Saya ngurus pernikahan.
Tahun lalu dipersulit oleh orang-orang kelurahan. Saya udah bilang calon saya WNA, tapi tetap ngotot minta surat pengantar RT/RW segala macam.
Ya udah, akhirnya mutusin nikah agama aja.
Desember saya urus lagi. Minta sidang isbat aja, kata orang KUA ribet segala macam. Disuruh ulang nikah lagi.
Oke, saya dan suami udah bersedia.
Dan tetap di kelurahan diminta surat pengantar RT/RW, KK, dan KTP suami. Padahal udah dibilang suami WNA, persyaratannya dari embassy, tapi nggak diterima.
Lalu akhirnya saya lupain aja. Ini udah jalan 1 tahun dan suami ngotot minta saya ngurus surat pernikahan.
Akhirnya kemarin saat suami di Indo 2 bulan, saya minta sidang isbat lagi.
Dan jawaban orang pengadilan agamanya minta saksi, wali untuk datang.
Saya sudah bilang, ayah saya nggak bisa terbang ke Jakarta, tapi tetap nggak bisa.
Saya minta sidang isbat ke daerah ayah saya, katanya nggak bisa karena KTP saya Jakarta.
Pokoknya ribetlah. Putus asa banget.
Setelah suami nanya-nanya di negaranya, ternyata nggak seribet urusan di sini.
Makanya kita mutusin ngurusin surat nikahnya di negara suami aja.
Lalu saya urus-urus surat-surat saya di sini. Mulai dari kelurahan sampai KUA, Kemenkum dan Kemenlu, dan embassy negara suami.
Tapi ini udah 3 minggu masih aja nggak beres.
Kenapa? Karena bertele-tele.
Ke kelurahan: nyerahin surat, minta duit. Lalu suratnya salah (kesalahan orang kelurahan), minta duit lagi.
Minta tanda tangan Bu Lurah: nunggu sampai 3 hari, minta duit.
Mereka bilangnya sih ada tarifnya, minta tanda tangan.
Oke, karena saya butuh, saya bayar.
Lalu ke KUA: salah 3x, tapi untungnya nggak minta duit.
Upload data di Kemenkum: minta spesimen tanda tangan pejabatnya, karena pejabat KUA dan kelurahan daerah saya belum terdaftar.
Balik lagi ke kelurahan dan KUA.
Ngasih surat ke kelurahan dan KUA, tinggal ngisi nama, jabatan, NIP, dan tanda tangan.
Bapak KUA ngisi sendiri, dengan banyak keluhan dan minta uang rokok.
Saya kasih 100 ribu.
Ibu Lurah tercinta, udah 2 hari nggak masuk. Katanya sakit.
Lalu tadi pagi saya dipanggil ke kantor buat ngisi-ngisi formulirnya (padahal anak magang di kelurahan banyak, pegawainya nyantai).
Ya udah, saya isi, toh saya nggak ada kerjaan juga.
Dan gong-nya saat ngasih surat, minta 300 ribu dong.
Ya Salam.
Bener-bener deh. Lelah banget saya.
Emang bener, kalau bisa dipersulit, kenapa dipermudah? 😭
Menurut kalian, pernah nggak mengalami urusan administrasi yang bertele-tele sampai bikin mau menyerah?