Hey Chumbi Gang! 💚
📣 It's finally here!! Whitelisting for our highly anticipated Seed Chumbi #NFT Sale starts today!
🎁 ENTER HERE: https://t.co/OLGYOxln49
👇 Which pod you will buy & which Chumbi do you want to hatch!?
#Whitelist#NFTwhitelist#NFTGame#play2earn
Tidak dipanggil ke squad Piala Dunia, Dean Huijsen liburan ke Bali. 🏝️🇮🇩
Dean Huijsen lahir di Amsterdam Belanda, sempat memperkuat timnas junior Belanda, tapi akhirnya memutuskan bela timnas senior Spanyol. Sayangnya ia tidak dipanggil De La Fuente ke Pildun 2026
Jay Idzes
Gue udh ngikutin timnas dari SD, sejak AFF 2010, sea games 2011 zaman-zamannya Andik Vermansyah trs Titus Bonai terus AFF U19 (Evan Dimas) trs U16 ada Rendy Juliansyah. Pemain yg menurut gue dedikasinya buat Timnas ga main-main. Kayak attitude, skill sama personality-
Atlet panjat tebing Indonesia, Putra Tri Ramadani, mencetak sejarah dengan meraih medali emas nomor lead pada ajang World Climbing Series Praha 2026.
Tampil sebagai pemanjat keenam, Putra berhasil mencapai titik 43. Raihan tersebut tidak mampu dilewati oleh dua atlet Jepang yang tampil setelahnya, sehingga memastikan dirinya keluar sebagai juara.
Prestasi ini semakin melengkapi dominasi Indonesia di dunia panjat tebing, yang selama ini lebih dikenal berkat kekuatannya di nomor speed.
🎥 World Climbing
#PutraTriRamadani #WorldClimbingSeries
✅ RESMI!
Shin Tae-yong kembali ke sepak bola Indonesia. 🇮🇩🇰🇷
Mantan pelatih Timnas Indonesia itu resmi diperkenalkan sebagai pelatih baru Persija Jakarta untuk menyambut musim 2026/27.
Era baru dimulai di Macan Kemayoran.
Begini Loh Kalau Belain Suami, Elegan Sekali😌😌~
Baru-baru ini ramai perbincangan soal Pak Dino Patijalal yang disenggol oleh pihak si ono...🫣
Tak lama kemudian, sang istri mengunggah sebuah video yang menceritakan perjalanan hidup dan karir suaminya.
Bukan dengan emosi berlebihan atau saling sindir, tapi dengan cara yang sangat elegan. Video tersebut menampilkan perjalanan Pak Dino dari awal hingga sekarang, penuh perjuangan, dedikasi, dan prestasi. Narasinya tenang, sopan, nan elegan.
Video ini langsung menuai banyak pujian karena:
- Ini jadi sweet gesture dari sang istri
- Sebenarnya ini video CV Pak Dino yang biasa diputar sebelum memulai acara seminar. Karena kalau CV nya dibacakan, peserta akan ngantuk.
- Menunjukkan kekuatan seorang istri yang berdiri di belakang suaminya dengan penuh kelas.
- Membuktikan bahwa bela-membela bisa dilakukan dengan cara yang bermartabat.
- Memberi perspektif yang lebih lengkap tentang sosok Pak Dino, yang selama ini mungkin hanya dilihat dari satu sisi.
lah satu laga Timnas Indonesia (kelompok umur) paling memorable.
Drama ✅
Pesta Gol ✅
Hujan Kartu ✅
Ribut-Ribut ✅
Indonesia menang & dapat Gold Medals pertama dalam 3 dekade, lawan nya? Thailand‼️
GILA INI MATCH! 🥹
🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Timnas Indonesia mulai identik dengan penguasaan bola di era John Herdman. 🇮🇩📊
Dalam tiga pertandingan pertamanya, Indonesia selalu unggul dalam ball possession.
🇮🇩 Indonesia vs Saint Kitts & Nevis 🇰🇳
70% penguasaan bola
🇮🇩 Indonesia vs Bulgaria 🇧🇬
71% penguasaan bola
🇮🇩 Indonesia vs Oman 🇴🇲
57% penguasaan bola
Rata-rata penguasaan bola Indonesia dalam tiga laga pertama era John Herdman mencapai 66%, Dominan.
📝@lapangbolastats
Akhirnya 38 Tahun Menunggu, Garuda Terbang Tinggi! Indonesia Bantai Oman 3-0 di FIFA Match Day GBK
Ada malam-malam yang hanya menghasilkan tiga poin. Ada pula malam yang melahirkan sejarah. Di bawah gemuruh puluhan ribu suporter yang memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Timnas Indonesia akhirnya memutus penantian panjang selama 38 tahun dengan menaklukkan Oman 3-0 dalam laga FIFA Matchday, Jumat (5/6/2026).
