Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
A man spends 50 years teaching at MIT.
He knows his time is running out.
So he records one last lecture — everything he knows, distilled into a single hour.
He died 5 months later.
This is that lecture.
The most important hour you'll watch this week. 👇
Bookmark it for later
Elu tau Lembaga Eijkman kan? Itu lembaga riset biologi molekuler di Jakarta.
Dari zaman Belanda, Christiaan Eijkman nemuin penyebab penyakit beri-beri (Kekurangan Vitamin B1) di lembaga ini, yang bikin dia bisa dapet hadiah Nobel loh.
Lembaga ini survive melewati masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, sampai garda terdepan pas pandemi COVID-19.
Tapi, usianya yang udah lebih dari seabad harus tamat di era modern cuma gara-gara sentralisasi politik birokrasi.
Saat BRIN dibentuk, Eijkman dilebur. Ratusan tenaga riset dan asisten peneliti yang nggak berstatus PNS diberhentikan dan budaya riset independen mereka hancur lebur disuruh ngikutin alur birokrasi kaku ala aparatur negara.
Pas 2022 namanya resmi dilucuti dari "Lembaga Biologi Molekuler Eijkman" dan diturunkan statusnya sekadar jadi PRBM Eijkman (Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman) di bawah payung besar BRIN.
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
Anggota DPR yang punya ijazah
SMA — 63 orang
D3 — 3 orang
S1 — 115 orang
S2 — 119 orang
S3 — 29 orang
NO IJAZAH — 211 orang
kenapa yang nggak ada ijazahnya bisa duduk di DPR, ikut bikin undang undang lagi
cc data: BPS/KPU 2024
Senang sekali membaca twit-twit seperti ini di masa semua-semua AI.
Nggak semua hal yang lebih cepat, lebih mudah, dan lebih praktis itu lebih baik kok.
Semangat untuk teman-teman mahasiswa yang masih mau belajar menulis dengan baik.
BAD NEWS FROM INDONESIA
Pantai Kartika, Konawe, Sultra
Pernah menjadi salah satu destinasi yang dikenal karena air lautnya yang jernih, laguna yang tenang, serta panorama tebing karst yang memukau
Namun kini semuanya berubah drastis. Perbukitan tak hijau lagi, bentang alami berubah, air laut juga tak jernih lagi akibat aktivitas pertambangan. Tak terlihat sedikitpun kalo pantai ini dulunya sangat indah
Poin pertama saja sudah sangat problematik. Belum lagi poin2 selanjutnya.
Orang ini nggak paham soal bahwa narasi biaya pribadi presiden itu justru menabrak prinsip tata kelola negara.
Klaim bahwa kelebihan biaya ditanggung oleh dana pribadi presiden itu secara etika birokrasi dan hukum tata negara adalah hal yg sangat problematis.
Ini blurs the line. Dalam administrasi publik modern, harus ada batas yang mutlak antara kekayaan pribadi pejabat (private wealth) dan operasional negara (public fund).
Saat presiden memakai duit pribadi untuk urusan kedinasan, hal ini justru merusak standarisasi penganggaran dan akuntabilitas.
Lalu bagaimana biaya2 dicatatkan dalam LKPP?
Apakah ini dikategorikan sebagai hibah pribadi kepada negara?
Jika iya, apakah sudah melalui prosedur penerimaan hibah yang sah agar tidak menimbulkan conflict of interest di kemudian hari?
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
Luarbiasa cara Tempo mengingatkan Presiden Prabowo. Yaitu dengan menerbitkan edisi khusus ayahanda Presiden, Sumitro Djojohadikusumo. Enam desk dikerahkan untuk memberi gambaran lengkap sosok Begawan Ekonomi ini. Lantas membandingkannya dengan kebijakan-kebijakan anaknya.. 🫡
Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2-3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua.(?) apa gak heran orang-orang dari sana?
pun perbuatan ini bener bener mencoreng nama baik pendidikan Indonesia loh, pendidikan kita (khususnya kedokteran) udah dipandang sebelah mata, ditambah ada pemalsuan kelas dunia begini apa ga amsyong
Apa yang dialami Cinta Laura ini pasti pernah kita alami. Gemes-gemesnya pun sama. Dan ya makasih Cinta udah speak up (bahkan hidden mention maskapai yg dimaksud).
Salah satu perempuan terkaya di Indonesia lewat jalur merusak hutan di sumatera. Total kekayaan mencapai 27 TRILIUN, itu yang tercatat saja yang tidak tercatat mungkin bisa 10 kali lipat.
Keren sekali 🥰
Orang-orang ini kenapa sih gampang bener mundur?
Di suatu negara ada Dirut Perusahaan Listrik.
Bikin mati listrik satu pulau.
Mundur? Ngapain?
Bikin mati listrik satu pulau lagi tahun depannya.
Istrinya sakit pinggang. 2 tahun.
dia beliin kasur baru. Rp 2 juta
Niatnya baik. Biar dia tidur nyenyak. Biar sembuh.
Gak sembuh.
Bantal ortopedi. Rp 1juta
Gak sembuh.
Kursi ergonomis. Rp 1 juta
Gak sembuh.
Sampai fisioterapis tanya satu pertanyaan:
"Ibu mandiin anaknya di mana?"