kerja dicariin bapaknya, pas kampanye banyak bat janji programnya, ngomong kayak orang paling solutif ampe ngecengin profesor, tengil
sekalinya menang tiba2 jadi pasif, seabrek masalah di negara ini dia cuma diem, ditanya wartawan ga bisa jawab. lu orang apa perabotan lenong sih
sumpah ya gais w benci bgt sm tipe rekan kerja yg 'paling loyal' ampe lembur tiap hari tp gapernah minta dibayar. lu tuh bkn rajin tau gasih, lu tuh ngerusak standar kerjaan kita semua.
grgara lu skrg bos jd mikir klo kita pulang tenggo itu artinya males, pdhal kan emg udh jamnya pulang?? lu nyari muka tp kita yg kena getahnya, egois bgt asli.
tdi bgt w ditegur bos katanya w kurang 'passion' grgara gamau nambah jam kyk si mbak itu. lah bayarannya aja kaga ada?? skrg suasana kantor jd toxic bgt tiap jam 5 sore lgsg pada lirik2an nunggu siapa yg berani cabut duluan. w jd ngerasa bersalah tp kan emg hak w buat istirahat. w salah ga sih klo ngerasa dia yg bermasalah? atau w yg emg pemales menurut kalian?
cc:threadarunapratiwiy
Gini guys, apa yang kita dapat ini bukan taken for granted. Bukan serta merta ada.
- Alhamdulillah tata kelola MBG dievaluasi total selama liburan sekolah, setelah korupsinya terbongkar dan protes-protes tata kelola dari awal program ini
- Pemerintah anggarkan revitalisasi 71ribu sekolah karena kita protes terus kenapa gak dapur MBG lebih bagus dari sekolah. Prioritas harusnya perbaikan sekolah dulu.
- IHSG hijau, Rupiah menguat karena kita konsisten menujukan kekhawatiran kita terhadap situasi dan potensi krisis. Akhirnya banyak intervensi2 moneter dan fiskal, termasuk perbaikan komunikasi publik.
Capaian ini bukan hadir karena kita diam, tapi konsisten BERISIK.
Ada ribuan mahasiswa yang berdemo, guru-guru berteriak, sampai netizen kayak kita yang konsisten menyuarakan keresahan.
Resah itu hak kita sebagai pembayar pajak.
Ingat, Pemerintahan bekerja itu BARE MINIMUM. Kalau butuh diapreasiasi; ya lewat pajak yang kita bayarkan.
Dipikir-pikir gugatan ke Mahkamah Konstitusi itu mirip kaya "demo" versi lebih advanced.
1) Kita bisa protes, presentasikan data, memperlihatkan keadaan, ke negara.
2) Bebas dari gangguan parcok dan parjo.
3) Sidangnya beberapa kali, semua terekam live. Dokumentasinya ada PDF-nya semua.
4) Tiap sidangnya diliput sama jurnalis. Ditulis di berita di media.
5) Didengarkan hakim yang keputusannya bisa mengubah undang-undang.
6) Undang-undang mau gak mau dilaksanakan oleh pemerintah.
***
Saya ngikutin beberapa kasus di MK:
a) Tunjangan dan sertifikasi dosen diberhentikan selama tugas belajar
b) Tuntutan upah guru dan dosen agar minimum UMR
c) Tunjangan fungsional dosen yang nominalnya gak berubah sejak 2007
d) Anggaran pendidikan gak boleh dipakai MBG, digugat oleh 6-7 pihak sekaligus.
***
Semua keluhan yang nyata.
Sepertinya kita harus lebih banyak manfaatkan.
Kalau Gibran aja manfaatin, kenapa kita enggak?
Cerita ini nyata ya teman teman, saya mendengar cerita ini langsung dari orangnya.
Setelah sidang selesai, yang kebetulan beliau datang dari Kudus untuk melihat persidangan secara langsung.
Ketika beliau mendapatkan teror itu, beliau memilih untuk melawan. Sampai pelaku itu, mendapatkan konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Ya allah benci banget liatnya. Ngapain nangis si??? Yang pantes nangis tu orang tua 33.000 siswa korban keracunan MBG. Bukannya dapet perbaikan gizi, malah dapet racun.
