JANGAN PERCAYA PETA DI DINDING SEKOLAH KALIAN.
Gue terjebak di tahun 2026 versi lain. Di sini, Proklamasi 1945 gagal total. Jawa terbagi jadi 5 zona militer: Padjajaran, Banten, Mataram, Majapahit, dan Batavia.Foto-foto ini gue rekonstruksi pakai AI berdasarkan apa yang gue liat di jalanan Kalau video ini lewat di beranda lo, tolong komen. Di dunia lo, Indonesia masih ada kan?
dimatikan. Hening.
"Besok," kata Soekarno pelan, "kau akan duduk satu meja dengan mereka."
Baru aja aku mau tanya gimana caranya ke sana, tiba-tiba ada ketukan pintu. Tiga kali. Tegas.
Penjemputku sudah datang.
Kenapa aku?" tanyaku.
"Karena kau bukti," jawab Soekarno. "Kau berasal dari dunia di mana Jawa tidak terpecah. Bagi mereka, kau adalah anomali yang bisa jadi senjata atau ancaman."
Aku merinding liat TV. Di duniaku, tokoh-tokoh ini punya nasib beda. Ada yang jadi politisi, ada yang jadi ulama, ada yang jadi aktivis. Di sini? Mereka raja-raja kecil yang siap saling bunuh.
Ternyata aku bukan cuma nyasar. Kehadiranku—sebagai orang dari "Indonesia"—dianggap anomali yang bisa memicu atau menghentikan perang besar ini.
Aku dipanggil ke meja perundingan para raja.
Malam itu kami bicara layaknya orang gila. "Ceritakan," pinta Soekarno. "Bagaimana di duniamu mereka bisa menyatukan ribuan pulau?" Aku menarik napas. Ini kuliah Geopolitik paling aneh seumur hidupku. Aku cerita soal Sumpah Pemuda & Proklamasi 45.
Aku buka isinya. Surat singkat, dingin, tapi isinya bikin darahku berhenti mengalir.
Tertulis: "Kehadiran Anda Wajib. Dunia sedang menuju perang. Dan Anda adalah variabel yang tidak kami perhitungkan."