Malam itu, Garuda tidak sekadar menang. Mereka merobek kutukan yang selama hampir empat dekade membayangi setiap pertemuan dengan Oman. Sejarah yang begitu lama terkunci akhirnya terbuka, dan Indonesia menuliskan babak baru dengan tinta kemenangan yang begitu indah.
Sejak peluit pertama berbunyi, skuad asuhan John Herdman tampil penuh keberanian. Mereka bermain tanpa rasa takut menghadapi tim yang berada jauh di atas Indonesia dalam ranking FIFA. Setiap serangan dibangun dengan keyakinan, setiap duel dijalani dengan semangat yang membuat Gelora Bung Karno berguncang oleh sorak-sorai.
Gol pertama lahir melalui Justin Hubner. Bek yang selama ini dikenal karena ketangguhannya di lini belakang justru menjadi pembuka jalan kemenangan. Saat bola bersarang ke gawang Oman, tribun GBK meledak dalam euforia. Seolah seluruh beban sejarah yang dipikul selama puluhan tahun mulai runtuh satu per satu.
Namun Garuda belum berhenti.
Ole Romeny kemudian menambah luka bagi Oman. Penyerang yang terus menjadi andalan lini depan Indonesia menunjukkan ketajamannya di depan gawang. Gol tersebut membuat kepercayaan diri Merah Putih semakin membumbung tinggi dan membuat ribuan suporter mulai percaya bahwa malam ini memang berbeda.
Ketika Oman berusaha bangkit, Indonesia justru memberikan pukulan terakhir. Ragnar Oratmangoen menutup pesta dengan gol ketiga yang membuat GBK berubah menjadi lautan kegembiraan. Skor 3-0 terpampang di papan stadion, dan sejarah akhirnya resmi berubah arah.
Kemenangan ini terasa begitu istimewa karena Indonesia terakhir kali mengalahkan Oman pada era King's Cup 1988. Sejak saat itu, Garuda harus melewati berbagai generasi pemain, pelatih, dan cerita pahit sebelum akhirnya kembali merasakan manisnya kemenangan atas tim asal Timur Tengah tersebut.
Beberapa jam sebelum pertandingan, John Herdman sempat menyebut laga ini sebagai tantangan besar bagi timnya.
Kini tantangan itu telah dijawab dengan cara yang paling sempurna.
Bukan dengan kemenangan tipis. Bukan dengan keberuntungan. Tetapi dengan performa yang dominan dan skor telak 3-0.
Malam ini bukan hanya tentang Justin Hubner, Ole Romeny, atau Ragnar Oratmangoen. Malam ini adalah tentang jutaan pendukung yang menunggu terlalu lama untuk melihat Indonesia mengalahkan Oman kembali.
Dan setelah 38 tahun, Garuda akhirnya kembali terbang lebih tinggi dari bayang-bayang masa lalu.
Profil Mathew Baker, Bocah 17 Tahun yang Menangis untuk Indonesia setelah Debut FIFA Match Day!
Ada satu pemandangan yang mungkin lebih menyentuh daripada kemenangan 3-0 Timnas Indonesia atas Oman di Gelora Bung Karno. Bukan gol Justin Hubner. Bukan selebrasi Ole Romeny. Bukan pula ketajaman Ragnar Oratmangoen.
Melainkan air mata seorang remaja 17 tahun bernama Mathew Baker saat lagu "Tanah Airku" berkumandang setelah pertandingan usai.
Bagi sebagian orang, Mathew Baker mungkin masih nama asing. Ada yang bertanya siapa dia. Ada yang meragukan mengapa pemain seusianya mendapat kesempatan membela Timnas senior. Bahkan tak sedikit yang langsung menghakimi sebelum benar-benar mengenalnya.
Padahal, seperti kata pepatah lama, tak kenal maka tak sayang.
Malam melawan Oman menjadi momen yang tak akan pernah dilupakan Baker. Pada menit ke-79, saat Indonesia sudah unggul 3-0, John Herdman memberikan kepercayaan kepada bek muda tersebut untuk menjalani debut bersama Timnas Indonesia senior. Dalam usia 17 tahun, Baker resmi memulai babak baru dalam kariernya bersama Garuda.
Siapa Sebenarnya Mathew Baker?
Mathew Ryan Baker lahir di Melbourne, Australia, pada 13 Mei 2009. Ia memiliki darah Indonesia dari sang ibu dan Australia dari ayahnya.
Meski lahir dan tumbuh di Negeri Kanguru, Baker memilih membela Indonesia di level internasional. Pilihan itu bukan keputusan yang mudah.
Pada 2024, Baker sempat mendapat panggilan dari Australia U-17. Namun ia memilih menolak kesempatan tersebut dan tetap melanjutkan perjalanannya bersama Timnas Indonesia. Keputusan yang kini membuat banyak pendukung Garuda tersenyum bangga.
