Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengungkapkan Bundaran HI dipilih karena mahasiswa tak lagi percaya dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun pemerintah.
You know how brilliant their idea to choose Bundaran HI sebagai tempat "aksi" mereka adalah? It’s because they know Bundaran HI adalah pusat titik keramaian Jakarta.
Choosing Bundaran HI means maximum exposure. Akses ke semua lapisan masyarakat itu potensial banget buat attract publik. From the corporate slaves stepping out of their Sudirman offices, people commuting, to the general public—everyone is literally there. It is the ultimate hub to get eyes on your movement.
Plus di Bundaran HI, segala jenis transportasi umum ada. It’s the literal heart of Jakarta's transit. So obviously, the traffic will be disrupted. But honestly? In modern activism, that disruption is a feature, not a bug. When the traffic gets a bit chaotic, people are forced to look. It creates that instant "Wait, what’s happening over there?" effect.
As someone who used to organize actions and protests too, let’s be real for a second: pemilihan Bundaran HI ini bukan lagi buat "protes" langsung ke pihak yang diprotes.
Why? Karena ya udah pasti gak bakal didengar. Pointing fingers directly at the institutions just ends up making you tired, drained, and honestly, males banget. It’s a dead end.
Makanya mereka pilih Bundaran HI. It’s no longer about yelling at a brick wall; it’s about controling the narrative and winning the public's attention. If the authorities won't listen, you make the entire city talk about it instead. And there’s no better stage for that than Bundaran HI.
Beberapa bulan lalu, di X juga, gw nemu 1 google drive isinya ilmu semuaaa.
Nih langsung aja https://t.co/qEvuMTjGAP
Silakan belajar sepuasnya yaaa. Semoga bermanfaat
Silakan bookmark dan bantu repost yaa!
Airmata yang Tidak Seharusnya Jatuh
Dari Seorang Warga, Mantan Diaspora, dan Kader Muhammadiyah untuk Ira Puspadewi
Ada kalanya sebuah berita membuat kita berhenti sejenak, menarik napas dalam, lalu bertanya, "Mengapa seseorang yang begitu rapi jalan hidupnya harus menerima nasib seberat ini?"
Itulah yang saya rasakan ketika membaca kabar vonis terhadap Ira Puspadewi, seorang perempuan yang bagi saya mewakili integritas, profesionalisme, dan dedikasi, baik sebagai pemimpin BUMN maupun sebagai kader Muhammadiyah.
Saya mengenal nama Ira bukan dari kasusnya, tetapi dari rekam jejaknya. Ia bukan sekadar perempuan karier yang sukses. Ia pernah pulang dari dunia korporasi internasional, meninggalkan posisi aman dan mapan di luar negeri untuk mengabdi di tanah air. Ia memimpin Sarinah, Pos Indonesia, sampai ASDP. Dan di setiap tempat, ia membawa jejak yang sama: rapi, tertib, tanpa gaduh, dan jauh dari gaya hidup glamor pejabat.
Dan yang paling membuat saya tertegun. Ira adalah kader Muhammadiyah. Tercatat resmi sebagai Wakil Bendahara II Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata Muhammadiyah.
Seorang muslimah yang menjaga prinsip, yang sudah terbiasa bekerja dalam sunyi, memberi dalam diam.
Ketika membaca kembali kisah-kisah yang dituliskan sahabat lamanya, saya menemukan potongan-potongan kecil yang justru paling menyentuh. Ira yang naik kelas ekonomi di pesawat meski memimpin BUMN besar. Ira yang memilih menginap di hotel Amaris ketika direktur lain memilih hotel bintang lima. Ira yang malah menampung teman di rumahnya ketika sang teman sedang menghadapi masa sulit.
Kita sering bicara soal integritas, tapi Ira menunjukkannya justru di saat-saat yang tak terlihat kamera. Itu yang membuat kasus yang menimpanya terasa janggal bagi banyak orang.
Terlebih ketika Ketua Majelis Hakim sendiri menyatakan dissenting opinion. Bahwa apa yang dilakukan Ira adalah aksi korporasi yang sah, dilindungi Business Judgment Rule, dilakukan dengan itikad baik, dan melalui proses yang transparan. Bahkan uji tuntas dilakukan oleh tujuh lembaga, termasuk BPK, BPKP, Deloitte, dan PWC.
Di titik itu, saya bertanya sendiri. Kalau seorang profesional yang mengikuti prosedur, melakukan uji tuntas, tidak mengambil keuntungan pribadi, dan bekerja dengan integritas pun tetap tersandung, apa kabar yang lain?
Sebagai seorang warga negara, mantan diaspora yang dulu kembali dengan semangat ingin melihat Indonesia lebih maju, dan sebagai kader Muhammadiyah yang percaya pada nilai keadilan, kejujuran, dan kerja keras, saya merasa perlu menuliskan dukungan ini.
Bukan dukungan untuk membela membabi buta.
Bukan pula untuk mengintervensi proses hukum.
Namun sebagai pengakuan atas manusia yang saya lihat bersih jalannya, yang saya harap mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Seorang perempuan yang tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun manusia: teman, sahabat, dan komunitasnya.
Ira telah memberi banyak pada bangsa ini. Lebih dari sebagian besar dari kita.
Ia pulang ketika banyak memilih menetap di luar negeri.
Ia bekerja ketika banyak memilih kenyamanan.
Ia menata sistem ketika banyak memilih zona abu-abu.
Dan bagi saya, seorang yang bekerja sejujur dan sekeras itu, tidak seharusnya berdiri sendirian ketika badai datang.
Saya hanya bisa berharap, dan ikut mendoakan, agar proses berikutnya menghadirkan keadilan yang sebenar-benarnya. Agar suara jernih seperti pandangan Hakim Sunoto menjadi pijakan bagi upaya banding. Agar nama baik yang tercoreng dapat dipulihkan. Dan agar sejarah kelak mencatat bahwa Ira Puspadewi adalah contoh seorang muslimah profesional Indonesia yang tetap tegak meski diuji dengan keras.
Sebagai warga, sebagai kader, dan sebagai sesama manusia, saya ingin mengatakan. Ira tidak sendiri.
Dan kebenaran, jika memang berpihak kepadanya, semoga menemukan jalannya kembali.
(Ismail Fahmi)
Ini menarik guys, karena 52% Anggaran Pendidikan disalurkan ke daerah ada hubungannya dengan:
1. Kenapa guru honorer dibudakin 😱
2. Kenapa Anies (dan Nadiem) ruang geraknya sempit
3. Kenapa banyak k*rupsi Pendidikan di daerah
Coba kita bedah bareng yahh, a thread (1/🧵)
Fat loss is the easiest thing on Earth.
They made you think it was complicated to sell you programs & endless diets.
Here are 8 evidence-based hacks I used to drop 20lbs in 65 days (based on my experience): 🧵
1. Stopped doing endless cardio
V i r a l...
Dedy Mulyadi Gubernur Jabar sedang bersama Aguan 9 naga sedang nenikmati langit sore di Rooftop Gedung Sate Bandung.
Mana suaranya yang masih mendukung Dedi Mulyadi ???
Jkw jilid 2 sedang digodok oligarki??. Pencitraan sedang disiapkan untuk bodoh"in yang bodoh
Catatan penting wawancara Prabowo:
1) banyak orang baru di Pemerintahan, sehingga komunikasi kurang baik dan banyak salah mengucap (konteks kepala babi Hasan Nasbi HAHA).
2) demo boleh, ASALKAN damai. Hinting bahwa demo ada yg menggerakkan. Argue ada kekuatan asing.