Mungkin perlu dipertegas lagi, Kurikulum merdeka memang didesain supaya siswa otomatis naik kelas. Itu tertulis dalam panduannya (2022) yang direvisi jadi (2024), dan direvisi pak Muti (2025).
Dampaknya siswa terus naik walau belum mencapai kompetensi. Itu juga tertulis di panduannya, meski belum mencapai kompetensi tetap bisa naik kelas. Dipertegas bahwa *OTOMATIS NAIK KELAS.*
Dari mana? Dari fase. Bahkan dokumen panduan menyatakan *Fase sengaja dibuat supaya siswa tetap naik*
Nah ini pendukung kurikulum merdeka tidak mau mengakui ini. Saya udah bedah 3 dokumen panduannya. Dan tertulis jelas disitu. Kenapa tidak mau mengakui? Karena dengan demikian akan ketahuan, fenomena siswa SMP tidak bisa baca karena waktu SD belum mencapai kopetensi, diharuskan tetap naik oleh karena desain fase kurikulum merdeka.
Silahkan cuci tangan, sejarah akan tetap merekamnya.
Kemarin goblokin pakar, sekarang bilang butuh pakar.
Didepan Trump join BOP, dihadapan ulama teriak Free Palestine.
Suka bilang anti asing, kunjungan luar negerinya hampir nyalip 10 tahun Jokowi & SBY
Teriak efisiensi, tp buang2 duit di MBG.
Everything about him is fake.
Tulisan ini terpampang di Balai Pertemuan yang menjadi tempat setiap acara resmi pondok:
“All problems can be solved by education.”
Bukan
“All problems can be solved by food.”
Prabowo tidak berani menyebut angka upah minimum guru. Terima kasih mas Andromeda, pertanyaan ini sangat penting ditanyakan kepada Presiden. Dan akhirnya kita tahu, komitmen beliau untuk upah minimun guru memang tidak ada.
Izin saya tambahkan ya Mbakyu lulusan PPE Oxford terkait masalah kualitas guru selain masalah kesejahteraan guru dan kebelet bikin open-ended assessment, berdasarkan pengamatan saya sebagai orang yang sekolahnya di sekolah negeri:
- Rasio jumlah guru dan peserta didik masih timpang, makanya kita sering menjumpai 1 guru ngajar beberapa mapel, atau 1 guru ngajar 1 mapel di banyak kelas (1 kelas ≈ 30 siswa) sekaligus. Dengan beban kayak gini, kita sulit untuk berekspektasi soal kualitas pengajarannya, jadi boro-boro pake metode pengajaran yang bisa lebih dipersonalisasi untuk setiap siswa atau bikin guru harus menilai jawaban 30-120 siswa di ujian open-ended 🤡🤡🤡 ujung-ujungnya siswa yang dituntut untuk cepat paham demi ngikutin pace si gurunya.
- Pempus hobinya ganti-ganti kurikulum tanpa bener-bener mikirin pengelolaan change management-nya gimana, terlalu top-down lah bisa dibilang. Guru “dipaksa” untuk segera beradaptasi dengan standardisasi yang baru. Gua sendiri ngalamin hidup di 2 kurikulum berbeda (KTSP, Kurikulum 2013) dan gua gak merasa ada yang berbeda secara signifikan. Seharusnya pempus (dalam hal ini Kemendikbud) tuh kalo ngegelontorin kebijakan baru, bikin yang lebih bottom-up gitu lho biar lebih tepat guna. Tapi ya iykyk lah gak ganti kurikulum = gak ada proyek.
- Pelatihan guru cenderung top-down dan sekali jalan (workshop sehari terus selesai), sering gak nyambung dengan masalah konkret yang dihadapi guru di kelasnya masing-masing. Gak ada pendampingan atau coaching berkelanjutan pascapelatihan, jadi materi baru itu jarang benar-benar terinternalisasi jadi perubahan nyata dalam cara mengajar.
- Beban administratif nonakademis (laporan akreditasi, administrasi kurikulum, laporan kinerjanya sendiri, jadi wali kelas, panitia PPDB, panitia input rapor SNMPTN, pembina ekskul) yang numpuk banget. Waktu yang seharusnya dipakai buat nyiapin materi atau media ajar yang lebih baik jadi terpotong buat ngurusin kerjaan yang gak linier dengan tugas fungsi utamanya.
