kebahagiaan orang lain tidak akan sedikit pun merugikanmu, kekayaan orang lain tidak akan pernah mengurangi jatah rezekimu, belajarlah hidup dengan hati yang bersih lalu tatalah hatimu agar mampu bersyukur dalam setiap keadaan
#CelahAwan
“Kalau Nilai Matematika Saya Merah, Apakah Saya Bodoh?”
Dulu, kecerdasan hanya dipersempit jadi satu jalur: jago matematika, sains, dan hafalan. Di sekolah kita, anak yang tak bisa berhitung tapi piawai menulis cerita atau bergaul hangat seringkali hanya dipandang “biasa”. Seolah kecemerlangan hanya boleh bernama angka.
Saya termasuk yang tumbuh dalam asumsi itu. Nilai matematika saya di ijazah SD: merah, 5. Di Tsanawiyah, saya sering bolos pelajaran itu dan enggan menyentuh PR-nya. Tapi guru saya sangat baik—tak pernah memberi nilai merah di rapor. Sampai sekarang, beliau masih hadir dalam mimpi saya. Dan dalam mimpi itu, saya masih gemetar menghadapi ujian matematika. Sedalam itu trauma yang ditinggalkan.
Namun hidup mengajarkan hal lain. Hari ini saya boleh berdiri di depan kelas—mengajar hukum, bukan menghitung integral. Bukan karena matematika tak penting, tapi karena itu tenyata bukan satu-satunya bentuk kecerdasan.
Howard Gardner memperkenalkan Teori Multiple Intelligences yang menolak gagasan bahwa IQ adalah tolok ukur tunggal. Menurutnya, manusia memiliki setidaknya 8 bentuk kecerdasan.
1. Logika-Matematika, seperti dimiliki ilmuwan & insinyur.
2. Linguistik-Verbal, yang kuat pada pengacara, jurnalis, & dosen.
3. Visual-Spasial, seperti arsitek & desainer.
4. Musikal, pada musisi dan penyanyi.
5. Kinestetik-Jasmani, yang dimiliki atlet dan ahli bedah.
6. Interpersonal, kecerdasan memahami orang lain—seperti guru & konselor.
7. Intrapersonal, kecerdasan memahami diri sendiri, khas filsuf & pemimpin bijak.
8. Naturalis, yang peka akan dunia alam—petani, aktivis lingkungan.
Jadi, tak ada definisi tunggal untuk “cerdas”. Anak yang tak pandai berhitung tapi bisa menulis cerpen, memainkan musik, berolahraga, atau memahami teman yang sedih—tetap cerdas, hanya dalam bentuk yang berbeda.
Teori ini menantang sistem pendidikan kita agar lebih adil dan manusiawi. Agar anak-anak tak lagi dipaksa “memanjat pohon”, padahal mereka adalah “ikan yang bisa berenang dengan gemilang.”
“Jadi kalau gak bisa matematika, gak bisa gambar, gak bisa nyanyi, Abang bisanya apa dong?”
“Bisanya cuma bikin puisi dan kalimat cinta buat dirimu, Hon…”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Wahai orang2 yang beriman! Janganlah suatu kaum meng-olok2 kaum yg lain، boleh jadi mereka (yg diperolok) lebih baik dari mereka (yg mengolok2) dan jangan pula perempuan2 (mengolok-olok) perempuan lain boleh jadi perempuan (yg diperolok) lebih baik dari yg mengolok-olok. (Qur'an)
Surat suara (paslon) nomor urut 1, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, sudah tercoblos duluan sebelum pelaksanaan pemungutan suara di Bekasi. https://t.co/JQPzMplnRr
Tidak signifikannya antara keramaiannya di X dgn hasil survei membuktikan bahwa akun2 kloningan di rajakomen dan akun2 bot tidak bisa ikut survei apalagi ikut nyoblos Wan Angin
Para capres sepaham yang protes yg nonton.. pengen amet liat keributan hahahahaha .. itulah penonton berasa yang paling pinter dibanding yang ditonton
#PemiluDamai
Dalam satu bulan ini telah terjadi kekejaman di Palestina dan dunia seolah benar-benar tidak berdaya. Lebih dari 7,9 miliar penduduk dunia, lebih dari 190 pimpinan negara, tapi sampai saat ini tak satu pun yang mampu hentikan kekejaman di tanah Palestina.
Di hadapan pemimpin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) saya menyerukan agar OKI bersatu dan berada di garda terdepan dalam penyelesaian krisis di Gaza, Palestina. KTT Luar Biasa OKI yang digelar di Riyadh, Arab Saudi, ini sangat tepat untuk dilakukan, tetapi lebih penting lagi bahwa OKI harus mampu menghasilkan hal konkret agar kekejaman Israel di Gaza dapat segera dihentikan.
Untuk itu, ada empat hal yang mendesak untuk dilaksanakan. Pertama, gencatan senjata segera dilakukan. Tanpa gencatan senjata, situasi tak akan membaik. Israel telah menggunakan narasi self defense dan terus melakukan pembunuhan rakyat sipil.
Kedua, bantuan kemanusiaan dipercepat dan diperluas jangkauannya, lebih bisa diprediksi dan berkelanjutan. Situasi kemanusiaan di Gaza sangat memprihatikan. Contoh, RS Indonesia di Gaza Utara terus menjadi sasaran serangan Israel, sejak kemarin sudah kehabisan bahan bakar.
Ketiga, OKI harus menggunakan semua lini untuk menuntut pertanggungjawaban Israel terhadap kekejaman kemanusiaan yang telah dilakukan. Dan keempat, OKI harus mendesak agar perundingan damai segera dimulai kembali demi terwujudnya solusi dua negara dan menolak pemikiran solusi satu negara.
"Indonesia bersama-sama dengan OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) mengirimkan pesan kuat kepada dunia untuk hentikan eskalasi, untuk hentikan penggunaan kekerasan, dan menyelesaikan akar permasalahan, yaitu pendudukan Israel atas Palestina," kata @Jokowi.
https://t.co/PH2hf5bivJ
Ingat dan Ingat....
Iblis itu menggunakan Nama Tuhan "Fa bi'Izzatika" (Maka demi KebesaranMu" akan aku goda semua manusia.
Nafsu manusia pun ketika bertemu dengan Nama Tuhan, inginnya memanfaatkan Nama Tuhan sebagai legitimasi untuk mengabsahkan ambisi nafsunya.