Tiap ada diskursus pembalut should be free trus ada PEREMPUAN yg somehow tidak setuju trus abis itu beliang knp ga pake pembalut kain atau menscup aja disitulah gue STRESSSSSSSS
@apparecolovaria Kakakkkk aku adalah kamu. Rasanya udah cukup sedih lihat kehidupanku sebelum kerja harus nahan ini itu. Temen temen kuliahku selama kuliah experience a b c d e. Aku pure kuliah doang karena uang bulanan bener bener dibagi pos pos pos 😭
Sekarang? Ya selama ada rejeki, gas aja 🙏
Umur 23 katanya terlalu terlambat. Kepikiran ini beberapa hari belakangan. Idk entah timeline siapa yg dijadikan perbandingan.
Klo ga bisa bantu, at least jangan bikin orang merasa tertinggal di hidupnya sendiri.
Aku setuju banget sama ini. Aku juga sering ngerasa kalau lagi “biasa-biasa aja” tuh kayak lagi gagal jadi manusia yang layak gitu loh...
Tapi, ada perspektif yang belakangan sering bikin aku kepikiran, bahwa ketakutan menjadi “cukup” adalah produk dari bahasa yang kita konsumsi setiap hari.
Kata “biasa” dan “cukup” sudah dilabeli sebagai sebuah kekurangan, seolah-olah hidup yang nggak bersinar terang itu otomatis inferior.
Padahal di sastra, di budaya, bahkan di sejarah kecil sehari-hari, yang rutin dan tidak spektakuler justru sering jadi fondasi yang bikin semuanya bertahan.
Menurutku, belajar merasa cukup bukan berarti pasrah sih. Lebih ke arah semacam reclaim makna. Tantangannya memang sekarang adalah bagaimana caranya ngebalikin kata “cukup” biar nggak lagi jadi hukuman, tapi jadi tempat istirahat yang sah.
sabtu kok masih ngantor wkwkwkwkw 😂🤣😂🤣😂🤣 nobody's free under capitalism 😂🤣😂🤣😂 mungkin kitalah kacung-kacung buruh modern yang senang saling berbenturan tentang siapa yang paling keras mencari duit 🤣😂🤣😂🤣 *kemudian bersiap-siap berangkat kerja*