Yang menarik dari klaim "Al-Qur'an mengandung mukjizat ilmiah" bukan hanya kemiripannya dengan sains modern, melainkan kapan kemiripan itu biasanya ditemukan.
Penemuan ilmiah muncul terlebih dahulu. Setelah itu ayat dicari, kata ditafsirkan ulang, metafora disesuaikan, lalu diumumkan: "Ternyata sudah ada 1.400 tahun lalu." (nyocot/nyocoklogi, istilah gaulnya 🤡)
Kalau pengetahuan ilmiah memang terkandung di dalam ayat, mengapa manusia harus menemukan sainsnya terlebih dahulu sebelum mengetahui apa yang dimaksud ayat tersebut?
Ini bukan prediksi.
Ini retrofitting yang diberi nama mukjizat.
🤡🤡🤡
Ini renungan. Bukan ttg sonhoregnya, tapi bgaimana sorang pemimpin daerah yg berdasar aspirasi masy bisa kalah dg sekelompok aspirasi yg lebih kecil; shg kepentingan lebih byk org tersungkur.
Ini renungan. Kita menuntut pemrentah Berubah, tapi kita malas melakukan Perubahan.
Ini renungan. Bukan ttg sonhoregnya, tapi bgaimana sorang pemimpin daerah yg berdasar aspirasi masy bisa kalah dg sekelompok aspirasi yg lebih kecil; shg kepentingan lebih byk org tersungkur.
Ini renungan. Kita menuntut pemrentah Berubah, tapi kita malas melakukan Perubahan.
@masealf Memang secara tujuan dari MBG tuh bagus. Penyelenggaranya?
Kebijakan publik dinilai dari outcomes dan opportunity cost in general, bukan dari “di sekolah anak saya aman kok” atau “saya ga perlu repot masakin anak saya pas siang”. Bukan tentang segelintir orang yang hidup di kota.
@I_deenn Bayangkan ibu-ibu kerja narik ojol, mungkin dari pagi, jelas dia mendukung MBG, karena anaknya makan siang dapat makan di sekolah. Dia ga perlu repot masakin anak pas siang, pulang sekolah kenyang, dan dia bisa tetep narik ojol.
nah ini bukan counter, malah makin memperjelas kalau lu ga paham business model pengembangan migasnya dan mengonfirmasi poin gue dari awal wkwk.
reserve ≠ cash ≠ welfare. di tengahnya masih ada project economics, CAPEX, development risk, production, infrastructure, market/offtake, financing, fiscal terms, government take, sampai governance.
global policy dan akses financing? tentu bisa jadi constraint. tapi constraint itu cuma salah satu variabel dalam business model, bukan bukti bahwa Afrika sengaja dibuat miskin.
dan sekarang lu bilang “asumsinya good governance”.
lah, kalau klaim “100% dikuasai sendiri = kaya” baru bekerja setelah governance, modal, project economics, infrastructure, dan market lu asumsi beres, ya ownership dari awal memang bukan sufficient condition.
lagian foreign investment ≠ foreign ownership atas SDA. negara bisa tetap sovereign sambil pakai IOC/foreign capital buat share risk, CAPEX, teknologi, dan execution, lalu capture resource rent lewat fiscal terms.
ga usah jauh-jauh. Indonesia pernah oil boom, anggota OPEC, dan oil revenue pernah jadi bagian sangat besar penerimaan negara. apakah otomatis jadi high-income petrostate? ya engga.
bukan berarti oil boom-nya ga bermanfaat—jelas berkontribusi ke pembangunan. justru itu nunjukkin kalau resource abundance + national control ga otomatis translate jadi welfare. governance, institutional capacity, rent allocation, dan productive investment itu justru bagian dari causal chain-nya, bukan variabel yang bisa lu buang dengan “diasumsikan baik”.
Afrika sendiri juga punya NOC dan state participation.
jadi kalau ga paham business model resource development ya gapapa sih. internal variable-nya lu asumsi beres, external constraint-nya lu tarik jadi penjelasan utama, terus ujungnya dibikin causal story geopolitik seolah Afrika sengaja dibuat miskin wkwk.
constraint exists ≠ dominant cause ≠ evidence of motive.
lmao, ini lucu sih.
misleadingnya salah dari A sampe Z, jadi gw harus benerin kalo ga pemahaman awam bakal ngaco sengaco-ngaconya.
jadi gw jelasin secukupnya biar gamblang kenapa argumen itu misleading dari awal sampai akhir.
pertama, 625 Tcf itu bukan 625 Tm³.
