BREAKING
History is made, but not the kind Indonesia wanted.
Eliminated from #ThomasCup2026 - Indonesia's first-ever group stage exit from the Thomas Cup.
Before this, Indonesia's worst result was a quarter-final exit in 2012.
Unprecedented.
#TUC2026#Horsens2026
Gue pernah liat orang sakaratul maut lalu meninggal di depan mata secara langsung sekali seumur hidup, dan itu adalah ibu sendiri. Life-changing experience 🥀
Ibu waktu itu sakit komplikasi paru & dirawat di RS. Sebulan di sana, badannya kurus kering.
Gue masih 2 SMP. Waktu itu, gue pulang sekolah ke rumah dengan kondisi ga ada orang (biasanya ada adek yg nunggu gue pulang dan kita ke RS barengan dijemput temennya ibu)
Terus, tiba-tiba dateng satu mobil yang ternyata adalah temen ibu bareng adek dateng buat jemput gue. Ternyata adek udah dijemput duluan. Gak pake lama, gue dituntun langsung naik ke mobil. Temen ibu gue ini nyopirnya buru-buru, agak ngebut. Tapi, gue blm ada feeling buruk di situ. Soalnya pas paginya, gue berangkat sekolah dari RS & beliau masih minta gue pijitin punggungnya, walau setiap beliau nafas dr hidungnya, memang udah ada bunyi sesuatu kayak ada dahak/cairan yg menghambat nafasnya.
Sampe di RS, mobil diparkir & gue bareng adek langsung diarahin ke ICU.. di situ keluarga besar udah ngumpul. Vibe yg tadinya cuma gue liat film/sinetron, terjadi di hidup gue..
Di dalam ICU, ada nenek (ibunya ibu). Sesuai prosedur RS, tante-nenek-bokap saling gantian masuk waktu itu, supaya ruang ICU tetep kondusif. Kondisi ibu udah lemes banget. Tangannya dingin, urat nadinya keliatan jelas, tapi matanya masih melek sedikit banget.
Pas gue masuk ke dalam ICU, nenek langsung manggil nama ibu dan bilang “[nama].. itu anakmu udah dateng” “ itu liat anaknya udah dateng, [nama] buka dulu yuk matanya sebentar”
Di situ, ibu dituntun buat baca syahadat.
Ternyata, ibu nunggu kehadiran gue sblm akhirnya beliau meninggal. Ibu masih sanggup buat arahin matanya ke gue, terus dia senyum, sampe akhirnya merem buat selamanya. Gue genggam tangan ibu yg masih punya sedikit tenaga, walau perlahan terus mengendur.
Terus, dokter masih nyoba buat ngasih pacu jantung, kayak di film-film. Tapi, gak lama monitor udah ngasih liat flatline. Garis rata. Ibu akhirnya meninggal.
Selama sequence di dalam ICU itu, gue sama sekali speechless, shock, ga bisa ngeluarin air mata. Gue masih berusaha mencerna ini real atau ngga, dan masih denial. Tapi, semua orang udah rembes nangis.
Tangis gue baru pecah waktu keluar dari RS menuju ambulans buat konvoi anter mayat ibu ke rumah. Tante gue ngasih celana panjang motif batik & hoodie warna merah: set pakaian yang dipake ibu waktu pertama kali ke RS itu. Tante bilang: “ini nak, nanti disimpen ya.”
Dan sampe sekarang, gue punya trauma kalo nemenin orang di rumah sakit. Tiap jalan lewat RS itu, gue jg ngalihin muka karena keinget ibu
Ibu ga sempet ninggalin surat atau ucapan kepergian apapun untuk gue & keluarga. Dia terlalu sibuk ngelawan penyakitnya, dan akhirnya bisa bebas. Hal yg gue banggakan adalah bisa ngeliat ibu meninggal dengan ngucap syahadat, dan dalam posisi wajah yg senyum. Even waktu mayatnya dibawa pulang ke rumah buat dimakamin esok harinya, mayat ibu masih senyum, wajahnya cerah. Dan semua tamu yg dateng berkunjung jd saksi liat itu. 🥹
Semoga ibu diterima di surganya Allah. She’s the kindest, nicest, most selfless person that i’ve ever known. 🤍
Let me tell a story about this guy and LPDP.
*
*
*
*
*
*
Perhatikan riwayat pendidikan di poster terbaru. Karena ini penting untuk konteks
4 Juli 2024
- Sebuah poster tentang "Serba-serbi kuliah di luar negeri" dengan nara sumber Billy Mambrasar dan Deris Nagara beredar
- Judulnya "A-Z Berkuliah di Luar Negeri"
- Dilaksanakan 7 Juli 2024
- Sebuah akun (sayangnya sekarang sedang gembokan) menanyakan kepada LPDP:
"Dia kan master KEDUA di Harvard dan kabarnya pakai LPDP?"
- Dari poster terbaru, dia sudah menyelesaikan MBA di Australian National University (ANU)
- Dia S2 di ANU pakai beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS)
Catatan aturan LPDP:
"Pendaftar yang telah menyelesaikan studi magister (S2) tidak diizinkan mendaftar pada program beasiswa jenjang magister."
Poin utamanya:
Dia udah S2 pakai AAS, terus S2 lagi pake LPDP??
5 Juli 2024
Admin Twitter LPDP mengklarifikasi, saya copy paste threadnya:
1. Sesuai ketentuan Beasiswa LPDP, LPDP tidak memperkenankan pendanaan beasiswa pada jenjang pendidikan yang telah diselesaikan. Oleh karena itu bila seseorang telah menyelesaikan pendidikan magister tidak dapat magister kembali, demikian juga berlaku untuk pendidikan doktor.
2. Billy Mambrasar adalah penerima beasiswa LPDP yang dinyatakan lulus seleksi beasiswa pada tahun 2017 untuk jenjang pendidikan doktor/S3, sebab ia telah merampungkan studi S2 nya di ANU pada tahun 2014.
3. Billy Mambrasar juga telah mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK) Angkatan 128 yang berlangsung pada 15-19 Oktober 2018.
4. Pada tahun 2019, LPDP menerima Surat Permohonan Penundaan Studi dari Billy Mambrasar dengan alasan harus mengemban tugas sebagai Staf Khusus Presiden.
5. Sesuai dengan ketentuan beasiswa LPDP, penundaan studi yang disebabkan mendapat penugasan dari pejabat setingkat menteri dapat diperkenankan.
Aturan ini berlaku pula untuk beberapa orang lain dengan kriteria kasus yang sama, bukan hanya berpihak pada satu orang saja.
6. Yang bersangkutan kemudian mulai mengajukan administrasi penerbitan Letter of Guarantee (LoG) pada Januari 2023 dan tercatat telah memulai perkuliahannya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada Februari 2023 untuk program doktor/S3.
***
Oh, jadi dia tidak ambil S2 lagi tapi S3 yang pake LPDP, cuma belum berangkat?
Selesai? Clear?
Ohoho, belum, tentu saja.
***
Cek lagi therad dari admin LPDP:
Nomor 2:
2. Billy Mambrasar adalah penerima beasiswa LPDP yang dinyatakan lulus seleksi beasiswa pada tahun 2017 untuk jenjang pendidikan doktor/S3, sebab ia telah merampungkan studi S2 nya di ANU pada tahun 2014.
***
Aturan LPDP
Penerima Beasiswa dapat menunda waktu mulai studi paling lama 1 (satu) tahun akademik apabila:
a. Sakit,
b. Hamil dan/atau melahirkan untuk Penerima Beasiswa wanita,
c. Mengalami kendala dalam memperoleh visa,
d. Mengalami bencana, dan/atau
e. Terjadi wabah.
Penerima Beasiswa dapat menunda waktu mulai studi paling lama 2 (dua) tahun akademik apabila:
a. Telah dinyatakan lulus seleksi penerimaan CPNS, dan/atau
b. Mendapat penugasan dari pejabat sekurang-kurangnya setingkat menteri untuk kepentingan nasional.
***
Nomor 6:
Memulai perkuliahannya pada Februari 2023.
2017 ke 2023.
Ada selisih 6 tahun.
PENUNDAAN, 6 TAHUN
***
Lalu dibalas dengan thread dari Admin LPDP:
Dalam memproses izin penundaan studi, LPDP dapat menggunakan ruang dan kewenangan diskresi yang ketat dan terbatas.
LPDP memberikan izin penundaan studi atas dasar tugas yang melekat kepada Billy Mambrasar sebagai Staf Khusus Presiden RI masa bakti 2019-2024.
Diskresi yang ketat dan terbatas ini diberikan setelah melalui proses pertimbangan matang dan arahan pimpinan, agar dapat memberikan ruang kepada yang benar-benar layak sekaligus meminimalkan adanya oknum-oknum yang berpotensi memanfaatkan celah tersebut untuk menunda studi.
Perlu diketahui pula pada tahun 2020 terjadi pandemi COVID-19, LPDP kemudian memberikan diskresi pula dengan memberikan perpanjangan masa pencarian LoA dan penundaan studi selama 18 bulan, ketentuan ini berlaku secara umum.
Selama masa penundaan studi tersebut, yang bersangkutan juga tidak mendapatkan dana beasiswa LPDP dalam bentuk apa pun. Penyaluran dana beasiswa baru dilakukan saat ybs memulai studi S3 nya pada tahun 2023.
Untuk hal lain seperti kegiatan studi S2 nya dalam masa izin penundaan studi tersebut belum diatur secara spesifik sehingga belum bisa dinyatakan pelanggaran.
LPDP turut berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang dengan sangat ketat mengawasi proses bisnis layanan LPDP.
LPDP tentu sangat terbuka memahami bahwa selalu ada ruang hukum yang perlu disempurnakan.
Segala kritik dan saran yang menjadi perhatian masyarakat selalu menjadi pertimbangan LPDP untuk merumuskan kebijakan-kebijakan di masa yang akan datang.
Kebijakan yang tentu lebih mendukung usaha kita bersama membangun SDM bangsa yang lebih baik.
***
JADI DIBERIKAN DISKRESI UNTUK PENUNDAAN SELAMA 6 TAHUN.
Karena jadi Stafsus.
ARAHAN PIMPINAN.
Pimpinan yang mana yang ngasih? Gak tau.
Aturan mana yang bolehin diskresi? Gak tau.
***
Oke, jadi dia dikasih diskresi selama jadi Staf Khusus Presiden RI dari 2019 sampai 2024.
Wait a minute.
Kayanya ada yang kelewat?
S2 Harvard-nya kapan???
Tahun 2020 - 2022.
WAKTU DIA JADI STAFF KHUSUS.
Jadi dia:
- Dikasih diskresi penundaan selama jadi Stafsus
- Selama jadi stafsus dia sekolah di tempat lain
- Di Harvard? Di Amerika?
- Kenapa dia gak berangkat ke UPenn aja?
???
Status dan tugasnya jadi Stafsus gimana? Dia tugas belajar? Izin belajar?
Terus pendanaan dia di Harvard gimana?
Ternyata dia dapat beasiswa TANOTO FOUNDATION SCHOLARSHIP.
Sekali lagi, saya rekap dia:
- Dikasih diskresi penundaan selama jadi Stafsus
- Selama jadi stafsus kuliah S2 di Harvard
- Pake beasiswa lain: Tanoto Foundation
Btw aturan LPDP:
"Penerima beasiswa LPDP dilarang keras menerima pendanaan lain (double funding)"
- Tapi mungkin ini oke karena dia belum mulai S3? Jadi belum mulai dibiayain LPDP?
- Ya tapi kenapa gak langsung berangkat ke UPenn aja?
- Kenapa ngasih dia diskresi, terus malah dipakai kuliah di tempat lain dengan beasiswa lain?
???
***
Oke sekarang dia lagi kuliah S3 di UPenn dong?
Kan berangkat Februari 2023? 3-6 tahun lah di Amerika?
Kan kata LPDP:
"Yang bersangkutan kemudian mulai mengajukan administrasi penerbitan Letter of Guarantee (LoG) pada Januari 2023 dan tercatat telah memulai perkuliahannya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada Februari 2023 untuk program doktor/S3."
Ohoho, tunggu dulu.
***
8 Oktober 2025
Dia diangkat jadi:
Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua oleh Presiden Prabowo.
Lah, katanya lagi di Amerika? di University of Pennsylvania?
Kok jadi pejabat?
Pakai LPDP dengan segala drama diskresinya?
Udah lulus S3-nya?
???
***
1 Februari 2026
Dia punya Yayasan "Kitong Bisa", di sana dia menjabat sebagai Dewan Penasehat.
Yayasan ini jadi salah satu SPPG, mengelola dapur MBG di Kabupaten Jayawijaya.
Dapurnya mengelola 3500 - 4000 paket MBG.
Lah, katanya lagi S3?
Kok malah mengelola MBG?
***
Lalu perhatikan Dr (Candidate) yang ada di list gelarnya.
Dia memang lagi S3 berarti?
Apakah di University of Pennsylvania?
Tidak.
Di University of Buckingham di Inggris.
Dengan biaya sendiri.
***
Yang UPenn gimana?
Katanya udah berangkat?
Aturan LPDP:
"Penerima beasiswa wajib menyelesaikan studi sesuai dengan durasi yang telah disepakati dalam kontrak"
Udah dipakai dong dana LPDP-nya?
Terus gak jadi?
???
Umur 26 itu aneh ya.
Lagi ngebut ngejar mimpi, karier, upgrade hidup, pengen cepet sukses… tapi di sela-sela itu tiba-tiba sadar:
Orang tua kita benar-benar mulai menua.
Bapak mulai bilang matanya nggak sejelas dulu kalau nyetir malam. Mama kalau duduk lama, bangunnya pelan, sambil pegang lutut. Dulu kelihatan biasa aja. Sekarang jadi terasa banget.
Aneh ya. Kita fokus lari ke depan, tapi tiba-tiba sadar orang tua kita nggak lagi di titik yang sama seperti dulu. Mereka nggak selelah kita, tapi tubuh mereka yang mulai pelan.
Presiden megalomaniak. 12 hari kami mati lampu, gak ada jaringan internet, hidup dalam ketidakpedulian negara. Di kampung saya bahkan bantuan medis Malaysia datang jauh lebih cepat dari paket sembako berisi mi instan yang dikirimkan oleh negara ini.