YOUR WHOLE LIFE IS POLITICAL.
Politics is not only about governments, laws, or people in power. It’s about what you’ll eat tomorrow, whether you can find a decent job with a decent salary, and what kind of life you can afford to live in your own country.
Politics is woven into nearly every part of your daily life. You can’t escape it.
Make your voice heard.
You pay taxes. You deserve BETTER than a country where the people are struggling and the president chooses to mock them instead.
Kawal terus #SampaiMenang💪🏻
Jika dibandingkan waktu demo tahun lalu. Kita semua bisa cek CCTV, sampe ada ojol dilindes kendaraan taktikal pun langsung keliatan dari CCTV. Semua media berlomba2 menayangkan Breaking News Live.
Tahun sekarang? Cuma Kompas TV yang berani menayangkan aksi demo. Sedangkan media lain bungkam, udah dibeli oleh rezim. CCTV pun dimatiin.
Para pendemo dihalangi dan gak sampe ke titik orasi. Rakyat dibungkam bahkan sebelum sempat bicara. Ini bener2 ngeri sih.
Gimana? Udah berasa hawa orbanya?
Rupiah Tiba-Tiba Menguat? Ini Cerita Sebenarnya
Buzzer di media sosial heboh gara-gara rupiah mendadak balik ke level 17.779 dan IHSG melonjak dua persen dalam sehari. Muncul berbagai teori, ada yang mengeklaim kalau ini hasil ekspor batu bara yang melejit ada juga yang bilang ini tanda ekonomi kita sudah sembuh total.
Sayangnya, tebakan itu semua keliru karena ada dalang lain yang bikin skenario ini terjadi dalam hitungan jam.
Bank Indonesia, Sang Game Master di Ranah Ekonomi
Bank Indonesia bukan tempat biasa buat kamu menabung atau bikin kartu debit. Mereka adalah bank sentral yang bertindak sebagai sutradara dari seluruh sistem keuangan di negara kita. Senjata utama mereka bernama BI Rate, yaitu suku bunga acuan yang mengatur mahal atau murahnya semua bunga bank di Indonesia.
Pada tanggal 9 Juni kemarin, Bank Indonesia menggelar rapat mendadak yang cukup mengejutkan pasar. Mereka menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Ini adalah kenaikan ketiga sepanjang tahun 2026 dengan total kenaikan mencapai 75 basis poin.
Langkah agresif ini diambil karena rupiah sedang babak belur dihantam oleh sentimen global. Konflik di Timur Tengah membuat dolar Amerika Serikat menguat tajam sehingga investor asing kabur dari Indonesia. Akhirnya Bank Indonesia menaikkan bunga biar investor asing mau tetap menyimpan uangnya di dalam negeri.
Masalahnya, Dompet Kita yang Menanggung Biayanya
Di balik berita gembira soal angka bursa yang menghijau, ada harga mahal yang harus dibayar oleh masyarakat. Saat BI Rate naik, bank-bank komersial otomatis bakal menyesuaikan bunga kredit mereka. Efek domino ini bakal langsung terasa ke dompet dan pengeluaran bulanan kamu.
Bagi yang punya cicilan rumah dengan skema bunga floating rate, siap-siap saja tagihannya naik dalam beberapa bulan ke depan. Begitu juga buat sebagian yang lagi mencicil kendaraan bermotor. Angka cicilan yang tadinya sudah kamu hitung pas dengan gaji bulanan bisa mendadak berubah. Kecuali jika cicilan kalian akadnya syariah ya, kalau itu sih flat.
Sektor UMKM juga menjadi pihak yang paling terpukul akibat kebijakan ini. Pelaku usaha kecil yang butuh modal dari bank harus membayar bunga yang jauh lebih mahal. Biaya modal yang naik bikin keuntungan menipis, sehingga banyak pengusaha akan memilih menunda ekspansi atau bahkan terpaksa melakukan PHK.
Jangan lupakan juga masalah harga barang-barang impor yang masih tinggi. Level 17.779 itu sebenarnya masih jauh dari kata sehat kalau dibanding kondisi dua tahun lalu. Jadi, harga gawai, komponen elektronik, bahan baku pabrik, sampai makanan impor masih bakal tetap terasa mahal.
Satu-satunya kabar baik cuma berlaku buat para pemilik deposito karena bunga simpanan mereka ikut naik. Namun keuntungan ini hanya relevan buat orang yang punya banyak uang menganggur. Bagi masyarakat yang hidupnya pas-pasan, kebijakan ini jelas lebih banyak memberikan beban daripada manfaat.
Solusi Instan yang Bersifat Sementara
Jujur saja, kenaikan suku bunga ini ibaratnya Paracetamol, kebijakan ini hanya meredakan gejala di permukaan tanpa menyembuhkan penyakit utamanya.
Supaya rupiah bisa stabil dalam jangka panjang, kita butuh ekspor yang kuat dan investasi asing yang masuk secara konsisten.
