familiar baginya
Sudah berapa kali ganti menteri sejak 10 tahun Jokowi sampai Prabowo yang belum setahun?
Perubahan dan hal baik apa yang kita rasakan setelah menteri-menteri itu diganti?
Hal yang seru dari reshuffle adalah gosip konstelasi para elit dan pembagian (rente) kekuasaan. Tak lebih.
Polisi lebih cepat menetapkan Tersangka Direktur Lokataru dibanding menetapkan Tersangka pelindas/pembunuh dari Brimob yg membuat Affan Kurniawan meninggal.
Sinting.
Teman-teman tolong bantu sebarkan 😭🙏
Sakit banget. Seminggu setelah menghilangkan nyawa temenku, si pelaku masih bisa senyum bahagia di pernikahannya. Sementara di tanggal ini mayat temenku masih belum ditemuin 😭
Cr. ig komikfaris
TW // murder, SA, pembunuhan
"Dalam suatu masyarakat yang pada dasarnya lisan, menulis bukanlah karier yang mempunyai masa depan."
(Ignas Kleden, "Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan")
PEMBISIK ISTANA
Keputusan politik terbesar tak selalu lahir dari ruang sidang... tapi dari bisikan di balik layar.
Siapa para pembisik istana yang memengaruhi arah kekuasaan RI?
Edisi terbaru INSIDER membongkar jaringan informal di sekitar Presiden — dari nama besar seperti Luhut hingga sosok non-publik yang tak pernah tampil ke media.
▫️ Siapa yang paling dipercaya?
▫️ Apa pengaruh mereka ke masa depan politik Indonesia?
Baca analisis lengkapnya di:
https://t.co/kufN5RPdar
📖 INSIDER — Majalah premium dari https://t.co/QEdHfnTWTw, tayang tiap 2 pekan.
#INSIDER #MajalahDigital #PembisikIstana #PolitikIndonesia #LiputanMendalam #inilahcom
Dear @detikcom@dewanpers mohon penjelasan atas hal ini. Kenapa sebuah tulisan harus dihapus demi keselamatan penulis? Kenapa Dewan Pers merekomendasikan demikian?
https://t.co/ngwf2RVokj
@cvruella@afrkml@filmrachantik @senseofel Yang juga penting, lema “di mana” itu digunakan sebagai kata ganti penanya tempat atau kata untuk menunjukkan tempat yang tidak tentu. Pada banyak kalimat yang ada sekarang, lema “di mana” sebenarnya bisa digantikan dengan “yang”, “dan”, “sebagai”, “dengan”, atau dihilangkan saja