@LambeSahamjja Sapa suruh cari untung dari bantuan sosial. klo smpe berani kredit artinya kalkulasi di awal udah pasti masih lebih untung dari bunga kredit margin investasi nya. kalo dari awal prosesnya buat kebijakan udah salah turunan nya ya gak berlaku lah lu punya kontrak menyengsarakan
Ini preseden buruk, pengangkatan direksi tidak ada satupun kader internal, semuanya pendatang, semakin menunjukkan arogansi Bos Danantara. Saya sebagai putra daerah Tanjung Enim, prihatin sekali. Anda pejabat, tidak adil, anda akan dituntut di yaumil akhir. @prabowo
Guys, ada kasus dari Medan yang menurut gue paling absurd dan paling menyakitkan yang pernah gue baca dalam waktu lama.
Dua pemuda usia 22 tahun
beli Pertalite 25 liter pakai jeriken.
Ditangkap. Ditahan.
Dan sekarang terancam 6 tahun penjara plus denda Rp60 miliar.
Beli. Bukan nyolong.
Beli pakai uang sendiri.
25 liter. Pakai jeriken.
Dan dijerat pasal yang sama dengan mafia migas kelas kakap.
Ini faktanya yang bikin makin tidak masuk akal:
Mereka ditangkap 6 Januari 2026 empat hari setelah KUHP baru berlaku.
Tanggal 7 Januari sehari setelah ditangkap polisi baru memeriksa ahli.
Artinya mereka sudah jadi tersangka sebelum ahli diperiksa.
Prosedur terbalik total.
Di persidangan ada kejanggalan lebih parah lagi.
Dakwaan menyebut penangkapan berdasarkan informasi masyarakat.
Tapi saksi polisi di persidangan bilang penangkapan terjadi saat patroli rutin.
Dua versi yang berbeda.
Dalam satu kasus yang sama.
Hakim pun curiga dan langsung nyeletuk keras di persidangan:
"Yang saya khawatirkan perkara ini adalah request jadi kalian tidak murni melakukan penegakan hukum."
Hakim sendiri.
Yang ngomong begitu.
Di dalam sidang.
Dan ini tentang pasal yang dipakai yang paling tidak proporsional:
Pasal 55 Undang-Undang Migas ancamannya 6 tahun penjara dan denda Rp60 miliar.
Pasal itu dibuat untuk menjerat mafia migas penyelundup skala besar, kartel distribusi ilegal, pemain yang merugikan negara miliaran rupiah.
Bukan untuk dua anak muda yang beli 25 liter Pertalite pakai jeriken di SPBU pinggir jalan.
Kuasa hukum mereka langsung kalkulasi:
keuntungan tidak wajar dari pembelian itu?
Sekitar Rp15.000 per jeriken.
Lima belas ribu rupiah.
Itu yang dianggap sebanding dengan ancaman Rp60 miliar dan 6 tahun penjara.
"Nilai Rp60 miliar itu masuk akal kalau pelakunya pemain besar.
Ini cuma dua anak muda yang beli 25 liter."
Dan ini yang paling menohok siapa yang seharusnya jadi target:
Kuasa hukum mereka menyebut dengan sangat jelas:
yang seharusnya disorot adalah pemilik SPBU-nya yang membiarkan pengisian menggunakan jeriken terjadi di tempat usahanya.
Bukan pembelinya.
Bukan dua anak muda itu.
Tapi yang ditangkap adalah orang yang paling tidak punya kuasa dan paling tidak punya koneksi.
Yang punya SPBU? Bebas.
Yang beli 25 liter? Ditahan enam bulan.
Dan ini kondisi salah satu terdakwa yang paling menyedihkan:
Ayah dari salah satu terdakwa sedang menderita kanker. Kuasa hukum mengajukan penangguhan penahanan atas dasar kemanusiaan.
Dan mereka baru dibebaskan dari rutan setelah hakim mengabulkan penangguhan setelah enam bulan ditahan.
Enam bulan.
Untuk beli bensin 25 liter.
Di negara ini kepala BGN yang mengelola Rp335 triliun dan terbukti korupsi baru ditangkap setelah berbulan-bulan program berjalan.
Mafia BBM yang mengeruk subsidi miliaran masih bebas keliling. Pejabat yang merampok uang rakyat masih bisa nyalon lagi di pemilu berikutnya.
Tapi dua anak muda 22 tahun yang beli 25 liter bensin pakai jeriken ditangkap sehari setelah membeli bensin, ditahan enam bulan, dan terancam denda Rp60 miliar.
Hukum di Indonesia memang ada.
Tapi tajamnya hanya ke bawah.
Dan selama sistem ini tidak berubah keadilan di negara ini akan terus menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya uang dan koneksi.
@LambeSahamjja No 1 dan 2 saling berlawanan benar, tidak ada salah. Kesalahan pemerintah salah momentum mestinya penjarain Dadan, stop MBG dan naikan BBM saat pertama x selat hormuz ditutup, pembagian Bansos Tunai dan bantuan lain utk jaga daya beli masyarakat. Pemerintah bodoh naikan bbm skrg
Rusak kabeh !
All President's Men ternyata orang orang problematik semua.
Setelah dirjen imigrasi (yang menjadi Wamen Imipas) yang berlatar semi militer (yakni dari pindad, dan bahkan BIN),ditangkap karena ternyata maling kelas atas, sekarang Dirjen Bea Cukai, mantan anak buah Prabowo yang pernah menculik aktivis. Ini adalah Letjen Djaka Budi . Disebut oleh Jaksa menerima suap dari forwader Blueray. (blue ray ini juga yang dipakai Raffi Ahmad). ckckckcck.
..
Sungguh aneh, orang ini belum ditangkap juga.
Saya yakin, pak Menteri Kementerian Keuangan Republik Indonesia hanya bisa mengeluh, tapi gak berani mencopotnya. Ini orangnya president.
Presiden menyia nyiakan cek kosong, hak prerogratif untuk memilih pembantunya. Jebul, banyak orang orang busuk yang bercokol.
.
Saya yakin, ini orang orang STAN sedang ketawa ketawa melihat morat maritnya pengelolaan ekonomi ditangan orang ITB dan TENTARA.
.
@Jelli_cent statement kepala BGN "MBG bisa membuat anak anak pekerja migran punya harapan masa depan" Pertama sekolah di arab ga pnya masa depan? keduan sekolah di Arab gak ada MBG harapan masa depannya lebih bagus dari anak anak yang putus sekolah di Indonesia krn mesti bantu ortu cari uang
@Hidupsebagai62 kalau yg dikatakan benar, bisa jadi baik untuk jangka panjang, daripada membiarkan kebocoran sumber daya lebih baik ekonomi jatuh untuk sementara sebelum bangkit lebih tinggi. Aku gak menyukai pemerintah skrg karena niatnya selalu baik tapi pelaksanaannya selalu buruk
@LambeSahamjja Parah banget, aku yakin prabowo bukan orang bodoh, dia tau ttg penting nya nilai mata uang, tapi dia mau ngibulin rakyatnya, sama seperti bilang sawit juga pohon
@kangdede78 kalau memang return bawa investasi sebanyak itu kenapa rupiah makin hancur? kenapa BI mesti menyeimbangkan outflow dana asing dengan SRBI? Jujur kenyataan di kehidupan saya barang mulai naik 2rbu-3rbu padahal bensin sama, TDL belum berubah.