- Gua udah bosen denger orang-orang mengaitkan gaji guru kecil -> bikin jumlah orang yang mau jadi guru sedikit, ketika sebenernya ada masalah nyata lainnya di lapangan yang jarang di-highlight orang-orang di Twitter: ilmu pengetahuan akhirnya di-gatekeep oleh guru itu sendiri yang bikin semacam “les tambahan” di luar jam mengajar untuk murid-murid yang mau membayar. Saking desperate-nya.
Ketika negara gagal mengelola guru, percayalah kita-kita sebagai murid jadi korbannya juga.
Dan ini belum ngomongin kondisi di wilayah 3T. 🙂
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM, kritik MBG, lalu terima ancaman penculikan, dikuntit orang tak dikenal, keluarganya diancam.
Sekarang dilaporkan ke polisi atas tuduhan hina presiden.
Yang melaporkan: Firdaus Oiwobo (gelarnya ga usah ditulis, pusing)
Orang yang sama yang:
a.naik ke atas meja di persidangan PN Jakarta Utara
b. dibekukan status advokatnya oleh Mahkamah Agung
c. dipecat dari Kongres Advokat Indonesia
Dengan lambang organisasi menampilkan granat, pisau, dan senapan.
Nama organisasinya: PEMBASMI.
Mahasiswa yang kritik kebijakan publik, dilaporkan hina presiden , oleh pengacara yang pernah dibekukan MA karena naik ke meja hakim.
Siapa sebetulnya yang perlu ditertibkan di sini?
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Nggak. MBG sama Kopdes bukan yang bikin rupiah ambruk secara langsung. Tapi dua program ini turut bikin keuangan negara makin kepepet, dan itu berefek ke rupiah. Prosesnya gini: kalau pengeluaran negara jauh lebih gede dari pemasukannya, pemerintah harus ngutang lebih banyak lewat surat berharga. Investor asing yang pegang surat itu mulai ragu, karena makin gede defisitnya, makin mereka khawatir negara susah bayar utang. Makanya mereka jual, tukar ke dolar, cabut. Permintaan rupiah turun, dolar naik.
Mereka kan pantau terus berita kita, defisit APBN per April 2026 udah tembus Rp164,4 triliun, jauh lebih parah dibanding April tahun lalu yang cuma Rp4,3 triliun. Belum lagi dokumen APBN final 2026 tegas bahwa hampir sepertiga anggaran pendidikan, tepatnya Rp223,5 triliun dari total Rp769 triliun, digeser buat MBG.
Yang pasti bikin mereka tambah heran, tentang Kopdes. 80 ribu koperasi desa dikasih pinjaman dari bank BUMN buat modal usaha. Normalnya kan koperasi yang nyicil utang itu tiap bulan. Tapi di aturan terbaru, yang bayar cicilan pokok plus bunganya adalah negara, bukan koperasinya. Jadi koperasinya minjem, tapi yang nanggung utangnya APBN. Koperasinya rugi atau males pun, utangnya tetap kebayar. Beban itu nempel tiap bulan, dari 80 ribu koperasi sekaligus. Apa ga geleng-geleng kepala itu investor dan ekonom global.
Pemerintah udah gerak sih, hanya dinamikanya tetap belum meyakinkan (bahkan lucu). Purbaya udah bilang bakal motong anggaran MBG, ga sampe seminggu dibantah sama BGN. BI juga udah naikin suku bunga, rupiah tetap tembus 17.845. Tapi tetap gw apresiasi 2 upaya itu, khususnya MBG kalau bisa diturunkan lagi dananya, atau kalau tidak mau, fokus arahkan ke sekolah-sekolah di pelosok yang muridnya benar-benar membutuhkan.
Terus apa yang selanjutnya pemerintah harus lakukan?
Menurut keyakinan saya ada tiga hal.
Pertama soal defisit. Yang perlu dilakukan: tunda ekspansi Kopdes ke daerah yang belum siap, daripada maksa jalan tapi malah nambahin defisit baru. Yang lebih penting, buktiin ke pasar bahwa defisit nggak akan jebol 3% sampai akhir tahun. Investor nggak butuh janji, mereka butuh lihat konsistensinya.
Kedua soal cadangan devisa. Per April kata BI, cadangan devisa kita tinggal $146,2 miliar, turun dari $156,5 miliar di awal tahun. Artinya dalam 4 bulan BI udah habiskan $10 miliar buat jual dolar langsung di pasar supaya rupiah nggak makin nyungsep. Masih ada lumayan banyak sih, tapi kalau terus dikuras dengan laju segini, ruang geraknya makin sempit. Yang harusnya dilakukan bukan cuma jual dolar terus, tapi genjot dolar masuk: tarik investasi asing langsung. Dan ini butuh lebih dari sekadar Prabowo keliling dunia.
