Ternyata kondisi kita bisa sangat memburuk lagi!
Masih ingat kejadian 98 kan? Bukan gak mungkin terulang lho.
Kenapa? Sekarang rakyat sudah bukan mantab (makan tabungan) lagi, tapi makan pinjaman sudah!
Kalau kurs sudah 22.000 - 25.000, itu sudah bisa jadi trigger.
Bantahan2 Menkeu sudah tidak digubris pasar. Karena DIA BUKAN EKONOM. Cuma bluffingnya orang sakit jiwa.
Sepakat nggak sama Prof Ferry?
Guys, rupiah sekarang di level Rp17.300-an per dolar. Dan banyak pejabat yang bilang "itu masih aman, masih terkendali.
Tapi gue mau ajak kalian mundur ke satu momen dalam sejarah Indonesia yang menurut gue paling relevan dengan kondisi sekarang.
Rupiah tembus Rp16.800 per dolar.
Dari sebelumnya Rp2.400.
Naik tujuh kali lipat dalam hitungan bulan.
Soeharto jatuh.
Ekonomi runtuh.
Rakyat panik.
Dan yang naik menggantikan adalah orang yang tidak ada yang percaya bisa menyelamatkan situasi itu.
BJ Habibie.
Teknokrat pembuat pesawat.
Bukan ekonom.
Lee Kuan Yew pemimpin Singapura yang terkenal skeptis bahkan bilang naiknya Habibie justru akan membuat rupiah makin tidak berdaya.
Hasilnya?
Dalam kurang dari dua tahun rupiah menguat dari Rp16.800 menjadi Rp6.550 per dolar.
Hampir tiga kali lipat menguat.
Bukan karena keberuntungan.
Bukan karena SDA tiba-tiba melimpah lebih banyak.
Tapi karena tiga keputusan konkret yang berani.
Cara pertama: Restrukturisasi perbankan.
Masalah terbesar krisis 1998 bukan hanya rupiah melemah.
Tapi kepercayaan terhadap sistem perbankan hancur. Nasabah menarik uang besar-besaran.
Bank-bank bertumbangan.
Sekarang malah era prabowo himbara
dipreteli agar bisa memberikan pinjaman
ke program presiden
Habibie tidak berdebat soal ini.
Dia bertindak.
Empat bank pemerintah digabung menjadi satu:
Bank Mandiri.
Konsolidasi yang membuat sistem perbankan lebih kuat dan tidak terfragmentasi.
Dan yang paling berani:
dia memisahkan Bank Indonesia dari pemerintah melalui UU No. 23 Tahun 1999.
BI harus independen, objektif, dan bebas dari intervensi politik.
Itu bukan kalimat yang mudah diucapkan oleh presiden yang baru naik.
Karena artinya dia melepaskan satu instrumen kekuasaan yang selama Orde Baru digunakan sebagai alat politik.
Tapi dia lakukan.
Dan itu yang membuat kepercayaan pasar mulai kembali.
Cara kedua: Kebijakan moneter ketat.
Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia dengan bunga tinggi dengan satu tujuan: membuat masyarakat mau kembali menabung di bank.
Kalau masyarakat percaya bank uang kembali mengalir ke sistem peredaran uang di luar terkontrol inflasi turun rupiah menguat.
Hasilnya: suku bunga yang sempat meledak di angka 60% turun menjadi belasan persen. Kepercayaan terhadap perbankan kembali pulih.
Cara ketiga: Harga bahan pokok dipertahankan.
Di tengah semua guncangan itu Habibie mempertahankan subsidi listrik dan BBM.
Harga kebutuhan pokok dijaga agar tidak meledak.
Ini keputusan yang tidak populer di mata IMF waktu itu. Tapi Habibie berpegang pada satu prinsip:
kalau rakyat tidak bisa beli bahan pokok, tidak ada stabilitas apapun yang bisa dipertahankan.
Sekarang bandingkan dengan kondisi sekarang:
Rupiah di Rp17.300 per dolar.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Setiap kali rupiah menyentuh level baru Rp17.000, Rp17.100, Rp17.200, Rp17.300 pernyataan resmi yang keluar selalu sama: "masih aman, masih terkendali."
Tapi aman menurut siapa?
Terkendali sampai berapa?
Dan yang lebih penting apa tindakan konkretnya?
Pelajaran dari Habibie yang paling perlu digarisbawahi:
Habibie tidak takut membuat BI independen meskipun itu berarti melepaskan kontrol.
Habibie tidak takut restrukturisasi perbankan yang menyakitkan meskipun itu berarti mengorbankan kepentingan jangka pendek.
Habibie tidak takut kebijakan moneter ketat meskipun itu berarti suku bunga tinggi yang menyakitkan pelaku bisnis dalam jangka pendek.
Dan Habibie tidak takut bermitra dengan pihak asing IMF, investor internasional karena dia tahu: tanpa kepercayaan asing, modal tidak akan masuk, dan rupiah tidak akan pulih.
Dan ini yang gue mau sampaikan dengan jelas:
Ada narasi yang beredar bahwa "berdaulat" berarti tidak butuh asing.
Bahwa bergantung pada investasi asing adalah kelemahan.
Itu narasi yang menyesatkan.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun,
yang membangun pesawat Indonesia dengan tangannya sendiri tidak sungkan membuka diri kepada asing ketika itu dibutuhkan untuk menyelamatkan ekonomi rakyatnya.
Karena dia paham:
kedaulatan yang sejati bukan berarti isolasi. Kedaulatan adalah kemampuan untuk bermitra dengan siapapun tanpa kehilangan kepentingan rakyat sebagai kompas utama.
Habibie dulu memisahkan BI dari pemerintah. Persis karena dia tahu kalau bank ikut agenda politik, kepercayaan pasar hancur.
