@jiminieopps3 Saya anggap idol kpop itu bukan penyanyi ,tapi saya anggap mereka hanya bernyanyi dimana semua orang di dunia bisa bernyanyi tapi belum tentu bisa menjadi penyanyi dimana poin utama seorang penyanyi adalah vocal.
@Fethchu69 Aman aja sih itu opini pribadi lu bro ,kalo dilihat noh nijiID,aka,maha5 hilang ,itu artinya pasar indo secara general kurang menguntungkan bagi perusahaan luar dan sisanya masing² aja sekiranya udh gk relevan ya tinggalin ,hidup dengan sebagaimana mestinya🗿😂
@RandyMach0Ronin Yang di merger hanya branch ,masalah bahasa itu tergantung bahasa mana yang ingin mereka pakai ,coba anda tonton penjelasan nya ada di akun youtube official ,tidak mengerti bahasa jepang ? Aman saja sudah ada translate ,https://t.co/o2pQJ7UVFO
@daotakun@Daniel7iao Ya ujung² nya ke komis juga ,semisal ber 9 pun kalo ful nge komis orang ya biaya nya anggap saja 50/50 dengan project mv pribadi ,secara ber 9 lebih ribet dan tergantung artist nya juga secara gada patokan tarif secara transparan .
@daotakun@Daniel7iao Ya tergantung sih ,semisal lu bisa bikin art,lirik lagu sendiri ,sisa nya di komis macam aransemen musik dll ya bisa memangkas biaya karen lu ikut andil didalam nya ,entah di mv sendiri atau pun cover song ramean.
"Akil itu ga punya content asli. Apasih maksudnya akil itu ga punya konten asli? Akil itu kalo ga ada drama ga bisa nge konten, akil. ngambil. Konten. Dari. Drama. Orang. lain. Jaman sekarang ngomongin drama itu gampang, ya kamu tinggal, missinformation, segampang itu sekarang"
@paanluvv kirain yg di videotron publik ,tapi lumayan juga sih seenggak nya promosiin dengan cara apapun yg bisa fandom tersebut kasih buat idol nya masing²
@3anvychoi@errymade@anfrostbite Kondisi psikologis toxic fans K-Pop yang menghina personal fans lain didorong oleh fanatisme ekstrem yang memicu celebrity worship syndrome, penurunan kontrol diri, serta gejala deindividuation di media sosial di mana identitas kelompok melebur dan menghilangkan empati individual
@3anvychoi Kondisi psikologis toxic fans K-Pop yang menghina personal fans lain didorong oleh fanatisme ekstrem yang memicu celebrity worship syndrome, penurunan kontrol diri, serta gejala deindividuation di media sosial di mana identitas kelompok melebur dan menghilangkan empati individual