Dididik di Sistem Melbourne City
Perjalanan sepak bolanya dimulai dari akademi Malvern City sebelum berlanjut ke Box Hill United. Bakatnya kemudian menarik perhatian Melbourne City, salah satu klub terbaik Australia yang berada dalam jaringan City Football Group. Ia bergabung dengan akademi Melbourne City pada 2021 dan terus berkembang hingga menandatangani kontrak profesional bersama klub tersebut.
Baker dikenal sebagai pemain bertahan modern. Posisi utamanya adalah bek kiri, tetapi ia juga mampu bermain sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan. Fleksibilitas inilah yang membuatnya menjadi salah satu prospek paling menarik yang dimiliki Indonesia saat ini.
Dari Garuda Muda Menuju Garuda Senior
Sebelum tampil bersama tim senior, Baker lebih dahulu menjadi bagian penting Timnas Indonesia U-16 dan U-17. Ia membantu Indonesia lolos ke Piala Dunia U-17 dan bahkan mencetak gol penting saat kualifikasi. Di berbagai kelompok umur, namanya selalu masuk dalam daftar pemain yang paling menonjol.
Perkembangannya begitu cepat hingga John Herdman memutuskan membawanya ke FIFA Matchday Juni 2026. Keputusan yang sempat mengejutkan banyak pihak, termasuk Melbourne City sendiri yang mengaku bangga melihat pemain berusia 17 tahun itu langsung naik ke Timnas senior.
Jangan Terburu-buru Menghakimi
Sepak bola Indonesia sering kali memiliki satu kebiasaan buruk, terlalu cepat memuji dan terlalu cepat menghujat.
Hari ini seorang pemain dielu-elukan. Besok ketika melakukan satu kesalahan, ia bisa menjadi sasaran kritik tanpa henti.
Karena itu, kisah Mathew Baker seharusnya menjadi pengingat. Sebelum menilai, kenali dulu. Sebelum mengkritik, pahami dulu perjalanan yang telah ditempuhnya.
Anak ini baru berusia 17 tahun. Ia meninggalkan zona nyamannya di Australia, memilih Indonesia ketika memiliki pilihan lain, bekerja keras di akademi Melbourne City, menembus Timnas kelompok umur, lalu akhirnya menjalani debut senior di hadapan puluhan ribu penonton GBK.
Dan ketika "Tanah Airku" berkumandang, ia menangis.
Tangisan itu mungkin menjawab semua pertanyaan yang selama ini muncul.
Karena ada pemain yang membela Indonesia karena kesempatan.
Namun ada juga pemain yang membela Indonesia karena cinta.
Malam itu, Mathew Baker menunjukkan bahwa ia termasuk yang kedua.
Izin tag yah abang2 @FaktaSepakbola@idextratime@unmagnetism
#TimnasDay #TimnasIndonesia
📸 @kompascom
Herdmann menunjuk Kevin Diks sebagai mentor Matthew Baker untuk membantu proses adaptasi di Timnas Indonesia.
Respons Diks
"Jadi ya, soal Matthew, saya pikir dia anak muda yang baik dengan banyak potensi. Saya bisa melihat sejak hari pertama apa yang dilihat pelatih padanya. Banyak potensi, sangat muda,Saya berbicara dengannya beberapa kali tapi saya tidak ingin memberinya terlalu banyak tekanan. Sejujurnya, dia punya banyak waktu" pungkasnya via Detiksport.
Laga melawan Oman tadi malam sekaligus menjadi laga ke-50 Rizky Ridho bersama Timnas!
Sejak era “potong generasi”, banyak pemain-pemain muda potensial Indonesia saat itu yang langsung “melompat” ke tim Senior, dan mereka mampu membuktikannya. Sehingga saat memasuki usia puncak pesepakbola, mereka uda punya segudang pengalaman!
Rizky Ridho (24 thn) > 50 caps
Pratama Arhan (24 thn) > 54 caps
Asnawi Mangkualam (26 thn) > 50 caps
Marselino F (21 thn) > 40 caps
Elkan Baggot (23 thn) > 26 caps
Yang disesali Fans Indonesia: Pemecatan Shin Tae Yong di tengah kualifikasi
Yang lebih disesali: Penunjukan Patrick Kluivert yang reputasinya butut!
Yang agak menenangkan: Progress & Effort Coach John Herdman 🗣🤟👌👏🫵👈👇
Joey Pelupessy dan Ivar Jenner sukses memainkan perannya sebagai jangkar di lini tengah Timnas tadi malam!
Selain performa Emil dan para pencetak gol, kontribusi Joey & Ivar juga sangat terasa dalam memotong aliran serangan lawan dan mengatur distribusi bola!
Pola permainan makin terlihat, chemistry antargenerasi juga terus berkembang. Fondasinya sudah ada, sekarang tugas federasi adalah menjaga arah yang sama dan tidak membuat keputusan yang mengganggu progres yang sedang dibangun.
Garuda sedang terbang tinggi, jangan sampai kehilangan angin karena kesalahan sendiri. 🇮🇩🦅