Ini bukan gosip.
Ini rekam jejak Anggota DPD yang lo pilih pake uang pajak lo.
AWK , Arya Wedakarna, DPD Bali:
๐ 2009 : Ngaku Raja Majapahit Bali. Nama lengkapnya 12 kata. Dipolisikan warga Bali sendiri karena dianggap lecehkan sulinggih dan palsukan identitas.
๐ 2017 : Provokasi penolakan Ustadz Abdul Somad masuk Bali. Dilaporkan ke BK DPD dan polisi oleh anggota DPR RI , dituduh jadi otak persekusi berbasis agama.
๐ Maret 2020 : Ajudannya sendiri, mahasiswa semester VI, gaji Rp700 ribu, dijambak rambutnya, diputar-putar kepalanya, dipukul, dicekik , gara-gara nggak sengaja jatuhkan tas. LP/135/III/2020/BALI/SPKT. Masuk Polda Bali.
๐ 29 Desember 2023 : Di rapat resmi Angkasa Pura Bandara Ngurah Rai, bilang ke pejabat: "Jangan kasih yang penutup-penutup nggak jelas. This is not Middle East." Viral. Dikecam MUI, NU, Muhammadiyah, ICMI Bali.
๐ 2 Februari 2024 : Dipecat BK DPD. Langgar sumpah jabatan dan kode etik. Tiga laporan polisi sekaligus : Polda Bali, Polda NTB, Bareskrim Polri. Keppres No.35/P Tahun 2024 diteken Jokowi 22 Februari 2024.
๐ Maret 2024 : Tetap ngantor setelah dipecat. Tetap klaim masih terima gaji. Ngotot nggak mau keluar sampai dipaksa.
๐ Pemilu 2024 : 378.300 suara. Balik lagi ke DPD 2024โ2029.
๐ 27 Maret 2026 : Sebar hoaks foto jurnalis https://t.co/0oxJUTcFBv sebagai pelaku pemerkosaan. Tanpa verifikasi.
Jurnalisnya bilang: "Mental saya langsung down."
Dilaporkan ke Polda Bali dan BK DPD. AWK minta maaf terbuka , Antara, 30 Maret 2026.
๐ 2026 : dari akun Instagram verified-nya sendiri:
Ada warga lapor anak-anak SD 3 Batuyang nggak dapat MBG. Minta tolong ke anggota DPDnya
Jawaban AWK:
"Tanyakan sama mahasiswa yg DEMO itu ya... mereka demo MBG agar dihapus."
"Kami bantu daerah yg mau mau saja."
Rakyat lapor anak nggak dapat makan , dibalas dengan nyalahin mahasiswa yang demo.
Lalu ketika dikritik di kolom komentar, AWK jawab:
"Yg ga milih juga banyak termasuk elo. Ga usa sok paling berjasa."
Dipecat โ minta maaf โ balik lagi โ masalah baru โ minta maaf lagi โ rakyat yang butuh bantuan disuruh tanya ke demonstran.
Pola ini bukan kecelakaan. Pola ini adalah model bisnis.
Dan model bisnis ini jalan terus , karena sistemnya memang dirancang untuk membiarkannya jalan.
Tugas DPD itu apa, Pak?
Penutup dari pak @zanatul_91
"Ketika MBG Dibela ,Keracunan Dianggap Biasa, mempertontokan keserakahan dan membiarkan negeri ini dalam Mala Petaka"
"Saya Bersaksi siapapun yang merampok anggaran Pendidikan Di Dunia hidupnya dipenjara dan di Akhirat dia Masuk Neraka" -
Dan kami sbg rakyat jg ikut menjadi saksi, bagaimana pemerintah menyakiti dan mencederai pendidikan di negeri tercinta ini ๐ญ
Mari kita terus suarakan Perjuangan ini!!!
"Kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke TNI, tentara punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG," kata Iman Zanatul Haeri, seorang guru, di hadapan Mahkamah Konstitusi.