Buat yang udah blame ni-ki atau member aku harap kalian memper tanggung jawabkan ketikan kalian semua. Termasuk untuk yang dragging atau hating ke korban semoga ga jadi boomerang buat kalian. Jujur ga respect sama orang yang mengatas namakan empati dan “don’t be mean bcz kpop” padahal mereka gunain itu buat blaming pihak lain. Karma is coming for you, buat orang blaming ke ni-ki ataupun ke member terlebih untuk yang hating/dragging ke korban.
gimana ya kondisi member enhypen sekarang, khawatir banget 😞😞 dari awal tahun ada aja yang terjadi, semoga gak kenapa-napa yah pen, we'll be fine 🥺🫶🏻🫶🏻
Aku bantu translate ke bahasa indonesia ya teman-teman, supaya kita para wni bisa membacanya dengan baik dan benar. Supaya ini jadi pencerahan juga untuk kita semua agar pikirannya lebih terbuka.
—
Setelah nonton dokumenter Evan, baca ulang semua official statement, dan sempat baca juga soal organizational research (nemu ini secara nggak sengaja), aku rasa akhirnya aku mulai ngerti kenapa dia ambil keputusan itu.
Yang paling kerasa buat aku itu… dia bukan seseorang yang udah kehilangan rasa cinta ke musik atau ke ENHYPEN. Tapi lebih ke seseorang yang kelihatan bener-bener burnout. Kayak orang yang udah lama banget nyimpen ide, lagu, dan mimpi, tapi nggak pernah punya waktu atau kebebasan buat ngejalanin semuanya sepenuhnya.
Dia sendiri udah sering banget ngomong kalau dia pengen rilis musiknya sendiri, bahkan member lain juga ikut hype itu. Tapi rencana itu terus ketunda, sementara jadwal grup makin padat. Buat aku, ini nggak pernah keliatan kayak dia berhenti cinta sama ENHYPEN. Tapi lebih ke dia pelan-pelan kehilangan kesempatan buat berkembang jadi artis yang juga dia pengen.
Setelah coba lihat dari berbagai sisi, jujur aku ngerasa mimpinya dari awal bukan buat “pergi”. Dari yang dia dan pihak agensi sampaikan, kelihatannya dia sebenernya pengen dua-duanya—tetap jadi member ENHYPEN sambil pelan-pelan bangun kariernya sendiri. Dan itu bukan hal yang mustahil, karena banyak idol lain juga bisa jalanin dua-duanya.
Tapi justru karena mereka makin sukses, hal itu malah jadi makin susah. Jadwal grup yang nggak ada hentinya—tour, comeback, promosi, konten, brand deal, dan banyak hal lainnya—bikin ruang buat hal di luar grup jadi makin sempit. Semakin besar grupnya, semakin kecil juga ruang buat hal lain.
Aku juga sempat baca research dari Westover (2025) dan Grote (2020) yang ngebahas kenapa orang kadang keluar dari tim yang sebenarnya sangat sukses. Menariknya, alasannya sering bukan karena mereka nggak bahagia, nggak loyal, atau udah nggak percaya sama timnya. Tapi karena sistem yang bikin tim itu sukses justru jadi terlalu kaku.
Pas sebuah tim udah ada di puncak, fokusnya biasanya berubah jadi menjaga apa yang udah berhasil—jadwal yang fix, rutinitas yang udah terbukti, dan memastikan semuanya tetap jalan bareng. Tapi tanpa sadar, struktur itu malah nutup ruang buat berkembang, berkreasi, atau ngejar tujuan pribadi di luar jalur yang sudah ditentukan itu.
Dengan rilisnya dokumenter Evan, semoga publik bisa mengerti situasi dan kondisinya. Semoga ini jadi titik akhir dari semua spekulasi dan Semoga kita akhirnya mau berhenti menghakimi, dan mulai belajar mengerti.
ENHYPEN, ENGENE, EVAN, EVER...
Kita semua pernah ada di satu cerita yang sama.
Mereka korban dari narasi yang dipaksa hidup, padahal ceritanya sudah selesai.
Jalan mereka sudah berbeda. Biarkan mereka berjalan dengan tenang.
Jangan lagi seret masa lalu untuk menyakiti masa depan.
Kalau kangen masa-masa itu, cukup kenang dalam diam. Karena beberapa kenangan ada baiknya kalau kita simpan sendiri di hati.
Udah ya.
Jalan mereka udah berbeda.
Jangan disangkut pautkan lagi.
@mcflurryorios punya.... aku satu circle berenam, satu keterima SNBP dan empat lainnya keterima SNBT (termasuk aku). sampai sekarang gak tau dia daftar dimana atau gimana gimana gitu karenaa sungkan nanyanya 😞😞
#RT이벤트
Torridenwith CORTIS!
컨트롤 못 할 트러블은 없어!
CORTIS가 받은 단 하나의 해결책, 확인하셨나요?
이제는 함께 컨트롤할 차례.
🧪밸런스풀 컨트롤 세럼 만나보기 :
https://t.co/InxekJjAfT
--- CONTROL : COMPLETE ---
▹지금 타래를 확인해 주세요 - !
#토리든#코르티스