Ketakutan Barat dan para sekutunya terhadap melemahnya rupiah.
Melihat layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang belakangan ini kerap dihiasi warna merah, mayoritas analis finansial konvensional akan langsung menyodorkan rumus yang sama: inflasi global, kebijakan suku bunga The Fed, atau sentimen pasar yang sedang memburuk.
Namun, benarkah dinamika ini murni urusan angka-angka matematis ekonomi? Ataukah ada riak geopolitik yang lebih besar di bawah permukaannya?
Jika kita mau melihat lebih jeli, warna merah pada IHSG saat ini bukanlah tanda kelemahan ekonomi domestik kita. Sebaliknya, itu adalah "ongkos" yang harus dibayar ketika sebuah bangsa memutuskan untuk berhenti mendiktekan nasibnya pada kemauan global.
Ini adalah respons dari ketakutan Amerika Serikat dan sekutu baratnya terhadap pelemahan rupiah serta arah politik ekonomi Presiden Prabowo Subianto yang ingin membawa Indonesia berdiri di atas kaki sendiri (berdikari) sebuah langkah berani yang mengingatkan kita pada era Presiden Soeharto.
Menghidupkan Kembali 'Hantu' Nasionalisme Soeharto
Sejarah mencatat bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia sempat mencapai puncak kepercayaan diri ekonominya.
Lewat swasembada pangan dan pembangunan industri strategis nasional, Indonesia membuktikan bahwa negara berkembang tidak harus selalu menjadi "pelayan" bagi kepentingan industri negara-negara maju.
Hari ini, spirit yang sama dihidupkan kembali oleh Prabowo. Kebijakan hilirisasi yang diperluas, ambisi swasembada energi, hingga ketahanan pangan total adalah sinyal jelas kepada dunia:
Indonesia tidak lagi sekadar menjual tanah airnya secara murah untuk memakmurkan bangsa lain. Namun, sejarah juga mengajarkan kita bahwa kemandirian selalu memicu kegeraman global.
Ketika Soeharto mulai enggan tunduk pada syarat-syarat berat IMF yang mencekik kedaulatan bangsa pada akhir 1990-an, seketika itu pula kekuatan finansial barat "menghukum" Indonesia lewat spekulasi mata uang dan pasar modal.
Mengapa Amerika dan Sekutunya Geram?
Bagi Washington dan negara-negara sekutunya, Indonesia yang mandiri adalah sebuah anomali yang berbahaya.
Selama puluhan tahun, tatanan ekonomi global dirancang agar negara-negara kaya sumber daya alam seperti kita tetap menjadi pemasok bahan baku mentah.
Ketika Prabowo menegaskan bahwa Indonesia harus mengolah kekayaannya sendiri dan berhak menentukan mitranya tanpa perlu meminta restu dari barat, kenyamanan para raksasa global ini terusik.
Mereka kehilangan kontrol, kehilangan akses terhadap bahan baku murah, dan yang paling krusial, mereka kehilangan pengaruh hegemoninya di kawasan Asia Tenggara.
Pasar Saham Sebagai Senjata Tekanan Psikologis
Di sinilah korelasi antara merahnya IHSG dan geopolitik itu terjadi. Pasar saham kita, suka atau tidak, masih sangat sensitif terhadap pergerakan modal asing (foreign capital).
Ketika sebuah pemerintahan menunjukkan sikap nasionalisme yang kuat dan menolak untuk disetir oleh kepentingan asing, para investor global sering kali menggunakan capital outflow (penarikan modal) sebagai senjata. Mereka menciptakan kepanikan artifisial di pasar saham.
Tujuannya jelas:
memberikan tekanan psikologis kepada pemerintah agar melunakkan kebijakannya dan kembali "tunduk" pada aturan main barat.
Warna merah di papan bursa adalah bentuk "protes" dari sistem kapitalisme global yang geram melihat Indonesia yang mulai berani mendongak dan menatap setara negara-negara adidaya.
Kita harus memilih cara pandang. Kita bisa ikut panik melihat IHSG yang memerah seolah-olah ekonomi kita sedang runtuh, atau kita bisa melihatnya dengan kepala tegak sebagai bagian dari perjuangan merebut kedaulatan yang sejati.
Menjadi bangsa yang merdeka secara politik itu mudah, tetapi menjadi merdeka secara ekonomi membutuhkan keberanian ekstra. Jika warna merah di IHSG hari ini adalah harga yang harus dibayar agar anak cucu kita kelak menikmati hasil bumi Indonesia seutuhnya bukan dinikmati oleh korporasi di New York atau London maka itu adalah harga yang sangat layak untuk dibayar.
Indonesia sedang bersiap untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Dan riak di pasar saham hanyalah ujian kecil bagi sebuah bangsa yang sedang bergerak menjadi raksasa baru dunia.