تجنبوا الاستمناء
تجنبوا الاستمناء
تجنبوا الاستمناء
تجنبوا الاستمناء
تجنبوا الاستمناء
في حال تحول الاستمناء إلى عادة يصعب السيطرة عليها، إليكم الحل النبوي و النهائي 👇
Guys, Rocky Gerung baru ngomong sesuatu soal Purbaya di depan ribuan mahasiswa ITB dan kalimatnya menurut gue paling telak dan paling jujur yang pernah diucapkan soal posisi Menteri Keuangan kita.
Bukan dari ekonom.
Bukan dari analis.
Dari filsuf.
Dan justru itu yang bikin kalimatnya paling menancap.
Kalimatnya sederhana.
Tapi sangat keras:
"Pak Purbaya itu dia cuma kasir.
Mana ada kasir menghasilkan growth."
Selesai. Tiga kalimat.
Tapi gue mau bedah ini lebih dalam karena ini jauh lebih penting dari yang kelihatan di permukaan.
Apa maksud Rocky dan kenapa ini sangat relevan:
Rocky tidak sedang menghina Purbaya sebagai manusia.
Dia sedang mengoreksi sesuatu yang fundamental soal bagaimana kita memahami ekonomi dan bagaimana pemerintah sedang menyesatkan rakyat dengan narasi yang salah.
Menteri Keuangan adalah penjaga kas negara.
Dia yang mengatur anggaran masuk dan keluar.
Dia yang memastikan utang tidak meledak.
Dia yang menjaga fiskal tetap sehat.
Tapi dia bukan yang menciptakan pertumbuhan. Pertumbuhan lahir dari kementerian teknis yang produktif perindustrian, perdagangan, kelautan, perikanan.
Pertumbuhan lahir dari pabrik yang berproduksi, dari nelayan yang bisa melaut, dari petani yang bisa menjual hasil panennya dengan harga yang adil.
Tapi yang terjadi sekarang adalah semua orang dari Prabowo sampai media membebankan ekspektasi pertumbuhan 6% kepada seorang kasir.
Dan ketika kasir tidak bisa menghasilkan pertumbuhan padahal memang bukan tugasnya untuk melakukan itu dia disalahkan.
Rakyat kecewa.
Presiden tidak puas.
Market tidak percaya.
Padahal pertanyaan yang sebenarnya harus diajukan adalah:
Di mana kementerian teknis yang seharusnya menghasilkan pertumbuhan itu?
Kementerian Perindustrian yang seharusnya menumbuhkan manufaktur tapi kontribusi manufaktur terhadap GDP kita turun dari 30% menjadi 18%.
Deindustrialisasi terjadi diam-diam selama bertahun-tahun.
Kementerian Perdagangan yang seharusnya membuka pasar tapi investor asing semakin ragu masuk karena kepastian hukum yang berubah-ubah.
Regulasi EV yang tiba-tiba mau dikenakan pajak setelah sebelumnya bebas pajak.
Komisi ojek online yang dipaksa turun ke 8% sehingga platform bleeding.
Kementerian Kelautan dan Perikanan yang potensinya luar biasa tapi realisasinya masih jauh dari optimal.
Itu yang seharusnya ditagih.
Bukan Purbaya yang memang tugasnya jaga kas bukan cetak pertumbuhan.
Dan ini yang paling miris:
Purbaya sudah berulang kali bilang "fundamental kita kuat, rupiah kita undervalued, kita sedang ekspansi."
Tapi dolar tetap ngacir ke Rp17.600.
IHSG tetap ambruk.
Market tidak percaya.
Rating agency downgrade outlook kita dari stable ke negatif.
Rocky bilang Purbaya "disiksa oleh keinginan rakyat untuk melihat pertumbuhan" dan itu sangat tepat. Orang yang salah jabatan dipaksa menanggung beban yang bukan tugasnya.
Dan ketika hasilnya tidak sesuai ekspektasi dia yang jadi kambing hitam dari masalah yang sebenarnya ada di tempat lain.
Dan sambungkan ini dengan apa yang Prabowo bilang hari yang sama:
"Kalau tidak beres, copot. Sederhana."
Pertanyaannya sangat sederhana:
Kalau Purbaya yang salah kenapa kementerian teknis yang tidak menghasilkan pertumbuhan tidak dicopot?
Kalau Purbaya yang tidak kompeten kenapa orang-orang di sektor riil yang seharusnya menggerakkan ekonomi tidak ditagih?
Atau jangan-jangan lebih mudah menyalahkan kasir daripada mengakui bahwa masalahnya ada di arsitektur kebijakan yang lebih besar?
Dan Rocky kasih satu poin lagi yang sangat penting:
"Tradisi berpikir di universitas begitu masuk dalam birokrasi berubah menjadi hierarki.
Tidak mungkin ada inovasi dari dalam birokrasi."
Ini menjelaskan segalanya.
Kenapa orang pintar yang masuk ke pemerintahan akhirnya diam.
Kenapa yang berani justru dihukum.
Kenapa Nadiem yang mencoba inovasi berakhir dengan tuntutan 27 tahun.
Kenapa yang pandai menunduk justru yang bertahan dan dipuji.
Birokrasi tidak mendesain dirinya untuk menghasilkan pertumbuhan.
Birokrasi mendesain dirinya untuk mempertahankan hierarki.
Dan selama itu yang terjadi pertumbuhan 6% hanya akan menjadi angka di slide presentasi bukan kenyataan yang dirasakan rakyat di dompet mereka.
Rocky Gerung benar.
Purbaya bukan masalahnya.
Purbaya adalah kasir yang dipaksa berperan sebagai mesin pertumbuhan sementara mesin pertumbuhan yang sesungguhnya tidak berjalan dengan benar.
Tapi yang lebih besar dari soal Purbaya adalah ini:
kita sedang hidup dalam sistem yang menghukum keberanian, memproteksi loyalitas,
dan membebankan ekspektasi kepada orang yang salah jabatan sementara yang seharusnya bertanggung jawab terlindungi oleh hierarki yang tidak bisa diganggu gugat.
Dan selama sistem itu tidak berubah mau ganti Purbaya dengan siapapun, mau klaim pertumbuhan berapa persen pun dolar akan tetap ngacir.
Market akan tetap tidak percaya.
Dan rakyat akan tetap merasakan hidupnya makin sempit.
@kegblgnunfaedh Jadi guru tuh berat, apalagi yg msh honorer...Meraka punya tanggung jawab besar buat anak. D tambah beban mengajar, beban moral, gaji nya yg bahkan nggak nyentuh UMR yg gajiannya bisa sampai 3 bulan sekali...bullshit buat indonesia emas 2045
pas nonton review Hyundai Ioniq 5 N dari Om Fitra Eri bikin aku inget saat kuliah Akustik di ITB (8 tahun lalu)
nyari slide kuliah nggak nemu, jadi barusan nyari sendiri aja di Google Scholar.. riset kampus dan industri di Korea bener-bener ambisius dan diarahin ke kebutuhan mereka sendiri
dulu dosen di ITB cerita kalau video yg ia tampilkan di kelas saat itu (2016) hasil riset 10 tahun lalu, jadi yaa totalnya 16 tahun lalu dari 2024.
namanya riset dasar, ia belum terlalu keliatan bakal terbentuk untuk apa aplikasinya di mana dan kapan?
kalau ditarik belasan tahun ke belakang bagi yg nyadar akan tahu kalau riset ilmu dasar dan rekayasa kentara banget dari produk teknologi mereka dari Samsung, Hyundai, LG, dll
Contoh aja ini publikasi tahun 2008 (16 tahun lalu) tentang gimana sih cara mengukur mobil mewah dari suaranya doang? Sebelum itu, percaya gak sih kalau kita tahu barang mahal bisa dari sentuhan, penampilan, dan... suara?
Lalu dikonseplah, kira-kira ada beragam suara apa aja yang ada di sebuah mobil mewah. Suara dihasilkan dari berbagai bagian mekanikal yg berputar dan bergetar.
Parameter Psikoakustik dipakai untuk mengukur 'kemewahan mobil', yaitu Loudness, Sharpness, dan Roughness. Konsep “Psychophysics” dilahirkan oleh Gustav Fechner di tahun 1860.
Temuan parameter Sharpness aja ditemukan Zwicker dan Fastl di tahun 1990. Jadi bener-bener perjalanan panjang riset dasar untuk entah kapan kegunaannya untuk bidang apa aja.
Sebetulnya masih cukup ngetik panjang tapi gambarnya maksimal 4, mau masukin gambar baru jadi lanjut aja jadi utas di bawah.
Collective Punishment
***
Masalah: HP black market menjamur di pasaran.
Solusi seharusnya: Tangkap sindikat penyelundup HP black market.
Solusi yang diterapkan: Blacklist semua HP yang masuk dari LN, daftarin IMEI kalau mau pakai di Indonesia.
Yang repot: Semua diaspora Indonesia yang mau pulang dan punya hape yang belinya di LN.
***
Masalah: Jastip merajalela.
Solusi seharusnya: Legalisasi dan berikan jalan, tarik pajak atau fee export kecil biar bisa ada uang masuk ke negara
Solusi yang diterapkan: Batasi barang bawaan semua orang yang bepergian dari luar negeri.
Yang repot: Orang Indonesia yang pergi dan pulang ke LN, yang gak ada hubungannya sama jastip.
***
Masalah: Riset Indonesia masih kalah sama Singapura dan Malaysia,
Solusi seharusnya: Danai riset, bikin pendanaan yang mumpuni, bikin lingkungan yang kondusif, gaji dosen dan peneliti dengan layak supaya gak mikir kerjaan lain
Solusi yang diterapkan: Wajibkan publikasi SCOPUS, kalau bisa tiap semester atau tahun, makin banyak makin bagus, kalau bisa gak pake pendanaan.
Yang repot: Semua dosen dan peneliti di seluruh Indonesia yang tiba-tiba kena kewajiban publikasi.
***
Masalah: Warga Kalimantan Barat malah liburan ke LN, bukan warga LN yang datang,
Solusi seharusnya: Bikin tempat wisata atau promosi biar warga LN tertarik datang,
Solusi yang diterapkan: Bikin Bandara Supadio jadi bandara domestik bukan bandara Internasional,
Yang repot: Semua warga KalBar yang kalau mau ke luar negeri mesti ke Jakarta dulu, atau perjalanan darat ke Kuching dulu.
***
Nama: Indonesia
Hobby: Memberikan Collective Punishment