Oh darling, it's the little things that keep you going no matter how challenging life is right now. I hope you always seek out joy and find gratitude even when life starts to weigh you down. There's so much to be thankful for, especially little things 🕊." -Tiffany Moule
Tiba-tiba keinget #KimHyeyoon pernah bilang: "Kalau menggenggam pasir terlalu erat, semakin banyak yang terlepas. Tapi saat genggaman dilonggarkan, justru semakin banyak pasir yang bisa terambil."
Kita juga sering ngalamin hal yg kayak gitu kan? Misalnya, pas lagi menggebu-gebu bgt pengen sesuatu, entah masalah kerjaan atau hal lain, kok rasanya nggak dapet-dapet. Tapi pas kita udah rileks, legowo dan ikhlas, eh kesempatan itu malah datang sendiri.
Sayangnya emang kita gabisa replicating historical success sama persis. Timing, kondisi pasar, teknologi, dan sekian banyak konteks yang gak akan pernah sama lagi.
Kalo kalian lulus kuliah tahun 2019, kalian adalah generai yg paling beruntung. Banyak ekspansi start-up gila-gilaan. Minimal intern di start-up walau gaji sebulan cuma 1/2 UMR tapi benefit luber. Mau job hopping juga gampang.
Kalo kalian lulus tahun 2021, kalian gak seberuntung lulusan 2019. Start-up masih berkembang. Tapi tech-winter mulai datang.
Kalo kalian lulus tahun 2022, cuma selisih 1 tahun dari 2021 lho padahal. Tapi kerasa banget degradasi opportunity. Banyak orang kena layoff. Tech winter bener-bener kejadian.
Lulus tahun 2023? Kena geprek bos. Saingan lu orang-orang yang masih kuliah tapi udah punya experience mentereng karena Kampus Merdeka. Meanwhile lu baru lulus tapi gak punya pengalaman apa-apa.
Lulus tahun 2025? Banyak perusahaan organisasinya makin lean. Teknologi makin murah. Daripada bikin divisinya, banyak yang memutuskan pakai vendor. Pekerja lepas / outsource tapi gaji ngepas lebih preferrable.
Aku lulus 2021 lanjut kerja sampai awal tahun 2026.
Selama hampir 5 years of experience, karirku cepet. Aku cabut di kerjaan terakhirku dengan tittle manager. Aku sempat kerja di top startup & fmcg indo. Gajiku bisa hit 50juta gross sebulan sebelum aku usia 26 tahun. Kalo kalian lulus di tahun dan punya horizon yang sama kayak aku, taktik "yang penting perusahaannya, bukan jabatan atau gajinya" itu mungkin masih make sense. Saran ikut bootcamp itu pasti masih make sense.
Tapi kalo kalian baru akan lulus atau baru lulus, i don't think the same advice would work for your generations.
At this point adek gw yang belum lulus kuliah tapi cita-citanya jadi juragan cabe (literally dia ngomong pengen jadi juragan cabe) jauh lebih visioner menurut gw daripada kerja di company mentereng. Karena competitiveness sama efficiency threats di workplaces seserius itu skrg.
Walau konteks gak lagi sama, walau misal gw kalo jadi fresh graduate tahun ini juga belum tentu bisa replicating my past success... blueprint sukses lintas generasi itu selalu sama: jadi tahan banting dan cepet.
Jangan capek upgrade diri walau requirements kerja makin gak tau diri. Meski perusahaan makin susah digapai, siapa tahu nasib lu lu semua bukan buat jadi pegawai. Never ever ever stop, walau banyak isu sistemik. You're gonna make it. Jangan capek, semangat.
Jujur lucu bgt sih. Udh kuliah mahal puluhan bahkan ratusan juta. Trs disuruh bootcamp lagi krn hampir semua perusahaan butuhnya yg berpengalaman atau setidaknya punya sertifikat. Padahal bootcamp aja ga murah. Paling murah mungkin 500rb, ada yg sampai 5 jt, 10jt, bahkan 20jt..🥲
Ayudia dalam postingan Threads nya bilang kalo,
"cewek fatherless mah bukan matre, tapi gak bisa olahraga permainan. boro-boro punya keinginan untuk memang pertandingan, bisa memulai aja udah pencapaian. sesimpel karena gak ada yang bilang ‘ayo kamu bisa’, ciat ciat ciat."
bener sihh ga ada suporter nomor satu lah istilahnya 😭😭