ketakutan Gen Z di kantor:
1. dipromosikan naik jabatan
2. ga bisa pulang tenggo
3. hujan di jam 16:29
4. bestie dimutasi
5. di-@ atasan
6. tiba-tiba diajak meeting
7. “boleh ke ruangan saya sebentar?”
8. jam 16:55 dikasih tugas urgent
9. grup kantor rame di luar jam kerja
10. atasan bilang “cuma revisi sedikit kok”
Grabak grubuk ambil ijazah sama foto setengah badan, Alhamdulillah lolos PCPM BI😭
*yaa walaupun step nya masih panjang semogaa beneran bisa dilewatin yhhh
@worksfess Akuu jugaa nder! 🤧
Awal awal aku kena tegur terus sampe akhirnya ada anak baru masuk jadi dia yang kenaa. Semangaat nanti berangsur membaik kokk 😊
Kinda weirdd, kenapaa dia se effort ituu?? 😭😭
Ga expect baru bgt diomongin mau jalan jalan kemana dan lgsg ganti olii, Like whatt?? Ya Allah mas semoga kamu selalu dikelilingi orang baikkk 🥹
Gw punya temen yang pacaran dari SMP.
Literally SMP.
Masih pakai seragam putih biru.
Masih berantem soal hal hal yang sekarang kalau diinget sendiri bikin malu.
Masih belum tau apa apa soal hidup.
Dan mereka ya gitu putus nyambung putus nyambung
SMA tetap sama.
SMK tetap sama.
Kerja tetap sama.
Dan tahun lalu mereka nikah.
Gw pernah iseng tanya ke temen gw itu apa yang bikin kalian bertahan selama itu?
Dia mikir sebentar.
Terus jawab santai.
Gak tau.
Dia ada aja aja gw butuh mau di bawah atau di atas
Dan itu yang bikin gw mikir lama.
Di zaman sekarang semua hal soal hubungan dibuat serumit mungkin.
Ada yang bikin list kualifikasi pasangan ideal sepanjang lengan.
Ada yang ngomongin green flags red flags beige flags sampai gw tidak tau flags warna apa lagi yang harus dicek.
Ada yang bikin spreadsheet kompatibilitas.
Ada yang evaluasi dulu tiga bulan sebelum mau lanjut serius.
Dan di tengah semua kerumitan itu temen gw dari SMP cuma punya satu ukuran sederhana.
Kamu ada buat aku.
Aku ada buat kamu.
Tidak ada benefit yang dihitung hitung.
Tidak ada standar finansial yang harus dipenuhi dulu. Tidak ada checklist yang harus dicentang sebelum hubungannya layak dilanjutkan.
Bukan berarti hubungan mereka sempurna.
Pasti ada berantem.
Pasti ada masa masa yang berat.
Pasti ada momen di mana salah satu dari mereka bertanya tanya.
Tapi mereka tetap jalan.
Dan ini yang paling relate sama kondisi orang Indonesia sekarang yang menurut gw kita sendiri yang bikin susah.
Kita hidup di era di mana semua hal harus ada alasannya.
Semua keputusan harus bisa didefend secara logis.
Semua hubungan harus bisa dijelaskan dalam bentuk value proposition yang masuk akal.
Sampai kita lupa bahwa hal yang paling fundamental dari hubungan apapun tidak pernah berubah dari dulu.
Kamu mau ada tidak waktu gw butuh.
Sesimpel itu.
Dan jawaban dari pertanyaan sesimpel itu ternyata lebih susah dicari dari semua kriteria panjang yang kita buat
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.