Kalau kita lihat, dalam 18 bulan Prabowo udah 49 kali keluar negeri, hampir setara 4 bulan penuh hari kerja, dan selalu pulang bawa "komitmen investasi" triliunan. Tapi investor terbesar Indonesia sampai sekarang tetap Singapura, Hong Kong, China, bukan negara-negara yang dikunjungi. Komitmen bukan realisasi. Yang bikin investor beneran masuk adalah kepastian hukum, kemudahan izin usaha, dan konsistensi kebijakan, bukan foto bareng pemimpin dunia.
Ketiga, dan ini yang paling kontroversial, tentang gimana caranya mendorong jumlah ekspor kita. Mulai 1 Juni 2026 eksportir CPO dan batu bara wajib simpen 100% devisa hasil ekspornya di bank BUMN selama 12 bulan. Ekspor komoditasnya juga mulai masuk masa transisi lewat BUMN baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Untuk saat ini eksportir masih boleh pakai mitra/sistem lama sih, tapi dokumentasinya sudah harus lewat DSI. Baru mulai 1 Januari 2027 nanti seluruh transaksi ekspor sepenuhnya diambil alih DSI, sebagai eksportir tunggal batu bara, sawit, dan ferro alloy.
Tujuannya mulia: supaya dolar dari ekspor nggak kabur ke luar dan kebocoran devisa lewat transfer pricing bisa ditekan. Tapi gw tetap khawatir melihat proses eksekusi dan kecepatannya. DSI dibentuk dalam 3 hari: akta notaris 18 Mei, SK Kemenkumham 19 Mei, diumumkan Presiden 20 Mei, tanpa satu pun rapat publik, tanpa DPR, tanpa asosiasi pengusaha. Lalu sekarang satu entitas ini pegang seluruh hak jual komoditas strategis Indonesia ke luar negeri, tanpa audit independen, tanpa mekanisme pengawasan yang jelas. Ironisnya, ini persis modus transfer pricing yang mau diberantas, tapi sekarang yang melakukannya adalah negara sendiri. Kalau badan ini tidak transparan, kita tidak nutup pintu korupsi, kita cuma mindahin lokasinya ke satu titik yang lebih susah diawasi.
Jadi balik ke pertanyaan awal tadi: emang kalau MBG dan Kopdes dihentikan rupiah bisa menguat? Jawaban singkatnya nggak, karena memang tidak sesimpel itu. Dan gw berharap pemerintah bisa notice tiga saran gw diatas. Karena selama defisit terus bengkak, cadangan devisa terus dikuras, dan kebijakan besar kayak DSI dibentuk dalam 3 hari tanpa kajian publik, pasar akan terus ragu. Yang akhirnya menghasilkan rupiah yang lemah, cerminan dari pemerintah yang juga kelihatan ragu-ragu...
btw ini namanya mock charge atau gertakan.
di alam liar, mock charge itu biasa dilakukan oleh gajah, harimau, atau singa. biasa tujuannya mengintimidasi karna kita masuk wilayahnya. jadi kek disuru menjauh.
nah, seperti layaknya bayi lain, adek ini belajar mock charge dari kakak, ibu dan, tantenya.
bayi gajah mulanya lihat gajah betina dewasa lakukan mock charge ke predator, nah manusia yang masuk ke areanya tuh biasa dijadikan dia sebagai "bahan latihan" untuk mock charge ke predator lain.
terus apa bedanya mock charge dan serangan beneran?
bedanya, kalo serangan sungguhan itu kupingnya ditekan rapat ke kepala (ga dibuka lebar), kepala mereka menunduk, belalai dilipat masuk ke bawah, gading ke depan, diem total gapake suara. jadi kek nge-aim target nah wkwkwkw
Negara misoginis Afghanistan ini beneran gila.
Perempuan dilarang sekolah, istri dilarang kerja, tapi ketika miskin ga ada uang, si bapak enak bener bisa jual anak perempuan ke orang asing. Mana anaknya kembar usia 7 tahun lagi 😭😭
Tahun 2026 tapi perbudakan modern & perkawinan anak dilegalkan rezim Taliban yang membenci perempuan ini. Bukan korban kemiskinan ini, tapi korban ideologi busuk yang memusuhi perempuan: misoginis 🤬🤬
Nuansa liputan BBC malah kasihan sama bapak miskin yang jual anak sendiri. Goblok.