data OPEC untuk proved natural gas reserves Afrika ada di kisaran ~637 Tcf atau sekitar 18 Tm³.
jadi dari unit awal aja sudah beda sekitar 35x.
bahkan kalau kita pura-pura terima angka 625 Tm³ tadi, lalu dibagi konsumsi 15 m³/household/bulan selama 25 tahun, hasilnya bukan 138 juta rumah tangga.
hasilnya sekitar 138 miliar.
error 1000x.
ini belum ngomong substansi, kalkulatornya aja udah berantakan wkwk.
masalah berikutnya lebih fundamental:
proved reserve dianggap sebagai gas yang siap dipakai di ujung kompor.
proved reserve itu commercially recoverable subsurface stock under defined economic, operating, and regulatory conditions.
dari reservoir sampai jadi gas yang benar-benar bisa digunakan masyarakat masih ada production profile, well deliverability, gathering, processing, transmission, distribution, infrastructure, CAPEX, market, dan seterusnya.
jadi:
reserve ≠ production ≠ deliverable energy ≠ household consumption.
punya 1 miliar barrel oil reserve juga bukan berarti ada 1 miliar barrel bensin nongkrong di SPBU.
lalu cadangan gas seluruh Afrika dibandingkan dengan kemiskinan seluruh Afrika.
Afrika itu bukan satu negara, bukan satu fiscal system, bukan satu pipeline network, dan jelas bukan satu reservoir wkwk.
cadangan gas terkonsentrasi di negara dan basin tertentu, sementara indikator kemiskinan diagregasi satu benua.
lu gabung dua variabel di level agregat lalu dibuat seakan mempunyai hubungan langsung.
ini jatuhnya aggregation fallacy / level-of-analysis problem.
kemudian lompat lagi:
resource abundance + poverty = dijajah secara ekonomi.
nah, punya SDA besar tapi masyarakat tetap miskin memang fenomena nyata.
di sini justru pembahasannya bisa menarik:
resource curse, rent seeking, unequal bargaining power, colonial legacy, corruption, institutional capacity, fiscal regime, conflict, infrastructure, sampai distribusi resource rent.
tapi semua itu adalah variabel yang harus dianalisis, bukan dilewati.
terutama satu yang sangat penting:
integritas dan kapasitas pemerintahnya sendiri.
di antara reservoir dan kesejahteraan masyarakat ada production, revenue, government take, tax/royalty, kontrak, licensing, NOC/SOE, infrastructure spending, sampai redistribusi revenue.
jadi bahkan kalau SDA-nya “100% dikuasai sendiri”, pertanyaannya masih panjang:
revenue-nya masuk ke mana?
berapa yang benar-benar masuk kas negara?
berapa yang balik jadi energy access, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur?
berapa yang hilang lewat corruption, patronage, rent seeking, atau mismanagement?
makanya:
state ownership ≠ good governance
resource sovereignty ≠ efficient management
resource revenue ≠ public welfare
subsurface-nya bisa kaya, surface governance-nya belum tentu wkwk.
secara sederhana chain-nya itu:
resource → production → revenue → government take → public investment → welfare
dan di setiap arrow itu ada variabel, constraint, serta potensi leakage sendiri.
jadi dari observasi:
“punya resource besar tapi masih miskin”
langsung disimpulkan:
“berarti sengaja dijajah secara ekonomi”
itu bukan causal inference.
lu bahkan belum mengidentifikasi mechanism, confounders, alternative explanations, ataupun counterfactual-nya.
kalau mau bilang A menyebabkan B, ya bangun causal chain-nya.
bukan A dan B kebetulan nongkrong di gambar yang sama terus langsung bikin kesimpulan geopolitik wkwk.
terakhir, environmental constraint lalu ditarik menjadi:
“mereka menggunakan isu lingkungan supaya Afrika tetap miskin.”
ini lebih jauh lagi.
emisi energy-related CO₂ Afrika sendiri <3% dari total global.
justru karena itu energy access vs decarbonization di Afrika merupakan legitimate policy debate.
mau mengkritik climate finance, financing restrictions, development space negara berkembang, fairness dalam energy transition, atau pembatasan fossil development?
silakan.
itu semua argumen yang bisa dibangun dan memang layak diperdebatkan.
tapi:
environmental constraint exists → therefore its purpose is to keep Africa poor
itu proposisi lain sama sekali.
lu butuh evidence tentang motif dan mekanismenya.
otherwise itu bukan analisis, itu mind-reading geopolitik wkwk.
jadi misleading ladder-nya kira-kira:
wrong unit → wrong arithmetic → reserve/deliverability confusion → aggregation problem → governance variables dihilangkan → unsupported causal claim → unsupported motive attribution.
kalau mau mengkritik colonial legacy, foreign exploitation, ketimpangan resource rent, atau climate policy yang tidak adil, silakan.
itu semua topik valid dan literaturnya panjang.
tapi bangun causal inference-nya dulu.
jangan input awalnya salah, matematika salah, konsep energinya salah, terus conclusion-nya sudah sampai geopolitik.
capek gw ngetik gini, sumpah.