Jika konflik global terus memanas, Bank Indonesia terpaksa harus menaikkan suku bunga mereka lagi. Itu berarti beban cicilan kita semua bakal semakin berat ke depannya.
Rupiah yang menguat hari ini bukan tanda ekonomi kita sudah pulih, melainkan tanda bahwa pemerintah sedang menahan banjir dengan ember seadanya.
Aku gak QRT akun cenblue dungu ini, gak mau kasih panggung buat ragebaiter murahan. Buat yang follow dia, please blok aja.
Dear kelas menengah.. menjadi "tonedeaf" terhadap ketidakadilan yang berdampak langsung pada hidup kalian sendiri bukanlah sikap netral, melainkan bentuk ketidakpedulian.
Ada batas antara ketidaktahuan
dan kebodohan yang dipelihara.
aku sedihh liat ini… karena aku tau kalo from the very beginning WE NEVER HATED INDONESIA. not even a bit. yang kita benci tuh korupsinya, nepotisme, keserakahan oligarki, dan orang yg dzalim. we love this country so much, and that’s why it hurts to see it getting ruined by them
keren nih BEm UGM sebelum demo
kasih panduan buat yang mau ikut
hal hal yang boleh di lakukan
dan hal hal yang tidak boleh dilakukan
inti seruan mereka hari ini:
- pajak UMKM
- UU polri
- BBM naik
- MBG rungkad
- rupiah melemah
- militarisme
hari ini lu masih bisa makan enak, masih bisa tidur nyenyak. besok bisa jadi temen lu, keluarga lu, bahkan lu sendiri ga bisa hidup tenang karna pemerintahan yg makin chaos.
jadi jgn pernah blg demo itu nyusahin. sadari sekitar lu sebelum kena ke lu. lawan sebelum terlambat.
gw suka banget sama konten mereka dari jaman masih dibawah brand.
kontennya kocak kocak dan tak lupa diselipin satir politik.
dan tadi mereka juga ikutan demo.
respect banget sama Hecticholic🙌🙌
- Ga bisa menangani bencana Sumatra? Dibelain.
- Keluar negeri terus? Dibelain.
- Kurban pakai APBN? Dibelain.
- Rupiah melemah? Dibelain.
- BBM naik? Dibelain.
- Harga kebutuhan pokok naik? Dibelain.
- PHK massal terjadi? Dibelain.
- Daya beli masyarakat turun? Dibelain.
- Utang negara bertambah? Dibelain.
- Pajak dinaikkan? Dibelain.
- Defisit melebar? Dibelain.
- IHSG anjlok? Dibelain.
- Lapangan kerja seret? Dibelain.
- Investasi mandek? Dibelain.
- Harga beras naik? Dibelain.
- Harga listrik naik? Dibelain.
- Program kontroversial jalan terus? Dibelain.
- Pejabat bikin pernyataan blunder? Dibelain.
- Kritik publik diabaikan? Dibelain.
- Demonstrasi mahasiswa diremehkan? Dibelain.
- Janji kampanye belum terealisasi? Dibelain.
- Menteri bermasalah dipertahankan? Dibelain.
- Kabinet gemuk? Dibelain.
- Anggaran membengkak? Dibelain.
- Kepercayaan pasar turun? Dibelain.
- Rating pemerintah turun? Dibelain.
- Apa pun yang terjadi: Dibelain.
Siapa pun yang mengkritik:
Disalahin.
Sesuci itu kah sosok yg pernah ada ISU HAM ini di mata kalian?
Demo mahasiswa dan buruh menghasilkan:
1) Jam kerja 8 jam sehari, lebih dari itu wajib dihitung lembur.
2) Ada upah minimum, UMR, buat buruh atau karyawan perusahaan.
3) UMR juga tiap tahun disesuaikan dengan inflasi dan kebutuhan hidup.
Mau kaya gaji pokok PNS yang gak berubah dari tiga puluh tahun lalu? Kaya tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah dari 2007? Tuh kalau gak pernah demo, suka-suka mereka.
4) THR juga hasil demo tahun 1960an. Kita masih nikmatin sampai hari ini.
5) BPJS ketenagakerjaan.
6) Cuti tahunan minimum 12 hari.
7) Reformasi. Suharto turun.
Kalau nggak mungkin hari ini semua sosmed diblokir sama "Departemen Penerangan".
Mungkin semua berita di TV cuma datang dari "Berita Malam" sama "Dunia Dalam Berita" punya TVRI dan direlay semua TV swasta.
Pidato Presiden selalu live. Mau kalian dengerin "nyenyenye" live?
***
Semua itu kita nikmati hari ini.
Gitu banyak yang nyinyirin rakyat demo.
Macet paling berapa jam sih?
Jangan nyinyir sama pendemo.
THR, upah minimum, hak lembur, sampai Reformasi 1998 yang membuka jalan demokrasi hari ini. Semuanya lahir dari orang-orang yang berani bersuara dan turun ke jalan.
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.