banyak sekali miskonsepsi akan alumni LPDP, seakan akan lulusan S2 atau bahkan S3 UK/US/ manapun itu manusia sakti yang bisa berkontribusi “langsung” kepada bangsa.
Dalam dunia akademik, overwhelming majority of lulusan PhD itu hanyalah seorang bayi yang masih menyusu; belum pernah membuktikan diri sebagai periset independen. They are nobody without the incubator. “Pulanglah, berbakti bangun negeri” - by doing what exactly?? An experimental physicist cant work without a synchrotron; NMR etc.
Perlu dimengerti bahwa standard global research is extremely high; Indonesian institutions must compete with groups that have multiple postdoctoral experiences from all around the world. Most Indonesian researchers even in ITB/UI/UGM never even secured a postdoc positions! they came back straightaway after PhD!
Mereka adalah korban romantisasi kebijakan dan narasi emosional; seakan akan negara itu seorang Ibu yang sekarat menjual seluruh hartanya untuk membiayai anak yang durhaka.
this “Ratu Adil” syndrome/narrative membuat kita benci akan sesama, curiga akan mereka yang mendapat kesempatan untuk mengkultivasi dirinya.
Sejak kapan kita menjadi bangsa yang penuh dendam akan sesama?
To those who get the opportunity to be sent abroad - help if you can; or otherwise, SHUT UP! - you’re nobody yet.
Pernah bekerja di 2 bimbel konvensional kesukannya anak SMA penghamba PTN, cukup kaget mendengar berita ttg colapse nya bimbel ed-tech favorit gw :Zenius. After reading much tweets from different perspectives. Otak cupu gw bersabda: "ngeri juga ya perkapitalismean zaman ini"
Sains selalu menantang konsep-konsep teologi paling mendasar. Stephen Hawking, Dawkins beserta rombongannya, membangun "agama" baru di muka bumi melalui sains-kontrateistik.
Sementara pada sisi yang lain, para pemeluk agama masih sibuk berdebat soal teks dan konteks masa lalu yang dipaksa "paling ideal" untuk diterapkan hari ini. Sebagian para pemikir agama masih saja asyik bertempur dengan klaim-klaim otentisitas dan revivalistik yang telah terwariskan selama ratusan tahun.
Para pemikir agama era moderen masih belum sanggup beranjak. Kita masih sibuk dengan perdebatan-perdebatan fisik yang selalu dipaksa menjadi metafisik ketika sains sudah sejak lama menjangkau "beyond of metaphysics".
Akhirnya, akselerasi peradaban manusia seolah tidak bisa lagi diimbangi oleh diskursus teologi. Pada saat yang sama, dunia sains mengambil ceruk kosong wilayah ini. Dan di satu sisi juga, pemeluk agama terjebak paksa dalam aksi-aksi penghakiman kepada sesama umat manusia untuk sesuatu yang sama sekali ditolak oleh sains.
Jadi wajar kalau ateisme semakin populer karena agama seolah tidak mampu lagi berbanding sejajar dengan akselerasi peradaban manusia. Di Bandara Dubai saya menemukan buku-buku penulis "Neo-atheism" seperti Dawkins. Di sebuah toko buku di sudut sempit kota Bouficha, Tunisia, saya menemukan tulisan Hawking dan Darwin.
Itulah fakta yang ada hari ini. Silakan kita saling mencaci dan menghakimi antar sesama pemeluk agama. Teruslah kita sibuk dengan perdebatan remeh temeh yang tak pernah ada habisnya. "Lanjutkan pembantaian-pembantaian atas nama tuhanmu, sosok menakutkan yang kalian ciptakan sendiri itu..", kata Nietzsche.
Dalam konteks Islam, dunia sains hari ini pada dasarnya adalah bagian dari kontribusi para pemikir Muslim abad pertengahan. Sejarah membuktikan itu. Namun ilmu pengetahuan Islam semakin meredup setelah Islam terus menerus digiring paksa oleh pemeluknya ke arah gerakan-gerakan politik. Selanjutnya Islam tidak lagi mampu melahirkan tokoh-tokoh sains sekelas ahli kimia Jabir ibnu Hayyan atau pakar matematika Al-Khawarizmi. Yang dilahirkan hari ini justeru sosok-sosok seperti Osamah bin Laden, Abu Bakar al-Baghdadi atau Abu Bakar Ba'asyir.