Buat yang masih bingung risk-off itu apa, gampangnya gini.
Beberapa tahun terakhir, kalau saham turun, obligasi biasanya ikut turun. Dua-duanya dijual barengan karena orang takut inflasi.
Hari ini polanya balik. Saham Asia rontok: Kospi turun 3,5%, Hang Seng 3%, Nikkei 2,4%. Saham teknologi AS juga dibuka merah.
Obligasi AS malah diburu. Yield 10 tahunnya turun ke titik terendah dalam sebulan, VIX naik hampir 8%. Orang lagi kabur dari aset berisiko ke tempat yang dianggap aman. Itu risk-off.
Yang menarik buat kita di Indonesia: waktu obligasi AS jadi tempat berlindung, obligasi kita malah dilepas. Yield SBN 10 tahun sempat naik ke 7,44%, rupiah sempat tembus 18.000, asing jual saham sekitar Rp1,47 triliun.
Saat dunia lagi takut, negara berkembang biasanya ditinggal duluan.
Jadi pelan-pelan dulu. Jangan all in cuma karena indeks hijau tiga hari.
Indonesian President Prabowo Subianto has a message for global index provider MSCI: Indonesia "is not afraid of anyone."
His comments came days after MSCI said it was considering moving the country down from emerging-market to standalone status, sending its stocks tumbling. Full story: https://t.co/Gygsq1VkQq
📷: Dimas Ardian/Bloomberg
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.