Tiga aktivis Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan mendatangi rapat Panitia Kerja (panja) DPR RI yang dilaksanakan di Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Pusat pada Sabtu (15/3/2025).
Mereka menerobos rapat yang sedang berlangsung dan memprotes pembahasan revisi undang-undang (RUU) TNI. “Kami menuntut agar proses pembahasan revisi UU TNI dihentikan, karena tidak sesuai dengan proses legislasi” teriak salah satu aktivis, Andrie Yunus.
Para anggota koalisi masyarakat sipil langsung didorong keluar ruangan rapat oleh petugas sampai ada yang terjatuh. Mereka mencoba masuk kembali, namun dihalangi oleh petugas.
Di tengah sorotan publik terhadap revisi undang-undang TNI, pemerintah dan DPR malah menggelar rapat untuk percepatan pembahasan RUU TNI di hotel mewah berbintang 5 pada Jumat-Sabtu, 14-15 Maret 2025.
Padahal sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir menegaskan RUU TNI tidak akan disahkan sebelum masa reses Lebaran 2025. Ia bilang pengesahan RUU TNI baru bisa dilakukan paling cepat pada masa persidangan berikutnya.
| Narasi Daily
Pak, besok mau jago lurah tidak? Kalau mau saya bisa kasih dukungan, tapi saya Ndak suka sama murai bapak, lebih bagus kutilang, baiknya murai bapak jual saja ganti kutilang.
Tapi ini bukan tentang bird
𝙆𝙊𝙉𝘿��𝙎𝙄 𝙈𝙐𝙎𝙀𝙐𝙈 𝙋𝘼𝙎𝘾𝘼 𝙍𝙐𝙎𝙐𝙃 Minggu, 4 Juni 2023.
Yang merusak ini bukan anak² Jogja ya... tapi para pendekar Drop²an yang masuk Jogja dan Akhirnya Tak Berkutik dikepung Warga Karena membuat Kericuhan.
Kepada Yth :
Kapolda @PoldaJogja & Kapolres @ResKulonprogo
.
.
1. Sebagai bagian dari masyarakat yang majemuk, tentu sy mendukung upaya² utk menjaga suasana tentram, toleran dan kondusif dlm masyarakat, tak peduli apa agama dan keyakinan mereka.
2. Namun demikian, mohon perkenan berhentilah basa - basi ini dan itu, "mak ini mak itu", "yahana yahanu", untuk dan atas nama kekondusifan wilayah, tapi yang tampak justru kekondusifan artificial.
Istilah "Kekondusifan artificial" saya pilih, mungkin lebih nyaman dibaca daripada sy menyatakan KEKONDUSIFAN PALSU atau KEKONDUSIFAN YANG PURA - PURA.
3. Saya & masyarakat yg waras pasti membutuhkan polisi yg profesional, humanis, prediktif, memiliki responsibilitas yg tinggi & disiplin menjalankan kaidah² transparansi berkeadilan di wilayah terapan. BUKAN POLISI YANG PURA - PURA PRESISI.
4. Sebagai pengingat kita semua, berikut ini jejak intoleransi di Yogyakarta ;