“jangan membandingkan hidupmu dengan orang lain” memang benar, tapi menurutku hampir mustahil untuk nggak pernah membandingkan. yang penting bukan nggak pernah membandingkan, tapi jangan sampai pencapaian orang lain membuat kita merasa hidup kita nggak ada nilainya.
umur bukan jaminan seseorang sudah dewasa secara emosional. ada orang yang masih muda tapi bisa berkomunikasi dengan sangat sehat, ada juga yang sudah jauh lebih tua tapi setiap konflik selalu menghilang atau menyalahkan orang lain. kedewasaan lebih kelihatan dari cara seseorang menghadapi masalah daripada angka umur.
menurutku orang yang berubah setelah mendapatkan apa yang mereka mau bukan selalu berarti mereka fake dari awal. manusia bisa berubah, prioritas bisa berubah, perasaan bisa berubah. yang jadi masalah adalah ketika perubahan itu membuat mereka memperlakukan orang lain tanpa rasa hormat.
mungkin salah satu alasan kita sulit move on bukan karena orang itu benar-benar “the one”, tapi karena kita terlalu lama membayangkan versi masa depan yang seharusnya terjadi bersama dia. jadi sebenarnya yang kita tangisi orangnya, atau kehidupan yang nggak pernah sempat terjadi?
“jangan terlalu berharap sama orang lain” terdengar bijak, tapi menurutku dalam hubungan tertentu kita memang berhak punya ekspektasi. kalau sudah sepakat saling menghargai, komunikasi, dan menjaga kepercayaan, berharap hal-hal dasar itu bukan berarti terlalu menuntut.
“kalau dia mau, dia pasti usaha” itu nggak selalu benar. manusia punya masalah, ketakutan, kondisi hidup, dan cara komunikasi yang beda-beda. tapi di sisi lain, kalau kita terus-terusan mencari alasan untuk seseorang yang nggak pernah menunjukkan usaha, bukannya kita cuma sedang membela orang yang memang nggak memilih kita?
kalian pernah nggak sengaja menghilang dari semua orang cuma karena lagi nggak punya energi buat menjelaskan keadaan? bukan marah, bukan benci, cuma benar-benar pengen sendirian dulu. terus pas udah baikan malah bingung gimana cara muncul lagi 😭
aku merasa banyak orang sebenarnya bukan takut gagal, tapi takut sudah berusaha semaksimal mungkin lalu hasilnya tetap nggak sesuai harapan. karena kalau gagal setelah berusaha sedikit, kita masih bisa bilang “harusnya gue coba lebih keras.” tapi kalau sudah kasih semuanya dan tetap nggak berhasil, terus kita menyalahkan apa?
GIVEAWAY TIME! 🎉
GIVEAWAY SALDO + VOUCHER!!!
Cara ikutan:
Like + RT tweet ini
Follow akun x @photomaticsid
Follow instagram @photomaticsid
Reply tweet ini dengan ketik "photomatics" dan bukti follow yaaa!
GASSS KEUN
makin dewasa aku makin sadar kalau ternyata punya banyak teman nggak selalu berarti punya tempat buat cerita. kadang kita kenal banyak orang, ngobrol sama banyak orang, tapi tetap ada satu titik di mana kita bingung harus cerita ke siapa. kalian pernah ngerasa gini juga nggak?
salah satu hal yang paling susah dari jadi dewasa menurutku adalah menerima kenyataan kalau nggak semua hubungan harus dipertahankan. ada orang yang dulu dekat banget, sekarang cuma jadi nama di contact list. nggak ada yang salah, cuma hidupnya udah beda arah. kalian pernah kehilangan seseorang karena tumbuh ke arah yang berbeda?
kalian pernah nggak merasa tertinggal karena melihat teman-teman mulai menikah, punya karier, punya rumah, atau kelihatan sudah tahu mau dibawa ke mana hidupnya, sementara kalian masih merasa “gue sebenarnya lagi ngapain ya?” aku rasa banyak orang mengalami ini tapi jarang dibicarakan. kalau kalian pernah, biasanya kalian ngatasinnya gimana?