@pln_123 ini di daerah Lembang kota dekat alun-alun emang lagi ada pemadaman apa gimana? Mati dari jam 1an sampai sekarang udah mau setengah 6 masih belum nyala, sanyo juga jadi gak nyala krn listriknya mati, mau pergi keluar dari tadi sampai ketunda krn mau mandi gak ada air
Sampai aku omong-omongin terus ke fiancéku kalau dia harus nonton juga nanti, tapi gak tau sih bakal suka atau enggak karena animasinya pun dia gak tau dan gak ngikutin haha. Baca reviewnya jadi pengen nonton lagi.
Bulan lalu nonton ini dengan "tidak sengaja" karena lagi di Jambi dan gabut, liat film yang lagi tayang ada HTTYD ini. Seingatku sih dulu sempat nonton versi animasinya yang pertama (karena gak ngikutin triloginya) tapi pas nonton berasa asing lagi sama jalan ceritanya.
Dan ketika Disney kelewat sibuk sendiri mikirin gimana menyulap animasi-animasi populer mereka menjadi sajian live-action yang beda dengan segala kontroversi yang ujung-ujungnya malah lebih banyak dihujat ketimbang dipuja, Dreamworks dengan santainya melakukan copy paste buat proyek versi “manusia” dari How to Train Your Dragon mereka, ya, hasilnya? Meledak!
Ya, saya tau apa yang dilakukan mereka ini emang terkesan “malas”, tapi seperti kata pepatah, “Don’t fix what's not broken”, DreamWorks ngerti banget soal itu. Mereka nggak maksa buat ngutak-atik cerita yang udah nyatu banget di hati jutaan penonton versi animasinya, mereka nggak ujug-ujug ngasih plot twist baru, dan mereka nggak menjejali layar dengan pesan-pesan moral yang terasa kayak brosur kampanye. Sebaliknya, mereka tau kita cinta sama Toothless. Maka, viola! Toothless versi super realistis yang masih tetep menggemaskan dengan dukungan CGI canggih, mahal dan meyakinkan, membuat terbang bersama si Night Fury jadi jauh lebih spektakuler!Hiccup? Lebih canggung, lebih manusia (tentu saja!). Cerita? Sama persis! Bahkan mereka masih mempercayakan kepada Dean DeBlois, sutradara yang sama, termasuk kembali meng-casting Gerard Butler sebagai Stoick.
Hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana “kemalasan kreatif” ini justru melahirkan film yang terasa segar. Bukan karena sesuatu yang baru, tapi karena kejujuran dan kesederhanaannya. Film ini nggak merasa perlu membuktikan apa-apa. Ia tahu kekuatannya ada pada hubungan: antara anak dan ayah, manusia dan naga yang selama ini disalah artikan, sampai kisah pemimpin dan yang belum siap jadi pemimpin.
Tentu saja, dengan cerita yang sama udah bisa dipastikan bakal ada beberapa bagian yang mungkin terasa seperti deja vu — apalagi buat fans garis keras trilogi animasinya. Tapi rasa familiar ini ibarat mendengar lagu favoritmu yang dibawakan dalam versi baru yang lebih grande. Kamu tahu nadanya, kamu hafal liriknya, tapi kamu tetap bakal terhanyut karena ada rasa baru yang tumbuh dari aransemen yang berasa lebih intim dan manusiawi.
Dan lucunya, tanpa embel-embel marketing bombastis atau kontroversi sosial media yang dibuat-buat, film ini justru sukses… dengan cara klasik: word of mouth. Penonton yang puas, anak-anak yang terpukau, orang tua yang terharu, dan fans lama yang keluar bioskop dengan mata berkaca-kaca sambil bilang, “Mereka nggak ngerusakin animasi favorit kita. Mereka malah ngingetin kita kenapa dulu kita jatuh cinta sama cerita ini dalam versi yang lebih manusiawi.”
4/5
Selama nonton benar-benar tersihir sama filmnya apalagi anggapalah aku clueless, cuma ingat beberapa karakter utamanya aja. Beres nonton berkaca-kaca, bagus bangetttt. 🥺