Rule number 1:
Kalo mau hubungan kamu berhasil itu adalah dengan 'percaya'. Percaya kalo true love itu ada, cowo baik itu ada, cinta dan hubungan yg sehat itu bisa dibangun.
Kamu memancarkan energi kekurangan kalo terus-terusan ovt dan secara gak sadar bisa menciptakan hubungan toxic, mau itu hts, friendzone, fwb, atau sejenisnya.
Udaah bahas hal ini samaa mas calonn xixi, aku gak pinter masak, tapi untuk yang basic bisaa, mauu belajar asal diawal adaa direction yang jelas dan bisa ku evolve along the way, dan ku gak suka pedes, udah sering bilang "maaf aku masaknya gak sejago bunda kamu" respon dia:
Guys...
Jadi sebelum nikah, ada cewek yang jujur banget sama calon suaminya.
Dia bilang terang-terangan, aku nggak bisa cuci baju, emosian kalau nyetrika, nggak suka nyapu, nggak suka disuruh-suruh.
Tapi aku suka cuci piring, lumayan sering masak, dan pinter organize hal-hal.
Kebanyakan orang mungkin akan salting dengernya. Atau langsung pasang muka serius.
Tapi si cowok ini jawabnya begini.
"Kalau kamu males cuci baju dan nyetrika, kan ada laundry. Kalau kamu nggak suka nyapu, aku yang nyapu. Aku cari istri, bukan pembantu. Kalau sekedar basic skill di rumah, aku juga bisa, nggak perlu kamu."
Guys. Kalimat itu.
Dan bukan cuma omongan kosong. Empat bulan setelah nikah dan ngontrak bareng, terbukti. Urusan beres-beres rumah, nyapu, ngepel, bersihin kamar mandi, elapelap kaca dan pintu, semua si suami yang pegang. Si istri fokus ke belanja kebutuhan rumah, masak, dan cuci piring.
Keduanya sama-sama kerja. Dan mereka nemu sistem yang bikin keduanya nyaman, bukan cemberut, bukan paksa-paksaan.
Yang bikin makin gemes, setiap habis si suami beresin rumah, si istri dengan sadar diri bikinin es kopi, masakin makanan kesukaan dia, atau mijitin. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia ngerasa itu adil dan dia mau.
Dan yang paling lucu, tiap si istri masak, mau sesederhana apapun, telur orak-arik sama nugget goreng pun, suaminya bilang enak. Sampai si istri dalem hati bingung sendiri, ini suami ngeledek apa beneran enak sih.
Guys, kadang kita takut nikah karena takut kehilangan diri sendiri. Takut harus jadi versi yang berbeda, yang lebih nurut, yang lebih diem, yang lebih nahan.
Tapi cerita ini nunjukin kalau ketemu orang yang tepat itu beda rasanya. Kekurangan kamu bukan jadi senjata untuk nyerang kamu. Tapi jadi puzzle yang dicari pasangannya cara untuk saling melengkapi.
Pernikahan nggak harus bikin kamu jadi orang lain. Yang bener itu pernikahan bikin kamu jadi versi terbaik dari diri kamu sendiri, bareng orang yang tepat.
Semoga mereka langgeng. Dan semoga yang lagi takut nikah karena trauma patriarki bisa ketemu yang kayak gini juga.
Kalian gimana guys, masih takut nikah atau udah mulai percaya ada yang kayak gini di luar sana?
"gapapaa kan nanti bisa belajaar, orang kan bisa masak gak langsung jago, belajar dulu", atau misal lagi ngomongin nyicil isi rumah, lagi diskusi apa aja yang harus kebeli dulu, ku bilang mesin cuci juga penting, kata dia "bisa belakangan itu mah, kan ada londri"
Yang dilakukan sr account
- bangun pagi
- ngumpulin nyawa
- keramas, keringin, nyatok di kantor
- berangkat set 10 (dengan sudah screening chat WA group)
- nyampe kantor, ngopi, lunch, bikin TDL
- kerjain TDL yang gak ada abis nya itu
- pulang dengan menyisakan TDL
Setuju banget dengan trend "love should be fun"
Kamu butuh cowok pintar yang bisa dominan, cowok yang bisa kasih penjelasan logis tentang overthinkingmu, tidak lari/kabur saat ada masalah, konsisten mencintaimu, enggak insecure dan terlalu santai, action dan effort nya nyata bukan cuman janji atau ucapan belaka, jadi tempat pulang ketika kamu lelah bukan adu "capek", tidak menghambat pertemanan, pendidikan, pekerjaanmu dan paling penting SETIA !
- Diterima baik oleh orang tuanya.
- Dicintai hebat oleh anaknya.
- Dan diridhoi Allah pernikahannya.
“Semoga Allah pertemukan segera dengannya” AAMIIN
Ya Allah, let me marry once and marry right. Grant me a good spouse and let me marry into a good family where I'm genuinely loved. Protect me from the trials of marriage and grant me eternal peace in my home.
pada akhirnya, bukan lagi
"if he want, he would"
tapi "if Allah has written it for you, it will find its way to you, at the right time, in the right way"
inget, apa yang emang buat kamu, pasti akan jadi milikmu, dan gaakan jadi milik orang lain.
A Gen Z joined the team.
Week one.
During onboarding, the manager said,
“We sometimes stay late during peak periods.”
Gen Z nodded.
Then asked,
“Is that paid… or just expected?”
The room went quiet.
- No attitude.
- No rebellion.
- Just a question.
Later that day, HR mentioned “growth opportunities.”
Gen Z replied,
“Does growth include raises, or just more responsibility?”
Again, silence.
- No laziness.
- No entitlement.
- Just clarity.
That’s when the team realized something.
When people say
“Gen Z is lazy,”
what they really mean is:
Gen Z watched old generation
- skip meals,
- miss birthdays,
- work weekends,
- and burn out
only to be told
“budgets are tight”
and “be grateful you have a job.”
So Gen Z chose differently.
- They don’t romanticize overwork.
- They don’t confuse suffering with ambition.
- They don’t trade health for praise.
They still work hard.
They just refuse to work for nothing.
It’s not laziness.
It’s pattern recognition.
And honestly,
after everything old generation went through…
Can you really blame them?