Secara ga langsung, biar tetap benua satu ini terus miskin (ie. dijajah secara ekonomi).
Jika dijadikan SDA full kontrol mandiri, dah kaya raya mereka, tapi ga boleh.. Alasan ga berkelanjutan, belum lagi pakai isu lingkungan 🤪
pernah bahas ini di bbrp kampus pas jaman covid, kalo diterusin era skrg menarik kah gw bahas di sini?
sebenarnya topik ini bakalan sepi sih ya wkwkwkwk.
@entalpih Karena sering dibandingin lah. Banyak bgt narasi "kami umat kristen/ liat tuh orang Kristen, agamanya dibercandain ga marah emang si paling mayoritas itu gampang kesulut"
ekonomi islam di indonesia hmm emg iya kah indonesia menerapkan ekonomi islam yaa tau nya sih hanya industri keuangan lalu halal haram yaa itupun juga hanya soal sertifikasi yaa ini jatuh nya bingung sih yaa semacam tercampur aja ekonomi negara konvensional islam dll 😵🤑😇
Ini sih yg dulu bikin ngerasa percuma pelajari lebih dalam soalnya setiap kali ada kontradiksi atau ajaran yg ga relevan dengan jaman skrg jatohnya lempar2an bola panas lol. Kayak lu pick a side anjir, lu mutlak apa bisa disesuaikan nih?
Karena meyakini firman Allah itu bagian dari keimanan seorang muslim. Konsep berpikir antara orang yg memiliki keimanan terhadap Al-Qur'an dengan yg tidak punya iman jelas sangat berbeda. Saya tidak aneh dgn cara pandang kamu, karena pada dasarnya kamu memang tidak mengimani.
Keliru. Islam bersinggungan dengan kritik sudah sejak awal kemunculannya. Islam yg dibawa para nabi tidak turun di ruang kosong tapi langsung bersinggungan dengan peradaban² besar manusia. Islam long standing dengan prinsip² "wahyu tuhan yang sempurna" sampai saat ini artinya klaim lu ga punya dasar empirical eviden.
Yang menarik dari Islam bukan hanya klaim bahwa Al-Qur'an adalah firman Tuhan, melainkan betapa cepatnya klaim itu berubah menjadi kekebalan terhadap kritik.
Teks dianggap sempurna karena berasal dari Tuhan; lalu ketika ada kontradiksi, kekerasan, atau persoalan moral, manusialah yang disuruh memperbaiki cara membacanya.
Sebuah klaim yang selalu menang karena aturan permainannya dibuat sendiri.
🤡🤡🤡
Bahasa bisa jadi alat framing yang paling kejam ketika kita meninggalkan empati di laci meja.
Kata yang sama bisa berubah makna sepenuhnya, tergantung dari sudut mana kita memilih untuk melihat.
Setiap orang punya bahasanya sendiri dalam memandang dunia.
Dan empati itu yang bikin kita bisa nyambung, meski cara pandang kita beda.
@_maulanaas Ini hanya berlaku buat yang memperhatikan detail dan hati-hati menggunakan bahasa. Masih banyak yang menyepelekan ini dengan dalih, 'yang penting pada paham'. Padahal pelan-pelan ada value yang bergeser.
Inilah alasannya aku menilai orang dari cara dia mengetik tulisan. wkwkwk
Bahasa ini sebenarnya menguntungkan siapa sih?
Ketika seseorang disebut “tegas” sementara orang lain disebut “agresif”, kita bukan cuma sedang memilih sinonim. Kita sedang memberi nilai moral pada perilaku yang mungkin sebenarnya mirip.
Ketika seseorang disebut “tidak disiplin” sementara kondisi kerjanya tidak pernah dibicarakan, kita sedang menggeser fokus dari struktur ke individu.
Jadi, belajar bahasa setidaknya membuat kita semakin sadar bahwa memilih kata berarti memilih cara melihat dunia.