Haha, menarik ya 😂
Btw ini ada penjelasannya secara psikologis kenapa pas jatuh cinta rasanya jadi mendadak punya energi super power.
Jadi pas dapet notif dari dia yang kita sukai, otak akan memproduksi serotonin yaitu hormon rasa senang. Ga cuma itu, otak juga memproduksi dopamin, ini tuh zat kimia yang menumbuhkan motivasi dan semangat.
Efeknya gegara dopamin melonjak maka akan memicu energi fokus dan semangat. Kenapa tiba-tiba bisa jadi ngepel dan nyapu? Karena bawah sadar kita butuh menyalurkan energi berlebih biar tubuh ga merasa ‘gelisah’ karena terlalu seneng.
Ada lagi nih selain efek dopamin yaitu ‘mood congruence’, atau kesesuaian suasana hati, dimana ketika seseorang cenderung mengingat, merasakan atau memperhatikan informasi sesuai dengan suasana hatinya saat itu. Jadi cara kerjanya pada kondisi jatuh cinta itu kaya melihat segala sesuatu lewat kacamata positif gegara moodnya lagi di titik tertinggi.
Makanya aktivitas yang biasanya dianggap ngebosenin kaya menyapu atau nyuci itu akan "terwarnai" oleh perasaan senang tadi. Akhirnya jadi melihat kerjaan itu bukan sebagai beban, tapi sesuatu yang menyenangkan atau gampang diselesaikan karena pikiran kita sedang berada di frekuensi "keberhasilan dan kebahagiaan".
Gituuuu 🫶🏻✨
tau ga, bayi anjing laut tuh setelah lahir banyak yang kesasar dan hidup sendirian.
setelah lahir, ibu mereka bakalan ke laut untuk mencari makanan dan meninggalkan mereka sendiri di pesisir pantai.
bayi-bayi anjing laut yang ditinggal ibunya ini bakalan mencari ibunya dan diusir kawanan karna bukan bagian dari keluarga mereka. walaupun ada beberapa betina mengambil peranan merawat bayi yang tersesat, tapi ini ga berlaku secara keseluruhan.
jadi kalo mereka beruntung, mereka bakalan bertemu lagi dengan ibunya. tapi kalo ga, ya mereka bakalan hidup mandiri sedari kecil.
itu kenapa, di beberapa wilayah ada kakak-kakak konservasi yang mengurus bayi ini sampai siap kembali ke pantai.
jadi, kalo ada fotografer satwa liar didatangin bayi anjing laut tuh bisa jadi mereka kesasar dan gatau harus kemana, ibunya lagi cari ikan 🥲
Baru kali ini, loh, kami melihat ada orang yang mencaci-maki akademisi dan cendikiawan. Apalagi kalo 'orang itu' adalah seorang Presiden.
Ini maksudnya siapapun itu yang memiliki intelektualitas lebih, dilarang untuk melempar kritik, yaa?
Khawatir bahwa mereka akan menularkan keintelektualitasannya pada mereka-mereka yang 'masih bodoh' dan 'belum sadar'?
Terdengar empatik, tapi bodoh.
Gini lho bu menteri, kecelakaan kereta itu nggak selalu tabrakan depan-belakang.
Jika terjadi anjlokan akibat masalah wesel atau patah rel, gerbong tengah yg justru bisa mengalami efek teleskopik yg juga sangat mematikan.
Lagian gini lho, ini soal crowd management. Gerbong khusus perempuan itu di ujung tujuannya membantu memisahkan arus penumpang laki2 dan perempuan sejak di peron stasiun. Jika gerbong khusus perempuan diletakkan di tengah, bakal sangat kacau saat jam2 sibuk.
Kalau solusinya cuma pindah gerbong, menjauhkan satu kelompok dari zona bahaya berarti secara menteri ini sangat sadar utk menempatkan kelompok lain (laki-laki dan penumpang umum) di zona maut.
Benar2 komentar nggak etis dalam konteks keselamatan publik. Bukannya ngepush utk meningkatkan standar keamanan, malah pindah gerbong.
Heran, anggota kabinetnya prabowo ini kok banyak banget yg nggak mutu dan absun kek gini.
Saya adl seorg dosen di AS. Kemarin pas ngurus cuti melahirkan sy bilang kpd dekan & presiden kampus ttg kekhawatiran sy soal slowing down performa akademik sy krn hamil & melahirkan. Mrk meresponnya dg: