Ada beberapa fakta yang perlu kalian tahu soal manajemen Kopdes:
1. Manager hanya pekerja dan tidak bertanggung jawab atas keberhasilan koperasi.
2. Manager tidak bisa diminta informasi soal marketing plan atau master plan KDMP oleh rakyat (yang auto jadi anggota koperasi). Mereka hanya bertanggung jawab kepada pengurus dan Agrinas.
3. Jika koperasi gagal bayar ke HIMBARA maka desa yang harus menanggung maks 30% dana desa tanpa ada kewajiban koperasi mengganti ke desa.
4. Manager tidak bertanggung jawab jika terjadi kegagalan koperasi karena ini menjadi wilayah tanggung jawab pengurus.
5. Meskipun pengurus koperasi dibebaskan dari kewajiban mengembalikan uang ke kas desa, dampak terbesar justru dirasakan oleh warga desa karena Dana Desa akan dipotong maksimal 30% sehingga Dana DAU/DBH ikut terpotong.
6. Pembangunan infrastruktur desa (seperti perbaikan jalan desa, jembatan, atau insentif posyandu) akan terpaksa ditunda atau dikurangi pada tahun berjalan.
Ini dapet konsep kapitalis + komunis + monopolis dari mana sih😭😭
Imagine if Iran bombed the White House in Washington and killed the U.S. President and Tiffany, his 14-month-old granddaughter, what would you call it? Terrorists
The U.S. bombed Tehran, killed its head of state and Zahra, his 14-month-old granddaughter. Why do you call it peace
Ada satu yayasan yang dalam waktu kurang dari setahun mengelola 1.179 dapur MBG di 38 provinsi. Satu yayasan, tanpa batas maksimal jumlah dapur yang boleh dikelola , sementara yayasan lain dibatasi maksimal 10.
Namanya Yayasan Kemala Bhayangkari. Strukturnya melekat langsung di hampir seluruh Polda dan Polres Indonesia , 419 kepengurusan dari pusat sampai cabang. Pucuk pimpinan di setiap wilayah otomatis diisi oleh istri Kapolda atau Kapolres setempat. Bukan dipilih. Otomatis.
Hitungan ICW: dari insentif BGN saja : Rp6 juta per hari per dapur, 313 hari operasional , perputaran dananya bisa menyentuh Rp2,2 triliun per tahun. Di luar dana awal Rp500 juta per dapur dan biaya operasional.
Ketika ICW coba menelusuri profil 419 kepengurusan yayasan ini di sistem AHU Kemenkumham, sebagian besar datanya tidak bisa ditampilkan. Yayasan yang mengelola triliunan rupiah uang program pemerintah, tapi profilnya tidak bisa diakses publik.
ICW sudah surati KPK sejak 24 Februari 2026 untuk minta pengawasan. Sampai hari ini belum ada tindak lanjut yang signifikan.
Program makan bergizi gratis harusnya soal anak-anak yang perlu makan.
Tapi kalau satu yayasan yang strukturnya melekat di institusi penegak hukum bisa dapat privilege tanpa batas, kelola triliunan rupiah, dan datanya tidak bisa diakses publik , siapa yang mengawasi?
The three charts tell a remarkably consistent story, and it is one that many AI skeptics still underestimate.
The first chart shows that frontier AI remains primarily an American game from a monetization perspective. OpenAI and Anthropic are charging US$4.1-4.3 per million tokens, while leading Chinese models such as Kimi, DeepSeek, and MiMo charge only a fraction of that amount. At first glance, this looks bearish for China. In reality, it highlights a different competitive strategy. The US is maximizing profit per token, while China is maximizing adoption. One side is optimizing for margins. The other is optimizing for market share.
The second chart shows the result. China has overtaken the United States in cumulative open-model downloads. What is most striking is the timing. The crossover occurred only after Chinese models became genuinely competitive. Once performance approached frontier levels, adoption accelerated exponentially. Open-source distribution acts like a force multiplier. Every developer, startup, university, and enterprise can deploy these models without paying recurring API fees. The implication is that China may not win the AI race through proprietary models. It may win large parts of the ecosystem through open-model distribution.
The third chart provides the missing context. Despite China’s download leadership, the frontier remains firmly controlled by closed models. According to Epoch AI, open models still lag state-of-the-art closed models by roughly four months. More importantly, the gap has not disappeared. Open models are improving rapidly, but so are OpenAI, Anthropic, and Google.
Taken together, these charts suggest the market is framing the debate incorrectly. The question is not whether open models will kill closed models. The likely outcome is that both coexist.
Closed models capture the highest-value enterprise workloads, generate the largest profits, and fund the enormous capex required for frontier research. Open models drive distribution, experimentation, and ecosystem adoption.
For investors, this is bullish for the entire AI stack. The more capable open models become, the more AI applications get built. The more applications get built, the more demand emerges for GPUs, networking, memory, storage, power infrastructure, and cloud capacity. Open-source AI does not reduce infrastructure demand. It expands it.
The most important takeaway is that AI leadership is no longer a one-dimensional race. The United States still leads in frontier capability and monetization. China increasingly leads in diffusion and distribution. Both trends can be true simultaneously.
