barusan di jalan pulang, di lampu merah, ada bapak” bonceng anaknya, anaknya lagi nangis, terus bapaknya tbtb teriak “ANAK SAYA LOLOS KEDOKTERAN UGM” semuanya langsung noleh dan tepuk tangan ngucapin, anaknya tambah nangis, HER DAD MUST HAVE BEEN SO PROUD🤎🤍🥹🥹😭😭
Gue punya temen yang pertama kali merantau ke Jakarta, dia masuk kerja di salah satu kantor di pusat kota.
Hari pertama, dia langsung ngerasa salah tempat.
Bukan karena dia nggak kompeten, tapi karena lingkungannya beda banget.
Orang-orang di kantornya ngomong campur Inggris, santai bahas kuliah di luar negeri kayak University of New South Wales atau Monash University, seolah itu hal biasa.
Sementara dia?
Dari kampus daerah, nongkrongnya dulu kopi sachet, mainnya kartu sama temen-temen.
Kontrasnya kerasa banget.
Hari pertama aja dia udah minder.
Dia cerita ke gue, Gue ngerasa paling nggak nyambung di ruangan itu.
Bahkan hal simpel kayak nanya kuliah di mana bisa jadi awkward, karena jawabannya beda dunia.
Dia sempet mikir kalau dia kurang pintar, kurang keren, bahkan sempet kepikiran apa gue nggak pantes di sini ya?
Tapi makin lama dia mulai sadar sesuatu yang cukup nendang.
Ternyata bukan dia yang kurang tapi banyak dari mereka emang udah punya start lebih dulu.
Dari SMA udah di luar negeri, udah biasa presentasi, udah terbiasa ngomong dengan cara yang terdengar pintar.
Jadi pas masuk kerja, mereka keliatan langsung siap. Sementara temen gue?
Baru belajar semua itu dari nol di dunia kerja.
Yang bikin dia makin kaget, ada beberapa orang yang keliatannya santai banget, kerjanya nggak terlalu keliatan, tapi posisinya aman.
Setelah dia cari tahu pelan-pelan, ternyata background keluarganya bukan kaleng-kaleng.
Dari situ dia mulai ngerti, di Jakarta itu bukan cuma soal kerja keras tapi juga soal lu mulai dari mana.
Dia juga pernah cerita pengalaman lain yang bikin dia makin kebuka matanya.
Pernah dia kerja di tempat yang secara logika bisnis nggak masuk akalnggak jelas profitnya, tapi tetap jalan terus.
Dia sampe nanya ke seniornya, ini kok bisa hidup ya? Jawabannya simpel, “Udah, nggak usah dipikirin.
Beda dunia.
Di situ dia sadar, buat sebagian orang, kerja atau bisnis itu bukan buat bertahan hidup, tapi cuma aktivitas
Tapi justru dari semua itu, yang paling berubah dari dia bukan skill teknis tapi cara dia melihat diri sendiri. Awalnya dia minder, ngerasa kecil.
Tapi lama-lama dia mulai ngerti
dia mungkin nggak punya privilege yang sama, tapi dia punya daya tahan yang nggak semua orang punya. Dia terbiasa adaptasi, belajar dari nol, dan itu pelan-pelan jadi kelebihan.
Sekarang, setelah beberapa tahun, dia bilang ke gue satu hal yang cukup pedas tapi jujur
Di Jakarta, lu bakal ketemu orang yang keliatan jauh di atas lu.
Tapi bukan berarti mereka lebih hebat kadang mereka cuma mulai lebih dulu.
Tugas lu bukan ngejar mereka, tapi jangan berhenti jalan.
Dan menurut gue itu poin paling real dari merantau.
@yappingfess beda pandangan politik mah 01 & 03. semua org harusnya sepakat kl wowok paling bobrok. kalo dia 02 bukan beda pandangan politik tapi oon
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
Realitanya, di lingkungan orang orang yang pekerjaannya sudah bagus, mau lo pakai Redmi, Samsung, atau iPhone juga nggak ada yang terlalu peduli. Yang penting HP nya lancar dipakai kerja, nggak lemot.
Yang sering ribut soal pamer iPhone biasanya justru di circle yang masih circle menengah kebawah, bocah bocah sekolah atau orang yang haus validasi yang suka ukur-ukur gengsi.
Kalau di lingkungan lo masih heboh dan pamer2 IPhone, fix sudah waktunya cari circle yang beda.
Pada 2000, Soeharto ditetapkan bersalah mencuri uang cash hampir Rp 6 triliun dari bank-bank negara.
Ini sangat keterlaluan karena kalau dipikir, yang Soeharto hilangkan bukan uang milik bank, melainkan langsung uang di rekening tabungan milik rakyat yang dititipkan ke bank.
Oleh regulasi yang dibuat sendiri oleh Soeharto, bank-bank dipaksa menyimpan uang cash sejumlah triliunan di dalam yayasan-yayasan yang Soeharto kelola secara pribadi.
Setelah dititipkan, uang cash tersebut hilang secara misterius.
