Perubahan di Papua bukan hal yang mudah dan butuh proses yang panjang.
Wanam adalah wilayah rawa di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang kini mengalami transformasi besar menjadi lumbung pangan modern melalui Proyek Strategis Nasional (PSN) pencetakan sawah.
Kawasan yang awalnya sulit dijangkau, kini mulai terhubung. Pembangunan jalan akses di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, menghadapi tantangan berat akibat kondisi alam rawa berlumpur, curah hujan tinggi, dan pasang surut air laut.
Pembangunan Infrastruktur terus dikebut. Pembangunan jalan akses sepanjang 135 km, dermaga multipurpose, gudang logistik, dan tangki bahan bakar. Dukung PSN WANAM untuk ketahanan pangan nasional.
Kena sorot main HP pas rapat, bukannya malu dan introspeksi, malah playing victim lapor polisi karena curiga kamera berlogo gubernur.
Wakil rakyat digaji puluhan juta dari APBD bukan buat main HP di ruang rapat.
Kalau kerjaan cuma defensif begini, mending mundur saja. Rakyat butuh wakil yang melek masalah, bukan melek HP doang. Mental anak pejabat korup kok dipelihara terus ๐๐๐
Di tengah gemerlap acara pelantikan yang penuh kebanggaan, ada satu sosok sederhana yang diam-diam mencuri perhatian.
Beliau bukan pejabat, bukan orang kaya, bukan pula tamu kehormatan. Beliau hanyalah seorang ayah petani dari pelosok Desa Niti, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur. Dengan pakaian sederhana dan sandal yang menemani langkahnya, beliau menempuh perjalanan yang tidak mudah.
Berjalan kaki, berganti angkutan umum, menyeberangi lautan dengan kapal, lalu kembali berdesakan di bus antarkota menuju Bandung. Bukan untuk berlibur. Bukan untuk mencari pekerjaan. Beliau datang hanya untuk satu tujuan: menyaksikan putranya dilantik dan meraih cita-cita yang selama ini mereka perjuangkan bersama.
Mungkin beliau tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Tidak ada mobil mewah, tidak ada tabungan miliaran rupiah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga yang ia berikan kepada anaknya: kerja keras, pengorbanan, dan doa yang tak pernah putus setiap malam. Tak seorang pun tahu berapa banyak keringat yang jatuh di ladang. Tak ada yang menghitung berapa kali beliau menahan lelah, lapar, dan kecewa demi memastikan anaknya tetap bisa bermimpi. Dan hari itu, semua perjuangan itu seperti terbayar lunas.
Di balik seragam kebanggaan sang putra, ada tangan kasar seorang ayah yang telah bekerja seumur hidup. Di balik keberhasilan seorang anak, ada cinta yang tidak pernah meminta balasan.
๐ฅ:ntt update
Di usia 72 tahun, ia tidak mencuri untuk serakah, ia hanya mengambil sedikit getah karet agar istri dan cucunya tak kelaparan. Saat tak ada yang mau menolong, hukum datang lebih dulu daripada belas kasihan. Semoga keadilan hadir dengan hati, agar Kakek Mujiran bisa menghabiskan sisa usianya di rumah, bukan di balik jeruji.
#KeadilanBukanHanyaAturan
Seandainya orang yang punya BELAS KASIH jauh lebih banyak lagi, mungkin orang-orang yang sedang berada di zona LELAH dengan keadaan tidak akan melakukan BUNDIR.
TERIMAKASIH orang baik.
Respek ๐ฉต
Fendi, bocah asal Jeruken, Girisekar, Panggang, Gunungkidul merelakan kesempatan belajar di bangku Sekolah Dasar. Pilihan sulit berhenti sekolah ia ambil karena ingin menunggu ibunya di rumah. Ibunya 3 tahun silam mendadak buta. Tak cukup itu, kelumpuhan nyaris total dialami. Fendi tak bisa tinggal diam melihat kenyataan itu, ia memilih berhenti sekolah untuk menjaga ibunya di rumah. Sementara itu, ayahnya tak lagi mampu bekerja secara optimal. Sebab, kondisi fisiknya juga kian ringkih. Kakak pertama Fendi, usai lulus SMP telah memikul beban berat. Dia bekerja di kota sebagai tulang punggung keluarga. Sementara itu, kakak kedua masih menggengam semangat menuntut ilmu di bangku SMP. Keluarga ini memang tak luput dari perhatian pemerintah. Segenap Bansos, mulai dari BPJS, PKH, BPNT telah diterima. Sekalipun begitu, melihat kisah Fendi, warga sekitar dan tokoh masyarakat iba. Bujukan dan rayuan agar Fendi kembali bersekolah belum membuahkan hasil.