Dulu VOC datang berdagang lalu menjajah selama 350th
kini CINA PKI datang berdagang lalu mengganti UUD '45
KINI BANGSAKU DIJAJAH OLEH NARKOBA dari CINA PKI
My dear mantan pejabat,
🛳️ Kapal Pertamina itu belum lewat. Per detik ini, masih belum. Yg betulan sudah lewat, China, Rusia, India, Pakistan, Thailand, Malaysia, dan beberapa negara lain. Itu betul, kita sudah dikasih izin secara diplomasi, tapi prosedur militer Iran belum mengizinkan. Boleh jadi militer Iran menganggap kita bukan kawan lagi. Malaysia dan Thailand sih sudah lewat betulan, bukan klaim omon-omon.
=Berhentilah membodohi Publik
**sumber video: akun medsos "Pengajian Gus Miftah"
Khamenei, Chip, dan Pengkhianatan
Teheran mendadak sunyi. Langit di atas Alborz tampak abu-abu. Kabar itu berhembus lewat pesan singkat yang terenkripsi. Ali Khamenei, Sang Rahbar, telah tiada.
Kematiannya bukan karena usia. Bukan pula karena sakit yang lama diidapnya. Ia takluk oleh sesuatu yang tak terlihat.
Semuanya bermula dari teknologi. Sangat canggih. Hampir tidak masuk akal. Iran merasa sudah sangat aman. Mereka menggunakan sistem pertahanan siber berlapis. Tapi ada satu celah: ketergantungan.
Banyak perangkat keras di jantung pemerintahan justru buatan Amerika. Ironis.
Teheran membeli perangkat itu lewat jalur gelap. Lewat pihak ketiga di Dubai dan Turki. Mereka pikir itu aman. Ternyata tidak. Chip di dalam server utama punya "pintu belakang". Istilah teknisnya hardware backdoor. Pembuatnya di Silicon Valley tahu persis cara membukanya.
Peretasan itu berjalan halus. Seperti mentega di atas roti panas. Protokol keamanan lumpuh seketika. Radar tidak menangkap apa pun. Kamera pengawas di kompleks kediaman mendadak freeze. Gambar yang muncul hanya rekaman sejam lalu. Di balik layar, sebuah operasi presisi sedang berlangsung.
Tapi teknologi saja tidak cukup. Harus ada orang dalam. Di sinilah letak dramanya. Pengkhianatan terjadi di lingkaran elit. Beberapa pejabat tinggi merasa masa depan Iran buntu. Mereka butuh perubahan. Atau mungkin, mereka butuh pengampunan dari sanksi internasional.
Para pembelot ini memberi koordinat. Mereka mematikan sistem sensor manual. Tanpa mereka, teknologi secanggih apa pun akan sulit menembus bunker beton.
Pengkhianatan ini bersifat sistemik. Dilakukan oleh mereka yang selama ini berdiri paling dekat dengan kursi kekuasaan.
Kondisi ekonomi Iran juga mendukung. Rakyat sudah lelah. Inflasi menggila. Harga roti melonjak lima kali lipat. Rial tidak lebih berharga dari kertas bekas. Moral aparat di titik terendah. Gaji mereka tidak cukup untuk makan sebulan. Loyalitas pun luntur.
Uang bisa membeli segalanya di Teheran saat ini. Termasuk informasi rahasia. Ekonomi yang hancur membuat benteng pertahanan keropos dari dalam. Orang lebih takut lapar daripada takut pada ideologi. Itulah celah terbesar yang dimanfaatkan pihak lawan.
Operasi itu berakhir cepat. Tanpa ledakan besar. Hanya satu serangan titik yang sangat akurat. Teknologi AI memandu proyektil menembus jendela yang tepat. Sang Rahbar jatuh di atas permadani Isfahan miliknya. Sebuah era besar di Timur Tengah resmi terkubur.
Dunia kini menahan napas. Iran sedang di persimpangan. Antara bangkit dengan wajah baru atau tenggelam dalam kekacauan. Sejarah baru saja ditulis dengan tinta yang sangat mahal. Gabungan antara chip Amerika, pengkhianatan elit, dan perut rakyat yang lapar.
Isbat Rasa Sop Buntut
Luar biasa kreatifnya mantan imam Istiqlal ini. Setelah naik jet, menentukan hilal kok malah di Hotel Borobudur, bukan di Masjid Istiqlal yang megahnya sudah mendunia. Sepertinya kesaksian hilal memang butuh aroma Sop Buntut legendaris agar lebih cepat menembus langit kebijakan yang makin sulit dicerna nalar.
Inilah seni toleransi yang sungsang; mencampuradukkan urusan ibadah dengan kenyamanan hotel berbintang yang biayanya sanggup membuat rakyat kecil menangis berjamaah. Kalau di masjid dianggap kurang mentereng untuk sorotan kamera, jangan-jangan besok penetapan hari raya harus pindah ke ballroom mewah demi sepiring hidangan kelas atas para pemegang kuasa. Kita sedang dipaksa menelan gimik visual yang dibungkus jubah keberagaman, padahal esensinya hanyalah kebingungan prioritas dari penguasa yang lebih haus panggung daripada haus akan ketakwaan yang tulus.
Masih mau bicara soal kemurnian syariat, atau sudah terlalu nyaman dengan akrobat pencitraan yang aromanya lebih kental bau kuah kaldu daripada bau keberkahan?
Repost jika menurut anda ini adalah bentuk pemborosan yang memuakkan!
@prabowo@jokowi@aniesbaswedan @NasaruddinUmar_ @Kemenag_RI@Hilmi28@m_andry@Mdy_Asmara1701@PaltiWest@Aryprasetyo85@opposite6890 @KopiVirkal @abu_waras @sosmed_politik @BosPurwa #SidangIsbat #HotelBorobudur #SopBuntut #IstiqlalDilupakan #GayaElite #BorosAnggaran #Kemenag #HilalSungsang #SirkusBirokrasi #IndonesiaEmas2045
@luckienst Rambut?
Kapan majunya bangsa ini?
Kata seragam aja kaga paham
Dikiranya seragam ntu outfit doang?
Keseragaman meminimalisir kesenjangan, ya kayak demo maren ntu akibat kesenjangan antara Aleg dan rakyat jelata