Perempuan memang banyak berkorban.
Tapi laki-laki juga gak sedang santai.
Bedanya,
perempuan sering lelah dalam diam.
Laki-laki sering tertekan tanpa cerita.
Pernikahan bukan soal siapa paling menderita.
Tapi siapa paling siap saling jaga.
Karena rumah tangga bukan tempat adu pengorbanan.
Tapi tempat dua orang dewasa sama-sama sadar,
kalau yang dipertaruhkan bukan ego,
melainkan masa depan.
Nikah taruhannya nasib.
Buat perempuan, itu soal keamanan hidup.
Buat laki-laki, itu soal tanggung jawab seumur hidup.
Melahirkan taruhannya nyawa.
Dan di saat yang sama, laki-laki diuji:
mampu gak jadi sandaran saat dia sedang di titik paling rapuh?
Mengasuh anak taruhannya mental.
Ibu berjuang dengan fisik dan perasaan.
Ayah berjuang dengan tekanan finansial dan beban jadi penopang utama.