@txtdrkuliner Krn gabut siang ini, jd mampir ke Papayaa
Yeayy, finally.. Dapat juga lu!
Ehh tp naik donk hargany seribu π€π€£π€£
.
Buru2 duduk di Taman Literasi utk nyoba. Gigitan pertama ehmm nicee. Tp lama2 kok terasa bgt manisny
Ngerasa sial krn beli rasa yg sm 2, yawessslaaa. Worth it to try
Tadi w ke ruangan dosen, jujur di awal salfok banget sama wangi kopinya dan alat2 perkopiannya ((tuh kan malah salting sama kopi-kopian)) terus malah kangen sama alat2 dan kopi-kopi ku yg ahhh udahlah π π’π
Udah lama gak ng-drakor yg baru2.. sekali nonton drakor baru langsung #KimBujang#AgentKimReactivated duhhh terpesona bgt sama persahabatan ke-3 ahjussi ini β¨π
Jadilah aku pesan cold drip sore, normal pricenya 25k tapi karena hamba selalu pakai tumbler jadinya 22k aja.. orderanku masuk payment tapi aku belum scan karena aku pakai qris
nah, teryata yg aku order kosong n mereka minta aku ganti, aku pikir gak apaapa lah ya toh belum byr
Ke Tuku mana pun aku pergi knpa mereka ramah2 bgt yaaa, even di block M yg suangggatttt ruameee itu pun mereka masih senyum. And that's why aku bilang kadang bukan hanya kopinya yg enak membuat kangen tuku, tapi orang-orangnya yg super friendly itupun menjadi alasan kembali~
Jadi sejak aku tau aku mengalami aslam, aku jadi ngopi black kopi terus. Jadi ke tuku udh gak order kopsus tetangga tapi si cold drip pagi/ soree.
.
Kalau cold drip aku pasti pesan kalau butuh asupan kopi yang strong, namun kemarin siang aku butuh kopi tapi yg segar2 aja.
Cerita tuku hari ini.. ((09 Jun 2026))
Their taste is so amazing but their people is so nicee!!~
.
Kadang yg buat kangen bukan hanya kopi susu tetangga nya tapi juga kakak2 waiters-nya yg super ramah!!~
.
Tapi kejadian kemarin cukup buat aku bingung π€£π
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini β digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Dini hari ini, temanku Andrie Yunus disiram air keras ketika sedang mengendarai motor. Dia mengalami luka yang cukup parah.
Andrie adalah pemberani yang terus melawan kejahatan HAM, militerisme dan ketidakadilan. Dia tidak pernah bisa dibungkam.
Mengerikan sekali negara ini.