Sekarang?
Bank-bank Himbara BRI, BNI, BTN, Mandiri โ didorong untuk ikut mendanai program-program pemerintah.
Kopdes Merah Putih. MBG.
Berbagai program yang belum jelas skema akuntabilitasnya.
Bank itu lembaga keuangan yang harus dikelola berdasarkan prinsip kehati-hatian.
Bukan alat eksekusi program politik.
Kalau bank dipaksa ikut program yang risikonya tidak jelas yang menanggung risikonya siapa?
Nasabah.
Rakyat yang naruh tabungan di sana.
Habibie tahu ini.
Makanya dia pisahkan.
Pemerintahan sekarang melakukan sebaliknya.
Ironi lainnya Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden sendiri.
Ini yang paling langsung bertentangan dengan warisan Habibie.
Habibie buat UU No. 23 Tahun 1999 yang menjamin BI independen dari pemerintah. Bebas dari intervensi politik.
Karena dia tahu begitu BI diintervensi, kepercayaan investor hilang, rupiah tidak bisa distabilkan.
Dan sekarang posisi penting di Bank Indonesia diisi oleh keponakan Presiden Prabowo.
Tanpa pengalaman yang relevan di bidang moneter atau perbankan sentral.
Ini bukan soal siapa orangnya secara personal.
Ini soal sinyal yang dikirim ke pasar.
Ketika investor global melihat bank sentral diisi oleh keluarga presiden mereka tidak melihat independensi.
Mereka melihat risiko.
Dan mereka memindahkan modalnya ke tempat yang lebih aman.
Modal asing keluar Rp28 triliun di Q1 2026.
Rupiah di Rp17.300. Sebagian dari itu adalah respons pasar terhadap sinyal-sinyal seperti ini.
Habibie melepaskan kontrol atas BI untuk menyelamatkan ekonomi.
Prabowo memasukkan kontrol keluarga ke BI dan berharap ekonomi tetap baik.
Dua arah yang berlawanan.
Dua hasil yang bisa diprediksi berbeda.
yang paling gila
Narasi "antek asing" yang membuat modal tidak masuk.
Habibie yang lebih nasionalis dari siapapun, yang bangun pesawat Indonesia, yang didiskriminasi di Jerman tapi tetap pulang untuk bangun negara tidak pernah takut bermitra dengan asing ketika ekonomi membutuhkannya.
Sekarang ada narasi yang beredar dan dipelihara oleh sebagian lingkaran kekuasaan bahwa siapapun yang mendukung keterbukaan terhadap investasi asing adalah "antek asing."
Hasilnya: investor asing ragu masuk.
Bukan karena Indonesia tidak menarik.
Tapi karena iklim politiknya tidak memberikan kepastian.
FDI Foreign Direct Investment adalah salah satu mesin pertumbuhan paling efisien untuk negara berkembang. Membawa modal, teknologi, lapangan kerja.
Tapi kalau setiap investor asing yang masuk dipandang dengan kecurigaan dan setiap pejabat yang mendukung keterbukaan disebut tidak nasionalis siapa yang mau masuk?
Dan tanpa modal masuk rupiah tidak punya cukup dukungan. Devisa tidak tumbuh. Defisit transaksi berjalan melebar. Tekanan pada rupiah terus ada.
Nasionalisme yang sejati bukan menutup pintu dari asing. Tapi memastikan asing yang masuk memberikan nilai terbaik bagi rakyat dengan syarat yang jelas, transparan, dan menguntungkan Indonesia.
Habibie tahu itu.
Dan itu yang dia praktikkan.
Satu kalimat yang merangkum semuanya:
Habibie melepaskan kontrol atas BI supaya pasar percaya.
Habibie bermitra dengan asing supaya modal masuk dan rupiah pulih.
Habibie restrukturisasi bank supaya sistem keuangan kuat.
Prabowo memasukkan keluarga ke BI.
Mendorong bank ikut program pemerintah.
Dan memelihara narasi anti-asing yang membuat investor ragu.
Tiga langkah yang persis berlawanan arah dengan yang terbukti berhasil.
Dan rupiah yang sekarang di Rp17.300 dengan pejabat yang terus bilang "masih aman" adalah hasilnya.
Dan setiap kali ada pertanyaan konkret tentang kondisi fiskal dan moneter jawabannya: "masih aman."
Habibie tidak pernah bilang "masih aman" ketika situasinya tidak aman.
Dia bilang ada masalah dan ini yang akan dia lakukan untuk mengatasinya.
Perbedaan antara pemimpin yang mengelola kepanikan dan pemimpin yang mengelola narasi itu yang paling terasa sekarang.
Tidak perlu belajar ke Prancis, Rusia, atau Inggris. Buku sejarahnya ada di sini.
Aktornya orang Indonesia.
Hasilnya terbukti.
Yang dibutuhkan bukan ilmu baru.
Yang dibutuhkan adalah copas apa yang dilakukan
habibie dahulu lalu inovasikan
tinggal mau atau tidak nya
dari situ kita bisa menilai
arah kepentingan presiden sekarang
TIPS SELAMAT DARI KRISIS 2026โ2030: SURVIVAL MODE ON!
1. stop kredit dulu: jangan nambah cicilan atau utang baru. beresin yang ada aja.
2. fokus yang ada: jangan nafsu besarin bisnis dulu. fokus rawat yang sudah jalan biar tetap stabil.
3. amankan kerjaan: tahan diri buat resign. di masa krisis, punya gaji tetap itu kemewahan.
4. hemat pangkal selamat: potong pengeluaran yang nggak penting. self-reward boleh, tapi secukupnya.
5. hati-hati investasi: jangan gampang tergiur bisnis baru atau mlm yang janjinya muluk-muluk.