Jaksa Agung Marzuki Darusman dan timnya menemukan bahwa ternyata, Soeharto telah mencuri uang cash tersebut.
Yang dihilangkan Soeharto bukan hanya nyawa manusia, melainkan juga uang cash milik rakyat langsung dalam jumlah triliunan.
Setelah dicuri, ternyata uang cash tersebut dibagi-bagikan seperti kue ultah untuk diam-diam disembunyikan dan disimpan berbagai entitas milik keluarga Cendana pribadi.
Meskipun Soeharto ditetapkan bersalah, ia tak pernah dihukum.
Hakim menghentikan persidangan penjatuhan hukuman dengan begitu saja, setelah teror Bom Bursa Efek September 2000.
Apakah majelis hakim takut dibom? Entahlah. Barangkali mereka benar.
Pasalnya, setahun kemudian, Hakim Syafiuddin Kartasasmita yang berani menjatuhkan vonis pidana penjara terhadap anak Soeharto, Tommy Soeharto, dibunuh dengan brutal menggunakan senapan mesin. Ia tewas dengan tubuh berlubang-lubang.
Saat itu Syafiuddin mengusut kasus korupsi yang lebih remeh, yaitu pencurian nilai aset properti Bulog yang dilakukan Tommy Soeharto.
Kalau orang yang mengusut Tommy saja dibunuh dengan brutal, bagaimana dengan orang yang berani mengusut Soeharto langsung? Apakah mereka akan dibunuh? Jangan-jangan anak mereka juga akan dibunuh?
Apalagi, kalau Soeharto sampai berhasil dijatuhi hukuman penjara, akan tercipta suatu preseden politik mengerikan bagi para koruptor: tidak ada yang berada di atas hukum, termasuk mantan presiden. Semua orang setara.
Untuk mencegah preseden ini, Syafiuddin dibunuh.
Jaksa Agung Marzuki Darusman sendiri juga hampir dibunuh dengan bom, tetapi orang yang ditunjuk Tommy untuk melakukannya berhasil ditangkap polisi dan bomnya disita.
Dalam hal ini, gerombolan keluarga Cendana sebagai the Lord of Crime penguasa Orde Baru dan jaringan mafia premannya berhasil menggagalkan cita-cita besar Reformasi untuk mengubah Indonesia dari Negara Preman (machtstaat) menjadi Negara Hukum (rechtsstaat).
Mereka menunjukkan bahwa di Indonesia, sistem Orde Baru masih kokoh: premanisme, teror, dan bom lebih kuat dan lebih dapat diandalkan daripada hukum.
Buktinya, mereka bukan hanya berhasil lolos dari penjara, melainkan juga berhasil menyimpan uang cash yang mereka rampok.
Di industri penerbangan di Indonesia, terdapat suatu mafia yang bikin harga tiket pesawat domestik sangat mahal.
Mafia ini mudah diidentifikasi apabila nama Ketua Mafia tersebut kita cari di Wikipedia. Ternyata, punya jabatan tinggi di parpol dan DPR/MPR.
Akibat kekuasaan mafia yang malas berinovasi dan malas berkompetisi ini, transportasi antar pulau sangat sulit dan sangat mahal.
Jakarta - Medan: Rp 1.5jt
London - Istanbul: bisa Rp 750.000
Padahal orang Eropa jauh lebih kaya dengan UMR yang 10x. Buat mereka, bayar Rp 750k serasa bayar Rp 75k.
Bayangkan terbang dari Jakarta ke Medan dengan harga Rp 75.000 saja.
Masa katanya anak yang putus sekolah juga akan dapat MBG???? wkwkwkwkwkwkwkkwkw bukannya bantu dilanjutin sekolahnya jir gmn sih ini gw yg gila apa mereka yang gila wkwkwkwkwkw
@TxtdariHI Guys, next pilpres plis pilih dari background pendidikan, track record politik yg bagus, plisss banget, debat capres itu gapapa dan gaperlu kasian, plis banget liat cara kampanye-nya, mencerdaskan tidak atau cuma gimmick receh, jgn asal pilih, ini untuk 5 tahun ke depan!
I fell in love with this quote:
"If u really like someone, being friends with them is better than dating them."
Sometimes the deepest love isn't about rushing into a relatonship it's about protecting the connection. Friendship lets u really see who someone is without pressure, masks or perfomance. You learn their character, not just their chemistry. And if it ever becomes more, it's built on trust, respect, and genuine understanding not just feelings
The most underrated act of kindness is simply letting people be. Let them mispronounce a word, talk too much about a show they love, or get excited about something you don't quite understand. Everyone has something that lights them up, let them shine, even if it's not your thing.
Ada cwk yg segininya mau bahagiain istri 🥹, dan ada juga cwk yg urusan beliin istri skincare aja debat ga kelar2.
Girls, choose wisely.
Dan kalau udh nemu yg segitunya mau bahagiain kamu, jgn lupa disyukuri dan dirayakan ya. Jgn lupa dibahagiakan juga suaminya. ❤️