berita bahwa jurnalis veteran Shireen Abu Akleh ditembak dan dibunuh pagi ini dalam serangan oleh pasukan Israel di kota Jenin di Tepi Barat. Dia mengenakan jaket dengan jelas menandai dia sebagai pers pada saat itu.
#ShireenAbuAkleh#IsraeliTerrorists
COUNTDOWN AL-QUDS🔻
01 Hari Menuju Al-Quds Internasional 2025
“Ini adalah Hari Al-Quds, yang dimanifestasikan untuk memperbarui perjanjian dan kehormatan. Ini adalah hari janji dan kenangan yang menggerakkan semua orang yang terhormat.
Peran IBU di Gaza; kuat, teguh & tetap tangguh
Ini bukan sekedar kekuatan, ini sakral!
Perlawanan yg dibungkus dgn hijab & darah
IBU ini tdk menangis or teriak, karena ia tahu bahwa anak²nya tidak butuh tangisan tapi butuh kekuatan masa depan tuk jadi PEJUANG
TERIMAKASIH IBU
Mendiang Paus Francis,
"Saya memikirkan Gaza, dengan begitu banyak rasa sakit. Tingkat kekejamannya. Anak-anak ditembak dengan senapan mesin.
Pengeboman sekolah dan rumah sakit. Betapa kejamnya! Kemarin, anak-anak dibom! Anak-anak! Ini kekejaman! Bukan perang! Saya katakan ini kepada anda, ini menghancurkan hati saya."
Pendeta Munther Isaac @MuntherIsaac menulis:
Hari ini, rakyat Palestina—dan khususnya umat Kristen Palestina—telah kehilangan seorang sahabat yang sangat berharga. Paus Fransiskus sangat dicintai di Palestina. Ia menyampaikan rasa kasih sejati kepada rakyat Palestina, terutama kepada mereka yang berada di Gaza selama genosida ini berlangsung.
Hati pastoralnya tampak jelas dalam kegigihannya untuk terus menelepon komunitas Kristen yang terkepung di Gaza, bahkan saat ia sedang dirawat di rumah sakit.
Beberapa tahun lalu (2014), Paus Fransiskus mengunjungi Betlehem. Kita semua ingat gambar ikonik saat beliau berdoa di tembok pemisah. Tentang peristiwa itu, saya menuliskan dalam buku saya The Other Side of the Wall:
"Ketika Paus Fransiskus berhenti, menyentuh tembok itu, dan berdoa, itu adalah momen monumental yang mengguncang berita dunia. Paus Fransiskus tak bisa mengabaikan keburukan struktur beton ini yang berdiri di jantung kota Betlehem. Tembok ini seharusnya membuat kita semua merasa tidak nyaman. Dan atas ketidaknyamanan ini, Sang Paus menanggapi dengan cara yang tak terelakkan—ia merespons dan merentangkan tangannya. Dengan bertindak demikian, ia tidak hanya menyentuh tembok itu, tapi juga menyentuh keburukan penjajahan dan perang. Ia menyentuh kedalaman penderitaan kami. Dengan kerendahan hati dan kelemahan, ia menatap ketidakadilan itu secara langsung—dan menantangnya.
Apa yang ia ucapkan dalam doanya? Sebenarnya, saya tidak ingin tahu. Ada kata-kata yang lebih baik dibiarkan tidak terucap. Gambar dirinya yang berdiri di samping tembok itu dan berdoa akan selamanya terpatri dalam ingatan kita. Bagi saya, gambar itu ada di mana-mana—di dinding kantor saya, di halaman Facebook saya, di wallpaper desktop saya. Bagi kami umat Kristen Palestina, gambar itu tersimpan dalam memori yang paling dalam. Dan ketika suatu hari nanti tembok ini runtuh (bukan "jika", tetapi "ketika"), kita mungkin akan kembali mengenang momen dan doa ini sebagai salah satu titik penting yang mengarah pada keruntuhannya.
Pada akhirnya, Paus meninggalkan kami, dan penjajahan serta tembok itu tetap ada. Tapi, kami ditinggalkan dengan harapan yang diperbarui—mengetahui bahwa kami tidak dilupakan. Kami diberi mandat untuk terus meratapi situasi saat ini, melawan ketidakadilan... dan berdoa."
(The Other Side of the Wall, hlm. 182–183)
Hari ini, Paus meninggalkan dunia ini, dan penjajahan serta tembok itu masih tetap berdiri. Bahkan lebih buruk lagi, beliau pergi di tengah genosida yang masih terus berlangsung. Pada bulan November lalu, ia pernah menulis:
"Saya terutama memikirkan mereka yang meninggalkan Gaza di tengah kelaparan yang melanda saudara dan saudari Palestina mereka, karena sulitnya mendapatkan makanan dan bantuan ke wilayah tersebut... Menurut beberapa pakar, apa yang terjadi di Gaza memiliki ciri-ciri genosida. Hal ini harus diselidiki secara hati-hati untuk menentukan apakah sesuai dengan definisi teknis yang dirumuskan oleh para ahli hukum dan badan internasional."
Hari ini saya bertanya-tanya: Akankah jutaan orang yang akan berduka atas wafatnya dalam beberapa hari ke depan menghormati harapannya ini? Akankah mereka peduli terhadap rakyat Gaza dan Palestina sebagaimana beliau peduli?
Semoga jiwanya beristirahat dalam kemuliaan bersama Sang Juru Selamat. Hari ini, umat manusia kehilangan jiwa yang istimewa.
Briking Nyuuuus...
Pesawat nirawak MQ-9 Amerika ditembak jatuh pasukan sandal jepit Yaman.
Pesawat gosong ini yg ke-21.
Bravo Pasukan Sarung
😍
Teriakannya ;
Allooohu Akbar
Mampus Amerika
Mampus Israel
Pemandangan ini bukan sekadar gambar; ini adalah kisah pilu yang terukir di antara darah dan air mata. Ini adalah potret ketahanan seorang ibu di tengah kehancuran, simbol abadi dari cinta dan pengorbanan yang terus menyala meski kegelapan merajalela.
Foto ini berteriak: LAWAN!
Yaman mengirim hadiah ke Israel
Kebakaran Pembangkit Listrik Rotenberg di Ashkelon, Israel
Kebakaran di Pembangkit Listrik Rotenberg di Ashkelon Israel akibat serang Yaman.
Bravo #Yemen 👍👍👍