@buzuzima0@SeekHustle itu pentingnya berserikat ka. kita mainnya ramean ka 😁 awalnya sebelum demo kan ada intimidasi, makanya pas tgl 14 gerainya yg tutup ga serame sekarang.
@buzuzima0@SeekHustle kata sapa frc? frc ada ka cuman dikit, kalopun punya frc pegawainya izin frcnya dulu nanti pihak frc yg ngomong lgs ke idm. aman ka gajian mah. inikan hak normatif. gaakan bisa diapa2in
@veycutness@SeekHustle baik2 aja ka, kan rata2 udh karyawan kalo dipecatin ya wajib ngeluarin pesangon. idm mana mau ngeluarin pesangon yg puluhan juta. lemburan aja dia ga sanggup
@mantew98@SeekHustle barang hilang anak toko yg bayar. kalo kelebihan input penjualan jadi buat idm coba misalnya kita lebih setor 5rb sehari dikali 24rb gerai dia udh untung 120jt sehari. karena yg dibawah 20rb itu jdnya tanggungan anak toko. kalo diatasnya bisa diurus tapi lama
@mantew98@SeekHustle spvnya pada dikasih reward singapur itu pake uang lemburan karyawan. mana sekarang idm lg ngadain undian umroh. akal2an doang margin turun. dia kalo turun lgs tutup ka tokonya. idm gapernah rugi tiap tahunnya tapi ngomong kebawahnya rugi mulu.
iya perusahaannya ga mampu bayar uang lembur yang jadi hak normatif pekerja.
itu harusnya jadi pemandangan wajar. hari libur nasional toko tutup. bukan hal baru kalo di luar negeri minimarket libur di hari libur nasional.
boleh kok buka tapi bayar upah lembur pekerjanya. please ga usah kasian sama perusahaan mereka udah untung banyak.
masih inget kan inkubasi pekerja yg mereka tanamkan? Gaji 5 juta diminta kerja kayak gaji 10 jt biar sisanya tuhan yg membayar.
@Naufalakbary lu ya jangan banding2in perusahan u ama indomaret. ganti off aja blm tentu keganti. lu pikir personil toko banyak? ngatur libur normal ada yg cuti 4hari aja kelabakan ini mau pake ganti lemburan pake off
Video ini memberikan banyak pelajaran yang bisa kita pilih dan ambil. Dari perspektif ekonomi, kita bisa mempertanyakan apakah pilihan yang ditawarkan benar-benar setara dan masuk akal untuk seseorang dalam situasi seperti itu. Dari sisi psikologi dan sosiologi, kita bisa belajar bagaimana ketimpangan memengaruhi cara seseorang berpikir dan membuat keputusan. Ini dibahas secara mendalam dalam buku The Broken Ladder karya Keith Payne, yang pernah saya ulas sebelumnya.
Di buku itu Payne menjelaskan teori sensitivitas risiko: orang yang hidup dalam ketimpangan cenderung mengambil lebih banyak risiko. Ketidakpastian dan keterbatasan membuat mereka berharap untuk “melompat” beberapa anak tangga sekaligus karena mendaki satu per satu tampak hampir mustahil. Dalam situasi ketimpangan, bias tersebut sangat sulit dihindari, termasuk oleh kita sendiri bila ditempatkan pada situasi yang sama.
Namun, yang paling penting, video ini membuat kita belajar untuk memiliki empati dan mau melihat persoalan secara lebih mendalam. Kemiskinan sering kali merupakan hasil dari masalah struktural yang kompleks. Menganggap kemiskinan hanya disebabkan oleh kesalahan atau kebodohan kaum miskin adalah pandangan yang dangkal dan tidak berdasar. Jangan sampai kita terjebak kekeliruan berpikir seperti itu, karena hanya akan membuat kita ikut memperburuk keadaan alih-alih membantu menyelesaikan masalah.