That is why the AI investment cycle continues to accelerate. Competition is no longer slowing spending. It is forcing every participant to spend even more.
What has happened at the #2026WorldCup over the last 48 hours:
• Swiss footballer Embolo's visa was put under review and he was only able to join his team days later.
• Iraqi national team player Aymen Hussein was held for questioning for nearly 7 hours upon entering the United States.
• The Iranian national team spent days dealing with visa procedures at the U.S. Consulate in Türkiye. The U.S. only allowed them entry on match days. Fifteen members of the delegation were denied visas.
• Omar Abdulkadir Artan, named CAF's Best African Referee of 2025, was denied a visa. Despite travelling to the U.S. with a diplomatic passport, he was refused entry and sent back. FIFA announced that he will not be able to officiate at the tournament.
• The South African national team arrived in the United States much later than planned because part of the delegation was not granted visas.
• Members of the Senegal national team staff were forced to remove their shoes and subjected to lengthy searches, sparking accusations of racism.
• The Uzbekistan national team was searched with bomb-sniffing dogs and the footage went viral in international media.
• Some Scottish supporters, despite being eligible to enter the U.S. visa-free under the ESTA programme, had their travel authorisations revoked just days before departure.
• Many supporters who had already bought tickets and booked accommodation had their visa applications rejected, resulting in financial losses.
🚨 BISMILLAHIR RAHMANIR RAHEEM 🔔
One Nation Media (ONM), a new global Islamic media platform, launches today with a clear mandate: to challenge dominant narratives and reassert Islam as a comprehensive framework for understanding and shaping the modern world.
Guided by its core mission — to awaken, mobilise and unite the Ummah — ONM positions itself not merely as an online news outlet, but as a driver of thought, direction and mobilisation.
Based in Johannesburg, ONM exists to advance a clear and unapologetic articulation of the Islamic worldview and its application to contemporary global realities. Its journalism moves beyond passive reporting, combining authoritative news with rigorous analysis and commentary to explain not just what is happening, but why it matters.
As a digital-first platform, ONM will produce a range of content including current affairs debate shows, in-depth video explainers, podcasts, short films, documentaries and breaking news. Its coverage will span the African continent and the wider Muslim-majority world, alongside key global flashpoints, delivering analysis with depth and clarity.
In a media environment shaped by ideological bias and the marginalisation of Islamic perspectives, ONM intervenes directly — shaping narratives, challenging falsehoods and exposing the failures of dominant political systems and ideological frameworks.
Dilly Hussain, Executive Editor of One Nation Media, said: “One Nation Media is not here to fit into the existing media landscape. It is here to challenge it. Our aim is simple: to provide clarity, confront false narratives, and equip Muslims to engage global affairs with conviction, confidence and purpose.”
More than a media outlet, ONM aims to restore a sense of direction within the Ummah, advancing Islam as a comprehensive way of life and a framework for shaping the world.
Suami saya membuat negara hemat Rp2,5T dari masukannya untuk hapus pengadaan server ujian bagi sekolah siap internet, dan ini terungkap di persidangan.
Bahkan Ahli IT menyetujui, ini adalah masukan terbaik.
Apakah ini, alasan kami dizalimi?
Apakah ada yang tidak suka, kalau Indonesia bisa berhemat triliunan rupiah?
Apakah ada yang terganggu, dengan teknologi yang lebih baik dan tepat sasaran?
Apakah ini, dosa Ibam?
Semoga Allah menunjukkan kebenaran, serta selalu melindungi kami sekeluarga.
❤️🩹 Surat Thiago Avila, dari Penjara Israel 💔
*Thiago adalah orang Brazil yang ikut rombongan Flotila. Yaitu sekelompok aktivis yang berusaha menembus blokade di Gaza dengan kapal laut. Mereka diculik tentara Israel ketika baru sampai perairan Yunani. Isi surat ini ditunjukan bagi anak perempuannya:
“Teresa tersayang,
Maafkan aku karena tidak berada di rumah bersamamu saat ini.
Sayangnya, ayahmu, ibumu, dan begitu banyak orang di seluruh dunia, memahami tugas bersejarah, bahwa kita punya tanggung jawab yang harus dijalankan.
Saat ini lebih dari satu juta anak menderita karena genosida, kelaparan hingga mati, diamputasi tanpa anestesi, dan menderita karena ide-ide mengerikan dan penuh kebencian, meskipun mereka tidak tahu apa itu Zionisme dan Imperialisme.
Aku yakin kau sangat merindukanku dan semua ibu dan ayah anak-anak Palestina juga memiliki kerinduan yang sama, dan mereka akan memberikan apa pun untuk menjalani kehidupan yang penuh cinta, kebahagiaan, dan sukacita yang pantas diterima setiap manusia, terlepas dari ras, agama, etnis, atau karakteristik lainnya.
Duniamu akan lebih aman karena banyak orang tua memutuskan untuk memberikan segalanya untuk membangun dunia yang lebih baik ini untukmu.
Kuharap suatu hari nanti kau mengerti bahwa karena aku sangat mencintaimu, tidak ada yang lebih berbahaya bagimu dan anak-anak lainnya selain hidup di dunia yang menerima genosida.
