Kalau kalian ngeliat buzzers atau netizen asal nyalahin orang Dayak atas kebakaran hutan di Kalimantan, please jangan langsung kemakan narasi itu ya. It’s true kalau beberapa suku Dayak punya tradisi berladang gilir balik atau slash-and-burn, tapi menyamakan ritual adat ini dengan deforestasi skala masif itu sama sekali gak akurat dan salah besar. Sedikit insight, masyarakat adat Dayak punya sistem dan aturan ketat setiap kali mau buka lahan. Gua bisa ngomong gini karena gua tumbuh dan ngeliat langsung pengalaman Nenek dan Kakek gua sendiri yang hidup melestarikan tradisi ini. Mereka gak asal main lempar api. Apalagi pas musim kemarau ekstrem, kebanyakan justru milih buat bersihin lahan secara manual lewat gotong royong biar gak berisiko. Kalaupun harus membakar, ada teknik khusus seperti bikin sekat bakar supaya apinya cuma terpusat di satu titik dan gampang dikendalikan. Jadi, prosesnya sangat terukur dan gak bakal menjalar ke mana-mana. Tradisi berladang itu cara mereka bertahan hidup secara mandiri. Lagipula secara kapasitas, mereka gak akan sanggup ngebakar lahan dalam skala besar. Logika sederhana aja deh, kalau emang tradisi Dayak ini sifatnya merusak dan bikin kebakaran hebat, harusnya hutan Kalimantan udah habis dari ratusan tahun lalu, bukan baru parah dalam beberapa dekade terakhir pas industri skala besar masuk.