@kompascom Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya akan melanjutkan gugatan perkara ini apapun hasilnya
Mohon dukungan & doa dari semuanya, demi Pendidikan kita. Panjang umur Pekerja Pendidikan 🙏
Pernah baca sebuah percakapan (aku gatau itu asli/gak), ada seorang non-muslim tanya ke orang muslim “kenapa Tuhanmu nggak dikasih tunjuk wujudnya?” Terus dijawab “supaya adil dengan umat muslim yang buta, kita semua sama-sama nggak dikasih tunjuk” and it hits me until now. 🥹
Teman2, sampai saat ini aku dan adikku belum dapat info apapun dari kepolisian. Aku udh kumpulin bukti2 sekuat tenaga ku, tapi masih belum ada update. Aku bingung harus apa. Atau aku share aja ya biar kalian bantu analisa apakah dugaan motor dan nopol yg ku dapat cocok gak?
Mbah Tupon (68), petani asal Bantul, terancam kehilangan tanah 1.655 meter persegi dan dua rumah miliknya. Kasus ini bermula pada 2020 saat Mbah Tupon hendak menjual sebagian tanahnya seluas 298 meter persegi kepada seorang pembeli berinisial BR.
Mbah Tupon yang buta huruf menandatangani dokumen tanpa tahu isi sebenarnya. Tanda tangan dilakukan di beberapa tempat tanpa didampingi anak-anaknya.
Awalnya, Mbah Tupon percaya semua proses berjalan baik. Namun, yang terjadi justru sertifikat milik Mbah Tupon dibalik nama dengan inisial IF dan diagunkan ke bank senilai Rp 1,5 miliar.
Ketika dimintai konfirmasi, Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan bakal menanyakan kasus ini ke penyidik terlebih dahulu.
"Mohon waktu ya, saya tanyakan ke penyidik (kasus Mbah Tupon)," ungkapnya.
~J #MbahTupon #MafiaTanah #Mafia #Bantul #Hukum
Dari WAG...
Pengadilan Den Haag Gempar Semalam!
Pada 19 Maret, Rodrigo Duterte hadir di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dengan kursi roda untuk menjalani sidang.
Begitu hakim ICC membacakan dakwaan "kejahatan terhadap kemanusiaan," mantan Presiden Filipina berusia 79 tahun itu langsung melontarkan tiga "bom data":
1. "Militer AS membantai 350.000 warga sipil di Afghanistan, ICC pura-pura buta selama 20 tahun!"
2. "Israel telah membunuh 50.000 anak-anak di Gaza, di mana surat perintah penangkapan kalian?"
3. Ia kemudian memutar rekaman operasi anti-narkoba di Kota Davao, yang menunjukkan bahwa setelah pemberantasan narkoba, tingkat kriminalitas di wilayah itu turun drastis hingga 73%.
Hakim panik dan berusaha menghentikan dengan mengetuk palu, namun Duterte justru mengeluarkan setumpuk foto—gambar mayat anak-anak yang menjadi korban kartel narkoba, disandingkan dengan foto kehancuran akibat serangan drone militer AS. Dengan suara lantang, ia bertanya: "Mana yang lebih mirip kejahatan terhadap kemanusiaan?"
Ruang sidang langsung riuh! Warga Filipina yang hadir bersorak dan meneriakkan "Hidup Presiden!" hingga para petugas keamanan kesulitan mengendalikan situasi.
Pemerintahan Marcos kini dalam posisi sulit. Mereka awalnya ingin menggunakan ICC untuk menyingkirkan Duterte, tetapi justru popularitas Wakil Presiden Sara Duterte melonjak hingga 39%
Di hadapan pengadilan, Duterte bersumpah: "Jika saya dinyatakan bersalah, maka tangkap juga Biden dan Netanyahu untuk diadili
Pernyataan ini langsung menelanjangi kemunafikan ICC, yang hanya berani menindak negara-negara kecil, tetapi tak pernah menyentuh pemimpin negara adidaya.
Kini, ICC menghadapi dilema besar:
Jika Duterte dinyatakan bersalah, negara-negara di Global South mungkin akan ramai-ramai keluar dari ICC.
Jika ia dibebaskan, negara-negara Barat bisa menghentikan pendanaan ICC yang bernilai ratusan juta euro.
Pada akhirnya, "persidangan abad ini" berubah menjadi cermin besar—yang menampakkan borok sistem hukum internasional sekaligus menandai kebangkitan tatanan dunia baru......
Selamat sore teman-teman semua.
Semoga ke depan, dunia ini terbebas dari kekerasan dan tidak ada lagi pertumpahan darah di antara sesama. Mari kita bersama-sama berdoa agar dunia berubah menjadi tempat yang lebih damai dan sejahtera.