Ini aku, ibu yg selalu dipeluk anak-anak ku. Bahkan saat aku kerja selalu ku ikut sertakan.
Kini harus berjauhan, melihat anak-anak begitu tabah membuatku senang sekaligus sedih.
Senang karena anak-anak sudah mengerti. Sedih karena aku kini tak lagi dirasa berarti
Hari pertama yang dihitung. Kuatkan aku ya allah masih 43 hari lagi. Kuatkan aku, gembirakan hatiku. Mohon jaga anak-anak dan suamiku, kuatkan mereka, gembirakan mereka.
Lindungi kami, pertemukan kami lagi agar kami bisa saling menyayangi dan menjaga
Bandung!
Nih aku dateng lagi dengan cerita berbeda. Tetep jadi baik yah kaya dulu.
Ini rasanya sama persis, bengong sambil nangis.
Kirim orang-orang baik yah buat aku kaya dulu. Boleh ya
Ada air yang belum waktunya untuk jatuh menetes tapi dipaksa jatuh oleh guncangan padahal beratnya belum sempurna.
Semoga hari kedepan selalu menyenangkan.
Semoga langkah menjadi lebih baik
Di usia yg masih muda. Aku tau kamu bahkan tidak pernah membayangkan perjalanannyanya akan begini.
Kamu yang dulu ditimang dengan penuh sayang dan kasih kini dibanting oleh keadaan. Kamu yang dulu pernah ditanya "apa cita-citanya?" Kini pasrah bahkan tak ingat soal itu.
Lalu aku melihat, makhluk kecil di sampingku.
Nak, ibu mana yang tega melihat anaknya terpukul ketidakadilan dunia?.
Ibunya pun begitu. Tapi apa daya, keadaan memang selalu memaksa. Ia tidak pernah memberi ruang untuk kita memilih.