Di gereja, aku selalu dicari jemaat untuk dengerin curahan hati mereka. Mulai dari masalah berat sampai hal-hal sepeleh yang cuma bisa diketawain. Tapi herannya, sama orang terdekat malah "hadirku" seperti benda asing.
Setelah jadi pendeta, makin malam, makin menyala matakuuuu...
Padahal kerja berat juga ngga, walaupun tiap hari ada aja yang dikerjakan.
Mikir berat juga ngga, walaupun tiap hari ada aja notif chat yang diawali dengan "BU PEND/NOPEN".
Nikah juga belum.
Makin kesini, udah makin minim iri dan cemburu sama prestasi atau situasi orang lain. Walaupun masih ada dikit-dikit tapi emang presentasenya dikit bangeettt.
Malah kayaknya sekarang makin sering memberi pujian dan apresiasi.
Apakah ini bisa disebut tanda-tanda kedewasaan?
Baru bisa memaknai perkataan seorang pendeta di masa praktek mahasiswa 7 tahun lalu setelah sekarang diri sendiri jadi pendeta.
Kira-kira begini perkataannya:
Akhir-akhir ini bawaannya pengen tidur tanpa batas waktu. Tapi apa daya. Kalau ngga dibangunin alarm karna ada jadwal pelayanan, ya dibangunin mentor yang nelpon karena ada pelayanan mendadak.
"Jangan sakit, jangan sakit, jangan sakit. Harus sehat, harus sehat, harus sehat" adalah mantra yang sering kuucapkan seminggu belakangan ini. Begadang tiap hari selama seminggu, kegiatan padat setiap hari, otak mikir keras sekalipun hari libur. Tapi masih berani minta sehat.
Baru kali ini ngerasa syok tapi tidak bisa berekspresi. Ngga ada rasa sedih, ngga ada rasa kecewa, ngga ada rasa sakit. Entah memang dibuat begini oleh-Nya seperti yang selalu kudoakan, atau memang belum waktunya aja. Semoga karena opsi 1 yaa.
Tiba-tiba kepikiran setiap orang yang datang di hidup kita tetapi kemudian memilih pergi karena satu dan lain hal, masing-masing memang dihadirkan Tuhan untuk mengukir sejarahnya.
Seharian beraktivitas bisa haha hihi ketemu orang-orang. Malamnya mau tidur selalu sendu. Ternyata ekspresi yang paling jujur itu saat malam hari, sebelum tidur, saat berbicara dengan diri sendiri.
Beberapa orang yang seperti ini memang kelihatan hidupnya sangat diberkati. Selalu tampil sukacita, terlihat energik dan obrolannya ngga jauh-jauh dari kesaksian iman.
Vibesnya positif. Kita yang berinteraksi sama mereka juga jadi penuh damai sejahtera.
Kadang kepikiran "kok ada orang yang tetap mau pelayanan, ngikuti kegiatan gereja, padahal pulang kerja aja udah malam."
Tapi, setelah dipikir-pikir, emang beda sih gaya hidup manusia yang selalu memprioritaskan Tuhan. Secapek apapun, kalau untuk Tuhan pasti selalu ada waktu.