Tolong ingat ayahmu sebagai orang yang akan bernyanyi untukmu dan memainkan gitar agar kamu tertidur. Dan ketika kamu dewasa, ibumu juga akan memberitahumu bahwa ayahmu adalah seorang revolusioner dan bahwa,bahkan, ketika menghadapi orang-orang paling mengerikan yang masih hidup - Donald Trump, Benjamin Netanyahu, dan Itamar Ben-Gvir - ia tetap teguh pada keyakinannya untuk membangun dunia yang lebih baik.
Tolong jangan lupakan Palestina!
Dengan semua cintaku,
"Thiago Ávila.”
At 2 AM, Israeli drones bombed a gathering of Palestinian civilians on Al-Jalaa street of Gaza City.
The attack resulted in multiple injuries as an initial toll, with fire breaking out in displacement tents nearby.
Massacres against Palestinian civilians in Gaza are still being carried out by Israel. Just minutes ago, another massacre occurred in the Sheikh Radwan neighborhood.
The lack of news on Gaza isn’t because the genocide is over.
It’s because Israel slaughtered the journalists and Western media pretends there’s a ceasefire.
Saya tidak kenal dengan @ibamarief dan tidak punya kepentingan apa pun membela orang per orang dalam kasus ini.
Saya hanya merasa narasi Chromebook perlu dibaca lebih utuh, karena terlalu banyak orang memakai potongan fakta untuk membangun kesimpulan yang terlalu jauh.
Klaim 46% sekolah belum punya internet pada 2020 memang menunjukkan gap digital besar, tetapi menjadikan angka itu sebagai dasar untuk menolak pengadaan perangkat TIK adalah logika yang keliru.
Angka yang digunakan itu benar dalam konteks awal 2020, sementara data di tahun 2024, akses internet sekolah tercatat 77,47% untuk SD, 82,47% untuk SMP, 88,25% untuk SMA, dan 91,32% untuk SMK.
Jadi memakai angka 2020 untuk menyimpulkan pengadaan perangkat TIK sebagai korupsi adalah cara baca yang dipaksakan.
Dengan logika yang sama, komputer juga bisa ditolak masuk sekolah pada tahun 90-an hanya karena listrik belum masuk ke semua desa.
Perlu diketahui, saat itu pemerintah juga sudah membangun fondasi konektivitas melalui Palapa Ring, BAKTI Kominfo, dan rencana SATRIA-1 untuk menjangkau sekolah di daerah 3T.
Saat terjadi pandemi justru kebijakan lebih justified untuk mempercepat belanja perangkat TIK, karena sekolah mendadak dipaksa masuk ke pembelajaran jarak jauh dan asesmen berbasis komputer dalam kondisi infrastruktur belum merata.
Soal IBAM, posisinya konsultan teknologi eksternal di Tim Teknis Analisa Kebutuhan TIK SD/SMP yang berperan memberi masukan teknis dan tidak punya kewenangan mengambil keputusan final.
Kalau ada problem harga atau kelemahan sistem e-katalog, titik koreksinya ada pada desain pengadaan, pengawasan, dan akuntabilitas pejabat yang pembelian, bukan pada konsultan teknis.
Menjadikannya sebagai pusat seluruh skandal tanpa bukti aliran dana dan tanpa kewenangan anggaran adalah lompatan logika yang terlalu dipaksakan.
Bagi saya, kasus ini lebih sehat dibaca sebagai perdebatan kebijakan digital pendidikan, kualitas perencanaan, dan tata kelola pengadaan negara.
Memutar isu ini seolah setiap keputusan teknologi yang kontroversial otomatis korupsi hanya akan membuat profesional takut membantu negara, sementara masalah utama tetap tidak disentuh dengan serius.
Bismillahirrahmanirrahim.
Hari ini, izinkan saya Ririe, mewakili Ibam dan anak-anak kami, menyampaikan Surat Terbuka kepada Pemimpin tertinggi negeri, Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto.
Dengan segala kerendahan hati, kami memohon perlindungan hukum dari ketidakadilan yang kami hadapi. Agar kebenaran tidak dikalahkan oleh hal-hal di luar fakta persidangan. Agar keadilan benar-benar ditegakkan sebagaimana mestinya.
Kami percaya, negara tidak boleh membiarkan warganya merasa sendirian dalam menghadapi ketidakadilan.
Semoga surat ini sampai dan diterima dengan baik oleh Bapak Presiden. Demi keadilan berdiri setegak-tegaknya di negeri ini. Demi hilangnya rasa takut dari mereka-mereka yang dengan jujur dan tulus hendak membantu negara dengan keahlian mereka.
Terima kasih, Bapak Presiden @prabowo 🙏🏻
Sudah tuntutan gagal paham soal saham, kami ngga punya uang sebesar yang dituduhkan, masih saja kami dituntut 15 tahun penjara dan bayar Rp 16,9M.
Kalau ngga bayar, total hukuman jadi 22,5 tahun!
Ini kacau. Kami benar-benar dipermainkan.
Tolong, bantu kami. Bebaskan Ibam.