@tribunnews Namanya orang kecewa dan marah karena dikhianati,,, ya begitu sudah. Mau disalahkan atau dibenarkan, argumentasi kalian gak ada yg masuk. Bagi mereka yang turut berjuang hingga berdarah2 lebih gampang memahami mereka yg kecewa dan marah
Perubahan pemikiran Kartini terekam dalam surat-suratnya, menunjukkan pergulatan pikiran seorang perempuan muda Jawa pada 1900-an.
Berikut ini beberapa kutipan dari surat-suratnya yang menunjukkan hal tersebut.
Awalnya, Kartini yang terkungkung hidup dalam pingitan, mendambakan kehidupan seperti masyarakat Eropa.
"Aku rindu akan pengetahuan, akan kebebasan; aku sangat ingin menjadi mandiri, tidak lagi harus bergantung pada orang lain... Eropa, oh! Eropa yang agung dan mulia! Seluruh hatiku tertarik pada dunia yang jauh itu, di mana orang bernapas dengan bebas, di mana orang memiliki hak atas kehendak sendiri."
Ia membandingkannya dengan kehidupannya sebagai seorang perempuan Jawa yang banyak dibatasi aturan.
Kartini juga merasa gelisah dan tidak puas dengan pengajaran agama yang diterimanya, yang bersifat indoktrinasi dan tidak memberikan ruang berpikir.
Pada saat itu Al-Qur'an hanya ditulis dalam bahasa Arab, pemerintah kolonial melarang penerjemahan Al-Qur'an karena khawatir melahirkan perlawanan. Sedangkan kebanyakan ulama juga melarangnya karena khawatir terjadi perubahan/penyempitan makna ketika Al-Qur'an diterjemahkan.
"Adalah kegilaan, memaksa seorang anak mempelajari sesuatu yang tidak ia pahami maknanya. Di sini kami diajar membaca Al-Qur'an, tapi kami tidak mengerti satu kata pun darinya. Aku pikir sama sekali tidak perlu menjadi orang religius untuk menjadi manusia yang baik. Bukankah begitu, Stella?"
Kartini kecewa, sampai suatu ketika ia menghadiri pengajian di rumah pamannya, bupati Demak. Di situ ia mendengarkan ceramah dari Kiai Sholeh Darat yang menjelaskan tafsir surat Al-Fatihah.
Kiai Sholeh Darat adalah guru dari Kiai Hasyim Asy'ari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).
Kartini merasa amat tertarik, baru kali ini ia diajari makna Al-Qur'an. Ia pun memberanikan diri bertanya kepada Kiai Sholeh Darat, "Kiai, bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?" Pertanyaan Kartini tersebut menyentil para ulama yang melarang penerjemahan Al-Qur'an.
Kiai Sholeh tersentak, ia pun kemudian mulai menyusun kitab tafsir Al-Qur'an yang ditulis dalam bahasa Jawa menggunakan aksara Arab (Pegon), untuk menyiasati larangan dari pemerintah kolonial. Kabarnya, kitab tersebut kemudian ia berikan kepada Kartini sebagai hadiah pernikahannya.
Setelah interaksi tersebut pemikiran Kartini menjadi lebih matang dan kaya.
"Dari kegelapan menuju cahaya! Itulah yang kami inginkan bagi bangsa kami... Kami percaya bahwa Tuhan ada di mana-mana, dan bahwa Dia bersemayam di setiap hati. Kami ingin melayani-Nya dengan cara mencintai sesama manusia."
Dalam bahasa aslinya tertulis door duisternis tot licht / through darkness to light / dari kegelapan menuju cahaya. Frasa ini diduga dipengaruhi tafsir Al-Qur'an yang ia dapatkan dari Kiai Sholeh Darat, minazh zhulumati ilan nur. Yang kemudian diterjemahkan ke bahasa Melayu dengan gaya puitis menjadi 'Habis Gelap Terbitlah Terang'.
Kartini juga tidak lagi menganggap sempurna peradaban Eropa, dan mulai menghargai akarnya sendiri. Dunia tidak lagi hitam-putih baginya.
"Sudah lewat masanya, semula kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, masyarakat ideal yang tiada bandingnya. Maafkanlah kami. Apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal-hal yang gemilang dan indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban?
Kami tidak ingin menjadi orang setengah Eropa, kami tidak ingin menjadi orang Jawa ke-Eropa-eropaan; melalui pendidikan modern, kami ingin terutama mengembangkan hal-hal terbaik yang ada dalam karakter orang Jawa sendiri."
Membaca surat-surat Kartini adalah menelusuri transformasi pemikiran seorang perempuan muda Jawa pada 1900-an. Sebuah pemikiran yang melampaui zamannya.
Selamat Hari Kartini, selamat merayakan pemikiran, bukan pakaian.
