Dan aku hanya butuh menunduk, memandang diri yang tak ada artinya ini. Lalu tengadah ke angkasa yang alangkah luas dan mampu menampung banyak doa-doa. Tuhan, segalanya telah kupasrahkan.
Sungguh, tak bisa kita meminta lahir dari rahim siapa. Tak bisa kita memilih takdir. Bawalah cahayamu sendiri, melewati remang jalanan, melewati hidup yang penuh teka-teki ini.
Gempur takdir sialan itu🫵���
Akhirnya kini kukumpulkan lagi perasaanku, yang terpencar dan pupus, yang terbakar dan hangus, yang ambyar dan mampus, menjadi perasaan lain yang lebih teduh dan tabah dari kemarin.
Barangkali saat ini, Tuhan sedang ingin melihat seberapa keras kamu berjuang dan seberapa besar sabarmu dalam menghadapinya.
Maka, sabarlah dengan sabar yang baik.