Semua orang ingin didengar.
Sedikit yang ingin memahami.
Haluan Nalar hadir sebagai ruang untuk mempertanyakan, merenungkan, dan mencari arah di tengah arus informasi yang semakin cepat.
Lebih lengkap tentang kami:
https://t.co/wErKmxB4IT
#HaluanNalar#PusatPeneranganNalar
Rezim menyewa dan memelihara mereka untuk menegakkan ketertiban sosial versi pemerintah, hingga menjadi "tangan pemukul" informal untuk menggebuk, mengintimidasi, dan membungkam para pengkritik rezim, aktivis, serta buruh demi melanggengkan kekuasaan.
Di buku "Politik Jatah Preman" fenomena ini diidentifikasi sebagai Subkontraktor Kekerasan Negara (State-Subcontracted Coercion), dimana kelompok preman dan organisasi pemuda difungsikan sebagai subkontraktor kekerasan resmi oleh negara ketika masa Orde Baru.
@unicefess PSA buat warga UNNES 🎓✨
Mau kasih ucapan wisuda tapi budget aman?
Papan ucapan akrilik — ONLY 50K 🤍
Bisa buat bestie, pasangan, teman, atau keluarga yang wisuda.
📍 Khusus area UNNES
📲 https://t.co/lQOPcXg2ON
IG: https://t.co/2ZvAxJZ8uu
Brengsek.
Kami 100% sangat tidak berterima uang pajak kami digunakan untuk membiayai pelatihan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang modelannya seperti ini.
Mengapa rokok dan miras diperbolehkan untuk dihisap dan ditenggak bebas di lingkungan barak pelatihan??
Dan pula saat masih berseragam lengkap?? Koperasi, kampung nelayan, dan SPPG model apa yang manajer atau kepalanya orang-orang seperti ini?? Jijik!
Ini juga merupakan bentuk "reframing" atau mengubah "bingkai persoalan". Dari isu "harga pangan" menjadi isu "sikap masyarakat". Ketika bingkai berubah, arah perdebatan publik pun ikut berubah, dan konflik horizontal pun terpelihara.
Keluhan masyarakat itu harga beras, bukan cara menanam beras. Menjawab "kalau mahal, tanam sendiri" itu memborong false dilemma, oversimplification, dan red herring, seolah pilihannya hanya menerima harga atau menjadi petani, padahal persoalan harga pangan jauh lebih kompleks.
Prabowo:
"Yang mengatakan beras terlalu mahal, suruh ikut kau tanam beras.
Kalau petani beras enggak boleh dapat penghasilan yang tinggi, ya suruh mereka tanam padi sendiri itu"
Di komunikasi politik, pola respons seperti ini sering dipakai sebagai kontra narasi ala pemerintah, menggeser fokus dari persoalan struktural ke tanggung jawab individu. Efeknya, perdebatan berpindah dari "mengapa harga naik?" menjadi "apa yang seharusnya dilakukan masyarakat?".