Pelayanan Pemerintah Iran Selama Perang
Selain menaikkan gaji, menggratiskan angkutan umum, memberi bantuan beras; ternyata pemerintah Iran telah membayar biaya penginapan warga yang rumah mereka hancur dibom AS-Israel. Warga menginap gratis di hotel-hotel sambil menunggu untuk kembali ke rumah.
BreakThrough News @BTnewsroom mengunjungi salah satu hotel bintang empat di pusat kota Teheran yang menampung puluhan keluarga pengungsi perang. Pemerintah kota Teheran tidak hanya membayar makanan dan penginapan di hotel-hotel ini, tetapi juga berjanji untuk membantu pembangunan kembali rumah-rumah mereka.
Hotel-hotel tersebut juga menyediakan acara budaya dan hiburan malam hari bagi keluarga-keluarga tersebut untuk mengatasi dampak emosional perang.
Apa yang sedang terjadi?
Setelah mengancam keras, akhirnya 90 menit sebelum "janji" untuk menyerang Iran habis-habisan, Trump menyatakan membatalkan serangan & bersedia merundingkan 10 proposal Iran.
Fase ini menunjukkan bahwa periode sebelum ini adalah kuat-kuatan mental, saling mengacungkan pelatuk. Trump berharap Iran yang melepas pistol, lalu angkat tangan.
Yang terjadi, mata Iran tidak berkedip sedikit pun, dan mulutnya terus mengeluarkan pernyataan tak akan pernah mundur, dan pasukannya terus membombardir aset AS di kawasan. Rakyatnya, bahkan membuat barikade di situs-situs yang diancam akan dibom oleh Trump.
Akhirnya, Trump-lah yang menaruh senjata duluan. "OK, kita ngobrol, lo maunya apa, gua dengerin."
Nah, kini, Iran dalam posisi memaksakan 10 poin keinginannya. Padahal, awalnya, Trump yang mendesakkan 15 poin proposal, menuntut Iran menerima.
Jadi, saat ini belum tahap gencatan senjata, tapi jeda untuk membicarakan 10 poin dari Iran tsb.
Buat Trump, ini bisa dipakai untuk mengklaim kemenangan. Ia bisa menghentikan perang tanpa menyatakan kekalahan.
Buat Iran, semua sekarang tahu, bahwa dengan keteguhan, kemandirian, kesabaran, perlawanan (resistensi), bahkan negara dengan kekuatan militer ranking 1 sedunia pun bisa dihadapi.
Berikut ini 10 poin tuntutan Iran:
(sumber: @presstv)
🔹 Tidak melakukan agresi
🔹 Melanjutkan kendali Iran atas Selat Hormuz
🔹 Menerima pengayaan uranium
🔹 Mencabut semua sanksi utama
🔹 Mencabut semua sanksi sekunder
🔹 Mengakhiri semua resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran
🔹 Mengakhiri semua resolusi Dewan Gubernur IAEA terkait Iran
🔹 Pembayaran kompensasi kepada Iran
🔹 Penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut
🔹 Penghentian perang di semua front, termasuk melawan Perlawanan Islam Lebanon yang heroik.
Apakah Trump akan memenuhi 10 poin ini, atau lanjut perang? Belum bisa dipastikan saat ini. Tapi Iran sudah menyatakan, "Tangan kami tetap di pelatuk."
@korgmars@SoftWarNews aahhh... template itu deskripsinya. dari peristiwa Libya, Irak, Suriah dll begitu aja narasinya... faktanya bagaimana??? "tanyakan pada rumput yang bergoyang", karena kita sulit dapat jawabnya dari media2 besar di Indonesia
@kompascom sejak reformasi bergulir sudah banyak yang bisa nya geram dan teriak2, termasuk mereka yang sok reformis dengan tujuan cari aman. Jika pejabat negara cuma kayak gitu, sama dengan nasib sial bagi rakyat
@detikcom@detikjatim_ era nya sekarang harus menggunakan pendekatan komunikasi kepada masyarakat. tidak cukup komunikasi hanya di lakukan pada level stakeholder
Green New Residence dan Villa Kencana yang seharusnya jadi bukti keberpihakan negara, kini hanya jadi monumen bisu. Warga mampu bisa renovasi, tapi yang berpenghasilan rendah hanya bisa pasrah menunggu rumahnya rusak sendiri.
Foto: Pradita Utama/detikfoto
#detikcom#detikfoto
@WisnuApr@muhnasi92947743@DrEvaChaniago lah ini lagi... gak paham konteks orang demo, situasi yang melatarbelakangi kerusuhan, dan memandang masalah negara cuma dari satu sudut pandang
@muhnasi92947743@DrEvaChaniago ngomong opo to mas? komentarmu sama dengan kosong, artinya sampeyan kurang wawasan karena kurang belajar. baca dulu sejarah mahasiswa dan kaum terpelajar di indonesia agar meningkat kapasitas otak anda