Menyampaikan pesan & harapan perubahan kedepannya bersama @cakimiNOW agar petani milenial bisa bertahan disamping kemajuan teknologi industri, sebab kami di daerah bisa bertahan hidup pada satu sumber pertanian.
@DPP_PKB@cakimiNOW@dpngerbangtani
Penggunaan politisasi agama telah memiliki pengaruh korosif di sepanjang sejarah manusia. Ini terus menyulut dan mempertahankan konflik global yang paling sulit diselesaikan hingga hari ini. Politisasi agama terjadi pada sejarah agama apapun.
Sebagian besar pelanggaran pemeluk agama terburuk selalu terjadi ketika agama dikaitkan paksa dengan kepentingan politik. Situasi itu membawa hasil yang sama; membangun kebencian satu sama lain.
Tren ke arah cita-cita negara teokrasi sedang berlangsung di beberapa negara. Dan itu memiliki pengaruh yang signifikan atas kelompok sosial dan individu di seluruh dunia, termasuk negara-negara Barat.
Banyak orang begitu mudahnya memaksa untuk kembali kepada ideologi politik masa lalu yang cenderung totaliter dengan anggapan sebagai referensi paling ideal. Padahal sejarah membuktikan, totalitarianisme masa lalu atau masa kini (apapun ideologi politiknya) seringkali dipenuhi oleh berbagai aksi dehumanisme demi ekspansi atau mempertahankan kursi kekuasaan.
Gelombang demokrasi di seluruh dunia telah membuat kesalahan besar ketika berhadapan dengan konflik ideologis yang dimainkan oleh para pengusung politisasi agama. Mereka ingin membatasi kebebasan rakyat dalam bersuara, karena dengan atas nama agama mereka akan lebih leluasa membangun kepatuhan paksa melalui dogma.
Jangan pernah mengaku toleran jika sejak awal sudah memaksakan puncak kekuasaan harus berada dalam kendali satu kelompok saja. Karena semua praktik totalitarianisme dimulai dari ambisi politik seperti ini. Saya teringat tulisan David Roberts dalam Vox; "jubah-jubah agama dalam pencapaian kekuasaan politik akan membuat orang cenderung totaliter, karena ia merasa diberi mandat oleh Tuhan untuk berbuat apapun".
Sejarah lalu membuktikan, politisasi agama hanyalah akselerasi menuju kemunafikan politik kolektif. Dan bagi manusia moderen, politisasi agama menjadi salah satu upaya untuk melahirkan kembali bangunan politik masa lalu yang jauh lebih brutal bernama: fasisme!
Makam Pahlawan hanya untuk mereka yang dicatat oleh birokrasi, dan kata "pahlawan" itu sendiri adalah cara pandang. Pahlawan sejatinya adalah semat yang kadang harus lepas dari bisingnya kategori. Pahlawan bisa terkubur dimana saja, bahkan melebur bersama udara dan samudera tanpa nama.
8 Mei 1993, hari itu Marsinah meninggal dunia setelah sebelumnya dijemput 10 orang bertubuh kekar. Tidak ada enkripsi apalagi testimoni. Hanya secarik otopsi yang menyatakan dia mengalami penganiayaan berat: kemaluannya hancur dan tengkorak kepalanya rusak oleh hantaman benda tumpul.
Marsinah meregang nyawa setelah rasa sakitnya tak tertahan. Perjuangannya sebagai buruh yang menyuarakan ketidakadilan dihabisi tak tersisa. Ia berjuang demi kenaikan upah dari 1.700 menjadi 2.250 di pabrik arloji tempatnya bekerja. Angka yang tak berbanding lurus dengan hilangnya satu nyawa.
Beberapa orang ditangkap dan diadili - mereka yang pada dasarnya tidak tahu apa-apa. Dalam sidang pengadilan mereka divonis beragam, yang pada akhirnya dibebaskan oleh sidang lanjutan setelah ternyata para terdakwa tidak terlibat apapun. Mereka bebas murni. Pelaku sebenarnya tidak pernah terungkap hingga sekarang.
Marsinah berada di waktu yang salah. Dia hidup di masa Orde Baru dimana nyawa kaum jelata kadang sesederhana rekayasa. Tapi takdir memang bukan wacana yang bisa ditawar. Keberanian di hadapan para pengecut, seringkali harus dihadapi dengan persekusi. Keberanian seorang Marsinah dalam kegelisahan totalitarian, sama dengan jumlah pasukan berlapis-lapis.
Marsinah mewakili ribuan pahlawan lainnya yang tak sempat bersaksi saat ini; betapa lumuran darah telah menghiasi tangan Orde Baru. Yang oleh keluarga dan para penjilatnya sekarang, anyir darah disulap paksa beraroma melati. Aroma bunga yang sejatinya milik "Marsinah-Marsinah" yang telah terkubur tanpa salvo.
Wahai anak muda hari ini, banyaklah bertanya. Itulah suasana pada masa Orde Baru. Kalian juga harus tahu, betapa keberanian masa itu harus berlarian di tengah intaian banyak tikus yang mengerat di lumbung padi Cendana. Kalian telah melewati rasa pucat dan tumpahan darah generasi sebelumnya. Kebebasan yang kalian rasakan hari ini sebenarnya berdiri di atas tumpukan jiwa yang terborgol selama puluhan tahun.
Anak muda, kisah ini ditulis karena kami menolak lupa. Agar kalian sebagai generasi masa depan bisa mencatat untuk diteruskan kepada generasi berikutnya, bahwa kita tidak boleh lagi memiliki penguasa yang tidak sanggup menguasai dirinya sendiri.